by

Lies Marcoes dan Perjuangan Memerdekakan Kaum Perempuan

Oleh: Budhy Munawar Rahman

 

Judul buku : Merebut Tafsir

Penulis : Lies Marcoes

Penerbit : Amongkarta, Februari 2021

 

Dewasa ini budaya patriarki masih langgeng berkembang di tatanan masyarakat Indonesia. Budaya ini dapat ditemukan di berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, budaya, pendidikan, hingga hukum sekalipun.

Budaya tersebut menjadikan adanya ketidaksetaraan gender yang memposisikan laki-laki sebagai pihak yang kuat, dan berkuasa, dari pada perempuan. Sistem patriarki yang mendominasi kebudayaan mendorong terbentuknya kesenjangan dan ketidakadilan gender, yang mempengaruhi berbagai bidang dan aspek kegiatan manusia. Sehingga posisi dan peranan laki-laki memiliki porsi yang lebih besar dan dominan dibandingkan posisi perempuan.

Patriarki yang berakar kuat di sistem nilai masyarakat tak jarang menyebabkan perempuan bahkan tidak menyadari berbagai bentuk diskriminasi dan peminggiran yang dialaminya. Hegemoni “kekuatan tak terlihat” menyebabkan sulitnya memerdekakan perempuan dari kungkungan pemikiran patriarki.

Hal ini terjadi karena secara terus menerus sepanjang hidupnya, perempuan “dicekoki” dengan narasi dan makna yang mengatur bagaimana perempuan harus hidup dan melakukan interaksi sosial. Kebijakan negara yang telah berpihak pada perempuan pun tak serta merta mampu mengalahkan kekuatan narasi dalam sistem nilai.

Hal ini menyebabkan perempuan ditempatkan pada posisi subordinat atau inferior terhadap laki-laki dan tidak diikutkan dalam pembentukan pranata sosial. Laki-laki memiliki kontrol yang lebih besar dalam masyarakat terutama dalam keluarganya, sedangkan perempuan hanya memiliki pengaruh yang kecil dan memiliki suara yang lemah dalam masyarakat dan keluarganya.

 

Penyumbang Literatur Feminis

Buku “Merebut Tafsir” karya Lies Marcoes, menjadi penyumbang literatur feminis di mana pengalaman dan perasaan perempuan menjadi sumber pengetahuan tak terbantahkan. Buku ini mengajarkan kepada kita, utamanya kaum perempuan, bagaimana mengekspresikan kebebasan berpikir memalui tulisan guna memenangkan pertarungan narasi dan makna dalam ruang pikiran dan perasaan, agar lebih adil dan beradab kepada semua manusia.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, “merebut” merupakan kata kerja aktif yang salah satunya bermakna “memperoleh sesuatu dengan susah payah”. Dalam hal ini, buku Merebut Tafsir memang sedang mencoba memenangkan pertarungan narasi dan makna dalam kehidupan sosial yang semakin rumit dan membingungkan. Pertarungan ini tidak selalu adil dan berimbang khususnya ketika sudut pandangnya yang berbeda dengan mainstream dan melawan arus berpikir orang kebanyakan.

Baca Juga: Cak Nur, Pembaruan Islam dan Generasi Setelahnya

Analisa feminis dalam “Merebut Tafsir” bagi sebagian orang akan dinilai sesat dan kontroversial. Sementara itu, kata tafsir mempunyai makna “upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yang kurang jelas”. Tafsir secara umum dipahami sebagai bagian dari narasi religi khususnya Islam terkait penjelasan ayat-ayat suci Alquran.

Lies Marcoes menggunakan kata ini untuk menegaskan landasan religi di mana dia berada yaitu Islam. Cita-cita Islam adalah kesetaraan, termasuk bagi perempuan. Makanya, Lies menilai kaum hawa dan Islam adalah dua elemen yang tak terpisahkan untuk diperjuangkan.

Nama Lies Marcoes sendiri tak pernah absen dari perbincangan soal wacana dan gerakan perempuan Islam. Ia disebut sebagai salah satu ahli Indonesia di bidang gender dan Islam. Lies berperan merintis gerakan kesetaraan gender dengan menjembatani perbedaan antara feminis muslim dan sekuler. Selain itu, ia juga mendorong kaum feminis untuk bekerja mewujudkan kesetaraan gender di bawah Islam.

Lies juga menjadi pencetus lahirnya program fiqh-an-Nisa di LSM yang aktif mempromosikan kesehatan reproduksi perempuan dan wacana Hak Asasi Manusia pada komunitas muslim tersebut. Fiqh-an-Nisa fokus membahas teologi perempuan dengan mengembangkan isu kesehatan dan hak-hak reproduksi perempuan dalam Islam.

Menurut Lies, perempuan dan Islam adalah dua hal yang tidak dipisahkan. Ia mengatakan bahwa Islam yang tumbuh di dalam tradisi budaya Indonesia berbeda dengan Islam di wilayah lain seperti Afrika atau Afghanistan. “Islam di Indonesia tumbuh dalam dua keping lahan, saya kira.

Satu, perlawanan terhadap kolonialisme yang Islamnya menjadi Islam kiri karena perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Kedua, culture Indonesia walaupun dari masyarakat agraris, masyarakat pedagang, masyarakat kelas yang dipengaruhi oleh kolonialisme jadi elite sekuler, itu memberi ruang, tempat, posisi yang bagus pada perempuan dibandingkan di wilayah-wilayah Islam lain,” kata Lies.

Islam di Indonesia, lanjut Lies, adalah Islam jalan tengah atau moderat yang cukup memberi ruang pada pemahaman yang inklusif. Makanya, kesempatan perempuan untuk eksplorasi dan berkiprah di ruang publik cukup besar. Hal ini didukung pula oleh kultur masyarakat Indonesia yang memberi tempat terutama di sektor informal bagi perempuan.

 

Penentu Arah Islam di Masa Depan

Lies, meyakini bahwa di era demokrasi, gabungan antara pengalaman masa lalu, Islam moderat, dan kultur orang Indonesia mampu menjadikan perempuan sebagai penentu arah Islam di masa depan. Tapi, Lies tak memungkiri bahwa agama kerap menjadi pembenaran tindakan kekerasan pada perempuan. Selain itu, posisi mereka terkadang terpinggirkan ketika berhadapan dengan agama.

Lies mencontohkan, bahwa salah satu warisan Taliban kepada dunia adalah “talibanisasi perempuan”. Mereka berupaya merumahkan perempuan dengan dasar pandangan keagamaan bahwa perempuan sumber fitnah. Perempuan dianggap muasal kekacauan  sosial dan moral di ruang publik.

Gagasan talibanisasi perempuan, karenanya berusaha merumahkan perempuan atau membatasi ruang gerak mereka melalui simbol seperti  burqa   atau dengan  ideologi moral bahwa perempuan harus tunduk kepada kehendak patriarki yang meyakini perempuan sebagai sumber masalah.

Kesalahan perempuan antara lain mereka telah menyeberang ke ruang publik dengan peran-peran non-tradisionalnya yang mengguncang relasi subordinatif berbasis akidah yang telah mapan. Solusi ideologis mereka adalah memperbaiki persoalan moral masyarakat  dengan mengatur kembali perempuan dalam bertingkah laku di ruang publik atau memaksa mereka kembali tinggal di rumah.

Dalam buku ini Lies mengisahkan bagaimana seorang artis, Nicky Astria dalam sebuah pertunjukan menyatakan terimakasihnya kepada sang suami, karena telah mengizinkannya untuk kembali naik panggung.  Ketika ia ucapkan satu kali, Lies menganggap itu sesuatu yang wajar, namun ketika ia mengulangnya sampai lima kali, ia merasa ada pesan yang ingin ia sampaikan kepada publik, yakni; kunci terselenggaranya konser itu, karena ia mendapatkan izin dari suami.

Lies merasa, ungkapan yang berulang itu bukanlah sebuah permintaan izin yang bersifat kepantasan saja, melainkan sebuah ungkapan yang berbasis pada keyakinan yang bersifat teologis. Izin suami dalam kajian hukum keluarga Islam biasanya terkait dengan dua hal: pertama izin untuk menjalankan ibadah, kedua izin untuk bepergian.

 

Cara Pandang Jadi Penentu

Dalam kaitannya dengan izin beribadah, terdapat hadis yang kemudian dimaknai sebagai keharusan perempuan meminta izin suami dalam menjalankan ibadah (sunahnya), seperti shalat malam dan puasa sunah.

Pasalnya, menurut Lies, ibadah-ibadah itu bisa menghalangi akses suami atas haknya untuk mendapatkan layanan seksual istrinya.  Sementara permintaan izin lainnya, terkait keharusan perempuan tinggal di rumah dan karenanya jika ia keluar rumah bahkan untuk menengok orang tua yang sakit sekali pun, harus seizin suami.

Meskipun sumber rujukannya sama, yakni Alquran dan hadis, sudah barang tentu perspektif atau cara pandang tentang kedudukan istri akan berpengaruh kepada cara menafsirkannya. Misalnya perspektif tentang bagaimana perempuan diposisikan dan dipersepsikan; siapa gerangan “pemilik” si perempuan setelah ia menikah: apakah perempuan dianggap “hak milik” suami, atau dianggap sebagai “mitra suami”.

Dua pesepsi itu akan menghasilkan pandangan yang sangat jauh berbeda dan bertolak belakang dalam implementasi soal perizinan itu.

Perspektif pertama yang menganggap perempuan adalah hak milik suami, karena suami telah membayar mahar, maka makna izin itu bersifat syariat mutlak. Izin itu dimaknai sebagai satu paket kewajiban istri kepada suami. Sebaliknya, dari sisi suami, sebagai bentuk kontrol lelaki atas perempuan, karena perempuan adalah properti lelaki dunia akhirat. Sedangkan perspektif kedua, berangkat dari anggapan bahwa perempuan adalah mitra, dan karenanya permintaan izin itu, meskipun dengan landasan teologis, di dalamnya terdapat ruang negosiasi.

Lies juga merespon Aa Gym yang dengan gagahnya ingin menunjukkan bukti cintanya dengan The Nini, istri pertamanya, dengan menyatakan. “Hanya saya, suaminya yang mencintainya. Ini buktinya, selama berumah tangga, istri saya sudah “turun mesin” tujuh kali”.

Menurut Lies, dalam studi gender setidaknya tiga hal yang dapat dipakai untuk menganalisis pernyataan Aa Gym. Pertama analisis bahasa. “Turun mesin” adalah istilah yang menyamakan istri dengan kendaraan bermesin seperti mobil. Bayangkan! konsep apa yang ada di benak seorang suami jika istrinya dianalogikan seperti kendaraan. Mobil tua, bisa dikoleksi atau dijual lagi lalu menukarnya dengan yang baru.

Kedua, kita dapat melihatnya dari isu-isu hak reproduksi. Itu adalah hak  yang disepakati oleh komunitas dunia (Konferensi ICPD Kairo 1994). Bab  tentang akankah dan kapankah perempuan hamil menjadi salah satu hak yang mutlak dilindungi. Menyertai hak itu, perempuan harus  mendapatkan informasi yang benar, dan dilayani keputusannya, baik oleh suaminya atau oleh negara.

Namun pernahkah kita mendengar perempuan yang tak mampu menolak  untuk hamil? Misalnya karena pasangannya super malas menggunakan kondom atau tak mau tahu kalender masa subur si istri sementara ia  mengharamkan KB.

 

Islam dan Kesehatan Reproduksi

Dalam kajian Islam dan kesehatan reproduksi, Imam Ghazali di awal abad ke 12, telah menetapkan prinsip perlindungan hak asasi manusia yang juga meliputi hak reproduksi. Dalam konsep daruriatul hams, lima prinsip dasar untuk perlindungan manusia, Imam Ghazali menetapkan hak berketurunan (hifdun nasl) yang harus dipenuhi demi menjaga kehidupan (hifdun nafs).

Dalam konteks itu Imam Ghazali memperkenalkan etika berhubungan seks yang antara lain dengan konsep “azl”, kontrol pada lelaki untuk mengatur ejakulasinya dengan tidak melanggar hak istri  dalam menjalankan fungsi reproduksinya dengan nyaman dan aman.

Ketiga, dalam studi tentang KDRT, anak banyak dapat ditelisik dari adanya kemungkinan siklus kekerasan. Dalam siklus itu, pertama, istri tak punya kontrol atas rahimnya sendiri, kedua, ini yang sangat berbahaya tapi jarang disadari yaitu adanya siklus kekerasan yang mengiringi kehamilan demi kehamilan.

Lies tak menyangkal bahwa setiap kelahiran merupakan bukti cinta pertaruhan nyawa seorang ibu, tapi kelahiran anak sama sekali bukan penanda cinta mati suami kepada istrinya. Apalagi jika setiap kelahiran anaknya hanya dianggap sebagai turun mesin.

Lies mengungkapkan di antara sekian banyak hadis-hadis yang sanadnya melalui Aisyah, tentu kita dapat mencari tahu soal prilaku Nabi kepada perempuan. Dari hadis Aisyah, misalnya, kita mendapatkan gambaran tentang sikap Nabi yang santun, tidak memaksa, mendengarkan, mengakomodasi pendapat pandangan dan bahkan protes kaum perempuan agar mengakhiri kekerasan suami terhadap istrinya. Atas “peran”nya itu, oleh kalangan feminis Muslim, Aisyah disebut-sebut sebagai seorang feminis.

Bagi kalangan feminis, terutama yang menekuni kajian hadis dan sejarah Islam di periode awal, melihat Aisyah r.a. adalah sebagai teladan yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang sederajat dengan lelaki dalam menerima amanah sebagai perawi hadis. Aisyah adalah contoh perempuan yang bisa memimpin peperangan untuk menegakkan hal yang ia percayai sebagai kebenaran, Aisyah adalah teladan dalam menolak perkawinan paksa, Aisyah adalah inspirasi positif bagi kaum feminis Muslim yang meyakini perempuan berhak atas pendidikan dan untuk pintar seperti Aisyah.

Bagi kaum feminis di negara-negara mayoritas Islam, mereka berjuang dengan agenda mereka sendiri: mengatasi buta huruf, menghentikan praktik sunat, kawin usia anak, mengatasi larangan keluar rumah setelah mencapai usia tertentu, menolak pemaksaan memakai pakaian berdasarkan aturan yang didakukan sebagai kewajiban mutlak, menolak pemasangan kontrasepsi di luar kepentingan tubuh dan kesehatannya, menolak larangan bersekolah dan larangan ikut ngaji di pesantren. Dalam sejarah pesantren, baru tahun 1924 perempuan di lingkungan pesantren boleh ikut ngaji kitab di luar baca Al Quran.

Berkat RA Kartini pula, kaum perempuan secara historis mendapatkan kesempatan pendidikan. Gagasan emansipasi itu diteruskan oleh sejumlah tokoh pergerakan dan pendidikan seperti R. Dewi Sartika, Rohana Koedoes dll. Di Muhammadiyah dan NU, pintu pendidikan dibuka bagi perempuan. Bahkan mereka yang kini menolak feminisme pun menerima manfaat dari pejuangan para perintis persamaan hak dalam pendidikan bagi kaum perempuan.

 

Cerita dan Pengalaman Keseharian

Buku setebal 300 halaman ini umumnya didasari cerita dan pengalaman keseharian kehidupan sosial, maupun gejolak perasaan Lies terhadap suatu peristiwa aktual sosial politik dan ekonomi yang sedang berlangsung. Buku ini penting dibaca, khususnya oleh kaum perempuan dan kelompok-kelompok marginal agar dapat dengan mudah melihat dirinya dalam tafsir yang ingin direbut Lies melalui berbagai tulisannya.

Lies Marcoes menempuh pendidikannya di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dengan mengambil fokus studi perbandingan agama. Ketika Lies lulus dari universitas tersebut dirinya melanjutkan studi masternya dengan studi yang sama sekali berbeda. Lies mengambil jurusan antropologi kesehatan di Universitas Amsterdam (Belanda). Setelah Lies lulus dan kembali ke Indonesia dirinya masih setia dengan dunia aktivisme nya yang telah ditekuni selama studi di Jakarta. Dirinya menjadi seorang aktivis feminis muslim indonesia yang menekuni bidang antropologi medis.

Lies juga tercatat aktif menjabat sebagai Direktur Yayasan Rumah Kita Bersama atau biasa disingkat dengan Rumah Kitab. Lies Marcoes pada perjalanan selanjutnya juga memiliki peran yang sangat penting di dalam mempromosikan kesetaraan Gender di indonesia. Dirinya membantu memberikan jembatan antara muslim dan feminis sekuler yang selama ini terdapat semacam jurang dalam di antara keduanya.

Lies juga aktif mendorong seluruh feminis untuk dapat bekerjasama dengan islam dalam mempromosikan kesetaraan gender. Melalui berbagai usahanya selama ini dirinya telah memberikan banyak kontribusi dalam perubahan cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan perempuan dalam islam.

Banyak pemikiran Lies yang dipengaruhi oleh gurunya yaitu Prof. Harun Nasution, yang mengajarkan dirinya banyak hal khususnya dalam hal berpikir bebas dan kritis serta memahami dan menyadari bahwa sebenarnya islam dapat dipahami dari berbagai perspektif yang berbeda.

 

Dr. Budhy Munawar Rahman,  pengajar STF Driyarkara Jakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed