by

Lawan Ideologi Transnasional dengan Komitmen Beragama dalam Bingkai NKRI

Kabar Damai I Minggu, 19 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Paparan ideologi transnasional terbukti banyak menimbulkan kekisruhan di Indonesia. Sejumlah kelompok yang terkontaminasi ideologi tersebut kerap membuat kegaduhan dengan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan budaya Indonesia. Terutama kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama untuk menghalalkan tindakan-tindakan tidak terpuji mereka.

Melansir Pusat Media Damai BNPT, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Kebangkitan Bangsa KH Maman Imanulhaq mengungkapkan, paparan dan serangan kelompok pengusung ideologi transnasional tidak boleh dikesampingkan.

Untuk membendung ideologi transnasional, bangsa Indonesia harus terus memperkuat komitmen beragama dan bernegara dalam satu nafas yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Beragama dan bernegara dalam konsep NKRI memang harus memiliki satu nafas, bahwa orang yang memiliki komitmen keagamaan yang kuat, ia pasti mencintai Indonesia. Sebaliknya ia yang menjadi warga negara Indonesia, dia akan memiliki keyakinan agama sesuai yang diyakini,” ujar Kang Maman di Jakarta, Jumat, 17September 2021, dikutip dari damailahindonesia.com (17/9).

Maka, lanjut Maman, ketika dua komitmen itu luntur dimana komitmen keagamaan ketika orang menganggap bahwa dirinya paling benar dan orang lain salah, maka muncullah kelompok-kelompok yang justru ingin membuat kegaduhan, bahkan melakukan diskriminasi serta kriminalisasi sekelompok orang lain yang berbeda.

“Padahal komitmen keagamaan mengharuskan kita untuk selalu mengasihi siapapun orang walaupun dia berbeda. Dengan kita meyakini bahwa Tuhan Itu satu, maka kita wajib bersatu, Tuhan itu tunggal maka kita wajib manunggal dengan tetap menghargai adat istiadat dan budaya,” terangnya.

Baca Juga: Spirit Religiusitas Pondasi Kuat untuk Jaga Ideologi Pancasila

Begitu pula dengan komitmen kebangsaan, ia mengatakan bangsa Indonesia sudah terlahir menjadi bangsa yang memang beragam tapi disatukan dalam sebuah ikatan bernama Indonesia. Dengan demikian, tidak ada orang atau kelompok yang disebut mayoritas atau minoritas.

“Tidak ada orang yang dianggap sebagai orang lain semuanya satu dengan jiwa Indonesia,” tanda pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Majalengka, Jawa Barat ini.

 

Keragaman Jadi Modal Terbentuknya Indonesia

Menurut Maman, keragaman di Indonesia justru menjadi modal besar terbentuknya Indonesia. Itu menunjukkan bahwa Indonesia bukan untuk satu kelompok dan bukan untuk satu golongan. Sebagai Indonesia, seluruh bangsa harus saling toleransi antar umat beragama. Artinya saling menghormati dan menghargai serta saling mencintai Indonesia akan menjadi lebih kuat.

Ia menilai rasa saling menghormati dan ikatan persaudaraan antar anak bangsa justru akan membuat kehidupan beragama akan semakin indah.

“Kalau hari ini ada orang yang masih terganggu dengan keadaan orang lain, berarti dia terganggu akidahnya, terganggu keyakinannya. Dan kalau pun kita tidak satu agama, kita masih satu bangsa, bahkan kalau kita bukan satu bangsa, kita masih satu manusia. Maka nilai kemanusiaan itulah yang kata Sayyidina Ali harus dikuatkan antara sesama,” paparnya.

Kang Maman melihat saat ini ada dua kelompok yang bahaya bagi kedamaian dan keutuhan Indonesia. Pertama kelompok transnasional dan transaksional. Kelompok transnasional mencoba untuk membawa ideologi secara mendunia tapi melupakan aspek lokal berupa kearifan lokal, merupakan nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.

“Mereka selalu memperlihatkan transnasionalnya tapi dia melupakan budaya luhur yang kita miliki,” tandasnya.

Kedua, kata Kang Maman, kelompok transaksional adalah mereka yang dibayar untuk mengganggu Indonesia dan untuk mengganggu ukhuwah serta kebersamaan bangsa. Kelompk ini juga mengganggu hubungan antar umat beragama yang selama teranjut dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Maman menilai, salah satu penyebab dari munculnya ideologi-ideologi kekerasan dengan mengatasnamakan agama itu, diperparah dengan keberadaan media sosial . Ia menilai media sosial sangat dahsyat ‘menghantam’ jantung-jantung kebersamaan bangsa lewat hoaks, fitnah, bully dan sebagainya.

Untuk itu, ia mengajak seluruh anak bangsa untuk menguatkan kembali literasi keagamaan yang moderat atau moderasi agama. Menurutnya, literasi dan moderasi agama menjadi kata kunci untuk menguatkan kembali ukhuwah.

“Kita juga harus mengukuhkan kembali semangat nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia dan meyakini bahwa Indonesia akan maju dengan spirit agama-agama yang ada untuk dijadikan energi dalam menciptakan perdamaian dan persaudaraan yang abadai,” pungkasnya.

 

Peran Generasi Muda

Sementara itu, terpisah, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid menyampaikan pentingnya generasi muda dalam membangun wawasan kebangsaan sangat penting untuk ditanamkan.

Sebagai ujung tombak bangsa di masa yang akan datang, maka sudah semestinya generasi muda menyadari tanggung jawab yang besar sebagai penerus bangsa. Tidak hanya mampu menguasai bidang akademis, namun generasi muda juga harus berani membangun kapasitas wawasan kebangsaan.

Hal itu terkait dengan kesadaran generasi muda yang memang harus menyadari tanggung jawabnya untuk terus memegang tonggak estafet perkembangan bangsa dan negara.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pencegahan BNPT.saat menjadi narasumber secara daring pada seminar bertema “Pendidikan Gerakan Anti Radikalisme” pada Program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru yang diadakan oleh Universitas Sari Mutiara Medan pada Rabu (15/9/2021).

“Saya berpesan kepada adik-adik mengenai bagaimana pentingnya peran generasi muda didalam mencegah potensi radikal terorisme. Terlebih generasi muda saat ini adalah generasi milenial yang terbuka terhadap berbagai informasi,” ujar Ahmad Nurwakhid.

Alumni Akpol tahun 1989 ini mengingatkan bagaimana kaum milenial memiliki potensi keterpaparan ideologi radicalism.

Oleh karenanya kewaspadaan generasi muda terhadap informasi yang menyangkut kecenderungan terhadap intoleransi harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk individu generasi muda.

“Peran aktif adik-adik mahasiswa dalam menangkal ideologi radikal ini sangat dibutuhkan oleh bangsa, dikarenakan generasi muda merupakan pemain aktif gadget dan internet. Peran aktif generasi muda dalam penggunaan media sosial tersebutlah yang memposisikan generasi muda sebagai garda terdepan untuk mencegah tersebarnya paham radikal yang mengarah pada terorisme,” ujar perwira tinggi kelahiran Sleman, 17 Januari 1968 ini.

Hal tersebut menurutnya bisa dimulai dari kesadaran untuk menangkal berita hoax dan pesan pesan yang mengandung muatan intoleransi yang harus aktif dicegah secara bersama sama.

Kalaupun generasi muda mendapatkan adanya temuan potensi penyebaran ideologi radikalisme tersebut, dirinya berpesan agar generasi muda dapat melaporkannya ke aparatur terdekat seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau bahkan di lingkungan kampus adalah dosen dan juga tokoh masyarakat.

“Peranan anak muda dalam masyarakat cukup kalau ada kejadian peristiwa yang mencurigakan segera laporkan. Dimana ada Babinsa di Koramil, ada Bhabinkamtibmas di Polsek atau mungkin ke dosen atau ke tokoh masyarakat kalau di lingkungan kampus atau tempat tinggalnya,” ujar mantan Kadensus 88/Anti Teror Polda DIY ini.

Untuk itu Nurwakhid mengingatkan bagaimana kewaspadaan dan peran generasi muda agar tidak menjadi masyarakat umum yang diam dan membiarkan tersebarnya paham radikalisme. Selain itu juga bagaimana peran aktif generasi muda juga harus dibungkus dengan cara yang santun, menjadi contoh dengan ajaran budi pekerti dan kebaikan serta menyebarkan kedamaian serta toleransi.

“Anak-anak muda dan masyarakat yang moderat dan menjadi mayoritas ini jangan diam atau jadi silent majority, nggak boleh itu. Semuanya harus militan harus aktif, apa lagi di dunia maya atau di media sosial, harus aktif untuk menangkal ujaran kebencian provokatif adu domba dengan cara-cara yang baik dan santun,” ujar mantan Kapolres Gianyar ini.

juga memberi pesan optimisme bahwa generasi muda adalah generasi yang memiliki sejarah bangsa yang besar, yang mana penerusnya saat ini adalah generasi yang luhur dalam memelihara konsensus nasional bangsa Indonesia.

“Sebagai generasi yang luhur dan hebat kalau kita berpegang teguh memelihara konsensus nasional bangsa Indonesia yaitu menjaga Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa yang bisa memotivasi dan mengintegrasikan, kuncinya adalah Pancasila, NKRI harga mati, dan Indonesia emas ada di punggung generasi muda terutama di anak-anak muda para mahasiswa,” pungkas Nurwakhid. [damailahindnesiaku.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed