by

Laki-Laki, Kekerasan Gender dan Feminisme

Kabar Damai | Kamis, 07 April 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Staf pengajar di Departemen Ilmu Politik FISIP UI – Universitas Indonesia dan Pascasarjana Kajian Gender, Dr. Nur Iman Subono menjelaskan bagaimana laki-laki harus terlibat dalam pencegahan kekerasan dan menjadi bagian dari perjuangan feminisme.

Diawal pemaparannya, ia mengungkapkan ada banyak faktor yang dapat menjadi penyebab dari kekerasan terhadap perempuan, namun dapat diambil tiga hal yang cukup besar dalam menjadi penyebab darinya.

Pertama adalah patriarkal, pada masyarakat patriarkal asal katanya adalah ayah yang berkuasa, bukan hal yang salah. Namun saat itu berkembang itu menjadi dominan dan berkembang didalam komunitas dan organisasi dan masyarakat itu menjadi ketimpangan kekuasaan yang menyebabkan kekerasan baik fisik, psikis dan bahkan ekonomi.

Kedua adalah primisif yang dalam masyarakat banyak hal yang berkaitan dengan pelecehan seperti siul dan lain sebagainya banyak masyarakat yang tidak memberikan atensi, membiarkan dan biasa-biasa saja padahal merupakan potensi dalam menciptakan kekerasan.

Ketiga adalah privilege, ini terlihat dalam masyarakat seperti laki-laki dalam keluarga dan komunitas memiliki hak-hak istimewa. Hak istimewa ini yang menyebabkan kekerasan karena dianggap adalah haknya dalam melakukan hal tersebut. Hal-hal ini yang menyebabkan kekerasan terhadap perempuan.

Penyebab dan Solusi

Dalam pemaparannya pula, adda banyak cara laki-laki menjadi bagian dari penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Namun yang harus difahami mengapa ia menjadi penting dalam proses penghapusan kekerasan adalah karena ia terlibat.

Pertama adalah adanya paradoks dari kekuasaan laki-laki. Laki-laki umumnya melakukan kekerasan karena adanya kontradisksi dari dalam dirinya. Mereka adalah orang yang tidak percaya diri, kesepian dan ketakutan hingga keluar dan mengekspresikan dirinya agar ia tetap berkuasa dengan melakukan kekerasan.

Baca Juga: Nur Rofiah: Gender Hingga Pernikahan dalam Islam

Selanjutnya adalah pengalaman masa lalu, walaupun tidak selalu namun memperlihatkan bahwa sebagian dari pelaku memperlihatkan pengalaman masa lalu yang traumatik. Ini biasa terbawa sehingga ia melakukan suatu masalah dengan kekerasan.

Adapula karena laki-laki tidak sanggup untuk menjadi laki-laki karena ada standar yang tidak bisa ia penuhi. Sehingga ia tertekan dan muncul dalam ekspresi kekerasan pada mereka yang lebih lemah dan bisa jadi pelampiasan.

Selain itu seringkali ada jarak, laki-laki sering dianggap untuk tidak memperlihatkan ekspresi dan keluh kesah. Ini menjadi dampak seperti kesendirian karena ia mengambil langkah jarak dari keluarganya.

Peranan laki-laki dalam pencegahan hal ini sangat penting untuk dilakukan. Untuk dapat keluar dari masalah tersebut, laki-laki harus berkomunikasi dan berdialog untuk mencari tahu permasalahannya. Selain itu juga harus mencari informasi melalui banyak akses untuk belajar berbagai permasalahan yang kompleks.

Selanjutnya adalah dengan mendengar, serta membuat peer grup dan mengajak lebih banyak orang untuk membincang permasalahan ini. Lalu, tampil dalam bentuk kampanye agar menjadi isu center dan bekerjasamalah dengan berbagai pihak.

Laki-Laki dan Perjuangan Feminis

Menurut Nur Iman Subono, laki-laki harus terlibat dalam perjuangan feminis karena banyak data yang mengungkapkan bahwa pelaku kekerasan adalah feminis. Walaupun tidak semua adalah laki-laki. Sehingga laki-laki yang bukan bagian dari pelaku harus bertanggungjawab dan tidak mengatakan bahwa ia tidak terlibat.

Kedua karena laki-laki biasanya dapat lebih memahami pola dan perilaku dari laki-laki itu sendiri sehingga diharapkan laki-laki dapat memberikan kontribusi dan informasi serta solusi kepada laki-laki yang berkaitan dengan kekerasan.

Terakhir adalah masyarakat khususnya kelompok muda perlu sosok role model anti kekerasan yang peduli pada perempuan dan tidak mengumbar dan menggolrifikasi kekerasan.

“Kita ingin model laki-laki yang harmonis yang kita sebut dengan maskulinitas yang baru. Maskulinitas yang tidak tunggal dan tidak mendominasi kekerasan dan agresif,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed