by

Laporan Google: Hadapi Pandemi, Masyarakat Indonesia Semakin Dermawan

-Kabar Utama-118 views

Kabar Damai I Kamis, 11 Maret 2021

 

Indonesia | kabardamai.id | Sangat menarik melihat fakta Google menjadi rujukan dan sumber utama banyak orang sekarang. Bahkan, netizen kita menjulukinya sebagai Mbah Google.

Kini, orang, terutama yang terkoneksi dengan internet, tak lagi bertanya kepada orang atau guru lagi, kepada tetapi teknologi yang dibuat manusia sendiri. Mulai dari tentang cara melakukan kegiatan sehari-hari, seperti cara menghabiskan waktu luang, mencari kucing hilang, hingga belajar agama dan filsafat, si Mbah Google telah menjadi ahli utama tempat orang bertanya segala hal.

Jadi, sebenarnya siapa yang berakal? Daripada capek menjawab pertanyaan itu, artikel ini akan mengangkat hasil laporan Google, 2020 Year in Search Indonesia, terkait lima pertanyaan yang paling sering ditanyakan netizen Indonesia selamasatu tahun terakhir.

Laporan yang setidaknya menunjukkan bagaimana perkembangan perilaku masyarakat Indonesia belakangan, sebenarnya ditujukan untuk merancang strategi bisnis dalam melihat pola perilaku konsumen di Indonesia. Namun, laporan ini juga relevan secara perspektif kemanusiaan dan perdamaian, baik untuk diri sendiri maupun sesama.

Dikutip dari tweet akun resmi @Google_IDN, laporan tersebut mengungkapkan, pandemi menimbulkan keinginan orang Indonesia untuk terhubung dengan komunitas mereka yang lebih luas dengan cara saling berbagi. Ini menunjukkan masyarakat Indonesia terus belajar dan tumbuh untuk memahami berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya serta merasa perlu untuk berkontribusi kepada lingkungannya.

 

Berikut spesifikasi lima tren penelusuran yang dilakukan masyarakat Indonesia:

  1. Terkait persoalan individu

Terjadi peningkatan dalam penelusuran kesehatan mental. Hal ini juga membuat orang Indonesia beralih ke internet untuk mencari cara memprioritaskan kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.

Ada sekitar 70% peningkatan dalam penelusuran terkait “kesehatan mental,” peningkatan 55% terkait “apa itu anxiety,” 45% penelusuran “self care,” dan 90% tentang “obat gerd” yang merupakan obat untuk menurunkan produksi asam lambung.

Kemudian, tren penelusuran tahun 2020 juga menunjukkan orang Indonesia mulai mengedukasi diri sendiri terkait isu-isu sosial. Penelusuran meningkat sebanyak 40% untuk “rasisme adalah” dan “black lives matter,” 25% tentang “gender equality.”

 

  1. Membuat tujuan yang lebih bermakna

Di tengah ujian krisis global saat ini, terutama saat dihadapkan dengan kebiasaan konsumsi selama lockdown, orang Indonesia menilai kembali dampaknya terhadap lingkungan serta mencari cara untuk dapat berbuat lebih banyak untuk komunitas dan lingkungan mereka.

Tren penelusuran yang meningkat di antaranya, terkait bebas plastik sebanyak 33%, kenaikan 170% terkait “reusable cup” dan “reusable mask,” dan 90% berkenaan dengan “plant-based diets.

Kemudian, seperti banyak kasus yang terjadi di mana-mana, jaga jarak sosial dan isolasi membawa keinginan untuk terhubung dengan komunitas kita yang lebih luas dengan memberi kembali (giving back).

Penelusuran oleh netizen Indonesia terkait “tenaga medis” juga meningkat dengan berbagai varian penelusuran seperti, “apresisai untuk tenaga medis,” “lagu untuk tenaga medis” dan sebagainya. Lalu, berkenaan dengan “menyumbangkan” meningkat hingga 150% dibandingkan dengan penelusuran di tahun sebelumnya yang hanya 15%. Lebih tinggi, penelusuran “paket sembako” meningkat hingga 200%.

Tak hanya itu, situasi sulit sekarang juga membuat orang Indonesia memilih untuk mendukung bisnis di Indonesia dan membeli produk lokal untuk menjaga perekonomian tetap berjalan. Ada peningkatan penelusuran 95% tentang “buatan indonesia,” dan 70% terkait “produk lokal.”

 

Baca juga: Pandangan Positif Agama Tentang Pandemi Covid-19

 

  1. Efisiensi dan produktivitas diri

Kerja dari rumah (KDR ) atau work from home (WFH) dan belajar dari rumah membuat batas antara peran profesi dan personal dan waktu belajar semakin ngeblur dan memunculkan tantangan baru. Untuk mengatasinya, banyak orang di seluruh Indonesia yang melakukan penelusuran cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar dan kerja barunya.

Ada peningkatan penelusuran terkait “lagu untuk belajar” sebanyak 60%, “lagu untuk kerja” 130%, “home office” 50%, “translate english to indonesia text” 70%, “cara produktif” 140%, “voice typing” sebanyak 210%, “e-learning” 180%, “homeschooling” 60%, dan “google classroom” sebanyak 270%.

Lebih lanjut, ada juga peningkatan penelusuran terkait “konflik keluarga” sebanyak 80%, “parental control” 30%, dan peningkatan “kegiatan anak di rumah” sebanyak 330% untuk mengakali anak-anak supaya bisa sibuk dan tidak bosan di rumah hingga tidak menggangu orangtuanya bekerja.

 

  1. Melepaskan stres

Mengingat terbatasnya pilihan hiburan dan rekreasi serta tantangan yang dihadapi banyak orang dalam kehidupan sehari-hari selama pandemi, orang Indonesia mencari alternatif waktu istirahat yang memicu kegembiraan dan menciptakan ruang yang aman bagi mereka.

Peningkatan penelusuran terkait hal-hal berikut: 20% peningkatan berkenaan”meditasi,” 105% “podcasts,” “easy recipe” 30%, dan “cara tanam” 55%. Kemudian, selain mencari berbagai cara kreatif untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman, banyak orang juga mencari pertemanan dengan hewan peliharaan.

Ada peningkatan penelusuran terkait “hewan peliharaan” sebanyak 95%, “adopsi kucing” 55%, “ikan cupang” 110%. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki konsentrasi penelusuran konten terkait humor tertinggi dibandingkan negara mana pun di dunia.

 

  1. Merencanakan masa depan

Menjalani kehidupan yang semakin tidak pasti, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai menyadari perlunya meningkatkan keterampilan (skills) dan pengetahuan untuk mengamankan situasi finansialnya.

Peningkatan penelusuran terkait hal-hal berikut: “online course” sebanyak 35%, “cara membuat aplikasi” 20%, “data science” 40%, “digital marketing” 30%, “cara membuka online banking” 20%, “apa dana darurat” 60%, “daftar usaha” 200%, dan “cara buat google bisnisku” 140%.

Dampak pandemi membuat edukasi mandiri tentang kesehatan meningkat dan yang paling menarik adalah peningkatan penelusuran berkenaan manajemen kesehatan yang proaktif dan preventif. Ada peningkatan penelusuran terkait “cara membuat sanitizer,” peningkatan sebanyak 650% terkait “cara mencuci tangan yang benar,” 160% dalam “menjaga kesehatan,” 60% berkaitan “hitung langkah, 100% untuk “sepeda.”

Temuan laporan di atas dapat memberikan kita solidaritas optimisme dalam menghadapi masa krisis ini. Di samping itu, juga mengemukakan sebuah kesadaran terkait diri sendiri dan bagian dari masyarakat.

Seperti yang tercantum dalam laporan tersebut, “pandemi global telah membuat perbedaan kebutuhan, kebiasaan, dan kepercayaan orang menjadi lebih nyata dari sebelumnya. Rangkaian pengalaman unik inilah yang mengingatkan kita bahwa perilaku individu tidak boleh dipengaruhi oleh apa yang dianggap masyarakat tepat/pantas dan tidak pantas.

Sebaliknya, fokusnya harus pada memahami dan merangkul apa yang membuat kita berbeda, dan memprioritaskan kesejahteraan mental dan fisik agar muncul lebih kuat sebagai individu dan masyarakat.”

 

Penulis: Hana Hanifah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed