by

LDII Bali Gandeng Pecalang Bagikan Daging Kurban ke Warga Muslim dan non Muslim

Kabar Damai  | Kamis, 22 Juli 2021

Denpasar | kabardamai.id | Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Bali menggelar penyembelihan hewan kurban di seluruh titik kantor LDII yang ada di Bali pada Selasa, 20 Juli 2021. Dimana pada tahun ini, pihak LDII menyembelih sebanyak 107 ekor sapi dan 190 ekor kambing untuk di seluruh Bali.

Melansir Tribun-Bali.com, Pada pelaksanaan Idul Adha tahun ini pihaknya membagikan sebanyak 12 ribu paket daging kurban di seluruh Bali.

Jumlah ini bertambah dari tahun lalu sebanyak 10 ribu paket. Untuk satu paket daging memiliki berat 1 kg.

Salah satu tempat penyembelihan dilaksanakan di Sekretariat LDII Provinsi Bali, Padangsambian Denpasar, Bali. Di lokasi ini disembelih sebanyak 6 ekor sapi dan 10 kambing.

Baca Juga: Orang Mampu tapi Tidak Berkurban, Bagaimana?

Penyembelihan ini melibatkan 30 orang panitia dengan 3 orang juru belih hewan (Juleha) yang sudah bersertifikat dari MUI dan Dinas Kesehatan. Sementara untuk seluruh wilayah di Denpasar disembelih sebanyak 57 sapi dan 109 ekor kambing.

Sumber Foto: ANTARA

Ketua DPW LDII Provinsi Bali, Haji Hardilan mengatakan selain di kantor cabang, beberapa juga melakukan pemotongan langsung di Rumah Potong Hewan (RPH).

Sementara itu, kurban tahun ini mengangkat tema ‘Ketauhi dan dan Berbagi dengan Sesama’.

“Kami saat ini lebih besar arahkan ke pemotongan sapi. Sementara kambing berkurang dari sebelumnya,” katanya.

Nantinya untuk pembagian daging kurban pihaknya melibatkan Pecalang dan pihak desa/lingkungan sekitar. Dengan ini tidak akan menimbulkan kerumunan saat penerapan PPKM Darurat ini.

Dibagikan ke Warga Muslim dan Non Muslim

Daging ini dibagikan kepada masyarakat tanpa memandang suku agama dan ras.

“Seluruh sektor tidak pandang agama, masyarakat sekitar, yayasan yang menyampaikan permohonan kami bagikan,” ujarnya.

Hewan yang disembelih pun harus memenuhi persyaratan mulai dari halal, sehat, tidak cacat, serta higienis.

“Untuk kantor cabang yang tak memiliki Juleha, penyembelihan dilakukan di RPH,” katanya.

Sementara itu, salah seorang Juleha, Haji Yulian Setiawan mengatakan sebelum memperoleh sertifikat dirinya harus melewati beberapa tahapan pelatihan. Setelah itu barulah dirinya memperoleh sertifikat dari MUI dan Dinas Kesehatan.

“Dalam penyembelihan ini kami harus sesuai dengan syariat agama Islam. Diawali dengan doa sebelum menyembelih,” katanya.

Selanjutnya dalam penanganan daging juga harus bagus, tidak boleh bercampur dengan kotoran.

Di kawasan Padangsambian, Denpasar, Bali, warga muslim juga memberikan daging kurban kepada warga beragama Hindu pada Hari Raya Idul Adha 1442 H. Daging hewan kurban di wilayah itu dibagikan kepada ribuan masyarakat baik yang beragama Islam maupun non Islam sebagai wujud persatuan dan kerukunan antar umat beragama yang ada di Bali.

Boleh Bagikan Daging Kurban Kepada Nonmuslim

Mengutip kolom tanya jawab di laman resmi LPPOM MUI yang diasuh oleh Maulana Hasanuddin, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat dan Sholahudin Al-Aiyubi, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, dalam Al-Qur’an tidak ada dalil yang menetapkan secara khusus mengenai kelompok-kelompok yang berhak mendapatkan jatah daging kurban. Tetapi, di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang yang berkurban wajib membagikan hasil kurbannya kepada orang-orang di sekitar.

“Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al Hajj, 22: 28).

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh Sunnah telah menyebutkan dengan jelas mengenai pembagian hewan kurban. Pertama, si pemilik hewan kurban dibolehkan makan bagian yang dibolehkan baginya sesuai dengan keinginannya masing-masing. Kemudian, ia boleh menghadiahkan dan menyedekahkan sebagian sesuka hatinya.

Dari kelompok-kelompok yang ingin dibagikan daging hasil kurban terutama kaum fakir miskin, tidak ada aturan khusus yang menetapkan bahwa mereka harus beragama Islam.

Pembolehan memberikan daging kurban kepada non muslim juga dapat kit abaca dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, serta Madzhab Syafi’i. Berikut keterangan dalam kitab Nihayatul Muhtaj.

“Apabila seseorang berkurban untuk orang lain atau ia menjadi murtad, maka ia tidak boleh memakan daging kurban tersebut sebagaimana tidak boleh memberikan makan dengan daging kurban kepada orang kafir secara mutlak. Dari sini dapat dipahami bahwa orang fakir atau orang (kaya, pent) diberi yang kurban tidak boleh memberikan sedikitpun kepada orang kafir. Sebab, tujuan dari kurban adalah memberikan belas kasih kepada kaum Muslim dengan memberi makan kepada mereka, karena kurban itu sendiri adalah jamuan Allah untuk mereka. Maka tidak boleh bagi mereka memberikan kepada selain mereka. Akan tetapi menurut pendapat ketentuan Madzhab Syafi’i cenderung membolehkanya,” (Lihat Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut, Darul Fikr, 1404 H/1984 M, juz VIII, halaman 141).

Adapun argumen lain yang memperbolehkan memberi daging untuk umat agama lain yakni berkurban sebagai bentuk sedekah. Sedangkan tidak ada larangan memberikan sedekah untuk orang-orang tersebut.

Dengan demikian maka membagikan daging kurban kepada warga nonmuslim diperbolehkan. Karena status hewan kurban sama dengan sedekah ataupun hadiah.

Praktik pemberian daging kepada non-Muslim justru menandaskan bahwa Islam benar-benar agama yang rahmatan-lil-alamin, rahman bagi alam semesta. Ini sejalan dengan adanya konsep persaudaraan dalam Islam, yakni ukhuwah insaniyah atau ukhuwah basyariyah, persaudaraan sesame manusia. [tribun-bali/lppom-mui]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed