by

Kunci Melawan Virus Radikalisme adalah Solidaritas Antar Sesama

Kabar Damai | Sabtu, 17 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Saat ini Indonesia sedang menghadapi satu wabah yang juga adalah teror bagi kita yaitu Covid-19. Hasil pembelajaran selama kurang lebih hampir 2 tahun ini, kunci untuk melawan teror wabah ini adalah solidaritas diantara kita untuk saling membantu dan saling mengingatkan satu sama lain. Tidak terkecuali juga wabah radikalisme juga memiliki solusi yang sama untuk mengatasinya.

Melansir laman indonews.id, pendakwah millenial dan Penulis Indonesia, Habib Husein Ja’far Al Hadar, S.Fil.I., M.Ag., mengatakan bahwa wabah virus radikalisme dan terorisme tidak kalah berbahayanya dengan virus Covid-19 dan kunci untuk mengalahkannya adalah solidaritas diantara sesama.

“Di tengah wabah Covid-19 seperti saat ini, justru gerakan-gerakan terorisme secara sunyi dan senyap bisa melakukan koordinasi atau bahkan ancaman ancaman yang serius. Karena itu kita harus tetap waspada dengan terus melakukan berbagai upaya-upaya kontra terhadap radikalisme dan terorisme,” ujar Habib Husein Ja’far Al Hadar di Jakarta, Kamis, 15 Juli 2021.

Baca Juga: Moderasi Sebagai Vaksin Virus Radikalisme

Sehingga menurutnya, sudah sepatutnya untuk menggalang solidaritas saat ini bukan hanya terhadap teror wabah virus Covid-19 tetapi juga teror virus radikalisme dan ekstrimisme yang selama ini terus mengancam di sekitar kita. Karena menurutnya, kelompok radikal dan intoleran ini melakukan paparan kepada masyarakat dengan memasukkan paham radikalisme dan ekstrimisme.

“Maka kuncinya adalah memapar balik mereka dengan konten-konten yang anti pada radikalisme dan terorisme ataupun ekstrimisme melalui konten-konten toleransi, konten-konten perdamaian dan lain sebagainya,” tutur pria yang akrab disapa Habib Ja’far ini seperti dikutip dari siaran pers Pusat Media Damai (PMD) BNPT.

Dirinya meyakini bahwa kelompok moderat yang ada saat ini pasti akan menang. Karena pada dasarnya manusia itu diciptakan dengan penuh cinta. Menurut Habib Ja’far, kuncinya adalah memapar masyarakat dengan konten-konten toleran dari contoh kegiatan sehari-hari.

“Misalnya kalian punya teman yang non muslim, lalu kalian foto bareng atau bikin video bareng lalu disebarkan di media sosial,” terangnya.

Bersama Berbagi Konten Toleransi, Perdamaian

Pria kelahiran Bondowoso, 21 Juni 1988 ini menyebutkan bahwa semua pihak harus bersama-sama share konten-konten yang sudah ada tentang toleransi sampai pada titik tertentu. Titik tersebut yaitu ketika suatu hari ada foto seorang pendeta berjalan dengan seorang Ustaz maka tidak lagi viral karena itu bukan sesuatu yang luar biasa. Justru menjadi hal yang biasa sekali karena mereka telah melihat perbedaan sebagai toleransi dan penuh perdamaian.

“Kalau masih ada foto-foto toleransi yang masih viral, disatu sisi kita sedih karena toleransi masih dianggap sesuatu yang luar biasa. Apalagi kita tahu bahwa kelompok toleran ini mayoritas sebenarnya di Indonesia, namun mereka masih silent,” ucap lulusan Magister Tafsir Qur’an dari  Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah  Jakarta ini.

Ia mengajak agar semua pihak bersama-sama memenuhi media sosial dengan konten-konten yang toleran. Tidak harus yang ribet, tidak  harus pakai HP yang canggih. Karena menurutnya, kalau kita bicara vaksinnya, maka itu adalah metode penyebarannya, ibarat vaksin Covid-19 ini adalah suntikannya, yang mana isi dari suntikan tersebut adalah ideologi yang moderat.

“Oleh  karena itu vaksinnya adalah vaksin ideologi tentang persatuan, perdamaian, toleransi, cinta kasih dan lain sebagainya. Itu yang seharusnya disuntikkan,” jelas Habib Ja’far.

Selain itu, Habib Ja’far mengungkapkan bahwa sebetulnya para pemuka agama, pemerintah serta organisasi keagamaan dapat turut serta melakukan vaksinasi terhadap virus radikalisme. Karena mereka memiliki semua infrastruktur sampai tingkat yang paling bawah. Ia mencontohkan NU, Muhammadiyah ataupun Rabita Alawiyah yang memiliki cabang sampai ranting, minimal sampai tingkat Kabupaten/Kota.

“Maka gunakan semua infrastruktur yang ada itu untuk kemudian menyebarkan nilai-nilai ideologi yang pro-NKRI, yang pro kepada keberagamaan yang morderat dan Cinta Damai,” pungkasnya.

Dakwah di Antara Pemuda Tersesat

Husein Ja’far Al-Hadar adalah habib yang menjadi pengasuh konten dakwah pemuda tersesat. Belakangan  ini namanya sering muncul dalam obrolan dilingkaran diskusi anak muda. Rupanya nama Habib Husein Ja’far sangat populer dikalangan anak muda.

Sebagian dari mereka sangat mengidolakan dengan cara dakwahnya. Pesan-pesan yang disampaikan sangat rasional dan dikemas sangat unik sehingga mudah diterima oleh para pemuda tersesat.

Melansir laman justisia.com, Habib Husein Ja’far Al-Hadar kelahiran Bondowoso, Jawa Timur dikenal sebagai daii milenial. Ia berdakwah dengan anak-anak muda yang sedang asyik berkerumun di medsos. Lewat gaya dakwahnya yang santun melalui tutur katanya yang cenderung lembut, tidak lantang bembentak-bentak, selain itu ia juga berpakain santai seperti anak muda lainya. Ini adalah cara beliau agar pesan pesan keagamaan yang baik dan santun dapat tersampaikan.

Gaya dakwah seperti ini sangat diminati oleh generasi muda, terlebih Habib Husein sangat terbuka dengan pemeluk agama lain. Misalnya ia pernah membuat konten bersama Pendeta Yeri dan sering interaksi dengan Coki Pardede seorang Agnostik.

Perjumpaan Habib Husein dengan orang yang berbeda adalah kabar baik untuk kalangan anak muda di tengah banyak pemuka agama yang saling serang atas nama agama.

Berteman dengan seorang Coki Ad-Dzulumat atau sang kegelapan bukan hal yang mudah. Menurut pengakuan Habib Husein banyak dari oknum temanya nyinyir dengan pertemananya.

Tentunya dalam setiap perjuangan meski ada aral melintang yang mengganggu jalanya agenda. Persahabatan dengan pemeluk agama lain atau tidak beragama sekalipun tidak ada laranganya, seorang nabi pun tentu memiliki pengalaman seperti ini.

Nabi Muhammad SAW datuk dari Habib Husein dan sosok nabi bagi alam semesta sangat hormat terhadap pemeluk agama lain. Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa Aisyah mengadakan tasyakuran kemudian Rasulallah Saw bertanya “Apakah masakan ini sudah kau bagikan kepada si fulan?”

Aisyah menjawab “Belum. Dia seorang Yahudi dan saya tidak akan membagikanya.” Mendengar jawaban tersebut Rasulallah Saw lantas mengatakan, “Meskipun dia Yahudi tetapi dia tetangga kita.” Kisah ini mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik terhadap tetangga sekalipun berbeda agama.

Sebagian oknum teman yang menghawatirkan persahabatan Habib Husein adalah tergadaikanya wibawa seorang cicit nabi. Hal ini biasanya ditanggapi dengan santai bahwa ia terlanjur berjanji pada dirinya untuk menjadi badut demi suksesnya dakwah Islam.

Bahkan Coki pun sangat mendukung kesuksesan dakwah Habib Husein karena apabila semua muslim seperti sosok Habib Husein semua maka semua akan aman dan bahagia saling menghormati dan saling mendukung.

Selain itu Habib Husein merasa dakwah semacam ini belum ada nilainya apabila melihat perjuangan datuknya Nabi Muhammad SAW zaman jahiliyah dulu. Nabi pernah dilempari dengan kotoran dan dicacimaki oleh orang Quraish dulu

Oleh karena itu berteman dengan Coki bukan soal kewibawaan dirinya akan tetapi sebagai upaya suksesnya dakwah Islam dikalangan anak muda yang jarang tersentuh dengan agama. Keberadaan Habib Husein di tengah pemuda tersesat adalah penegasan bahwa mereka punya referensi Islam yang santun dan menghargai semua golongan disamping mereka jarang membaca Al-Quran. [indonews.id/justisia.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed