by

KWI Dukung Konferensi I Analisis Papua Strategis sebagai Upaya Tingkatkan Moderasi Beragama di Papua

-Kabar Utama-150 views

Jakarta | Kamis, 17 Maret 2022

Jakarta | kabardamai.id |  Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Prof Ignatius Kardinal Suharyo mendukung inisiasi Analisis Papua Strategis (APS) yang akan menggelar Konferensi I (Pertama) dengan mengusung tema: “Papua Development Strategy “OTSUS, Strategi dan Implementasi Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Tanah Papua”  pada 28 sampai 30 April 2022.

Menurutnya, konferensi ini adalah Langkah yang baik dalam menumbuhkan peran tokoh agama untuk moderasi beragama dan moderasi narasi Papua.

Mempersatukan Merawat Kebhinnekaan

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Prof Ignatius Kardinal Suharyo
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Prof Ignatius Kardinal Suharyo mendukung inisiasi , Analisis Papua Strategis (APS) yang akan menggelar Konferensi I Analis, Papua Strategis, Rabu (17/03/2022)

“Merawat dan membangun kebinekaan bukan sekadar tantangan politik ataupun tantangan sosial dan ekonomi melainkan imperatif iman, yakni mempersatukan, tentunya Konferensi I Analisis Papua Strategis ini merupakan langkah yang baik untuk merancang strategi pembangunan kesejahteraan di Papua,” ungkapnya, Rabu (16/03/2022).

Selain itu Kardinal Suharyo juga yakin konferensi ini bisa menjadi sarana untuk mereview kembali kebijakan otsus yang sudah 20 tahun tidak berjalan dengan baik. Ia juga meminta APS untuk berkoordinasi langsung dengan Uskup yang ada di Papua, dan mengundang uskup-uskup yang ada di Papua untuk hadir dalam Konferensi I Analisis Papua Strategis.

Perlu Mengundang Uskup di Papua

“Pembicaraan mengenai Papua tentunya juga harus dibicarakan dengan Bapak Uskup Jayapura, Bapak Leo Laba Ladjar.  Dengan begitu beliau bersama tim akan membantu membangun Papua damai dan mempertemukan dengan tokoh yang dahulu mendamaikan Aceh,” jelasnya.

Kardinal Suharyo juga menerangkan bahwa permasalahan terbesar di Papua saat ini adalah kurang berjalannya Yayasan Pendidikan di pedalaman, hal ini tentunya menghambat peningkatan mutu Pendidikan di Papua.

Melalui Konferensi I Analisis Papua Strategis, Kardinal Suharyo juga menginginkan adanya kaderasi terhadap pimpinan di Papua saat ini. Penyuluh masyarakat juga perlu hadir di tengah masyarakat papua.

Pembangunan Kesehatan dan Pendidikan

“Pembangunan di Papua bisa dimulai dengan pembangunan rumah sehat. Faktanya, pembangunan pendidikan dan kesehatan sangat kurang, dan hanya dijadikan projek sedangkan sumber daya manusia tidak diperhatikan,” terang Kardinal Suharyo, menyoroti problematika yang ada di Papua.

Kardinal Suharyo juga menyoroti sinergitas pemerintah yang tidak berjalan baik, menurutnya bupati yang ada di Papua juga tidak berperan baik dalam pembangunan kesejahteraan di papua. Padahal membuat masyarakat papua merasa sejahtera di negeri sendiri adalah faktor penting dalam membangun Papua Damai.

Baca Juga: Catatan Ketua Umum PGI Terkait Konferensi I Analisis Papua Strategis

Melalui Konferensi I Analisis Papua Strategis, Kardinal Suharyo berharap kegiatan ini menjadi langkah yang baik untuk mengabil peran dalam pembangunan Papua 20 tahun ke depan. Masyarakat Papua harus merasa sejahtera di negeri sendiri.

Moderasi Beragama di Papua

Tentunya peran tokoh agama sangat diperlukan dalam mengambil pemikiran jalan tengah dan merangkul masyarakat Papua dengan cara yang moderat. Tokoh agama harus berupaya meningkatkan  moderasi beragama dan moderasi narasi Papua.

Sebelumnya APS dan ICRP juga telah mengunjung Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI).

Dalam pertemuani itu, hasilnya disepakati beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Konferensi I Analisis Papua Strategis nantinya.

  1. Perlu mengundang dan sharing dengan pihak dan komunitas yang peduli dengan Papua
  2. Fokus terhadap output dari empat isu, yaitu perdamaian, pendidikan, kesehatan, serta pengembangan pariwisata di Papua.
  3. Memastikan bahwa rumusan yang disepakati dalam konferensi akan dilaksanakan
  4. Membangun model kampung damai untuk percontohan pembangunan pariwisata di Papua
  5. Memfasilitasi mutu pendidikan dan kesehatan di kampung damai tersebut
  6. Mensinergikan dan mengembangkan komunitas-komunitas pembangunan yang sudah ada di Papua

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed