by

Krisis Paradigma dalam Pendidikan

Oleh: Ahmad Zaki Mubarok

Berbicara mengenai pendidikan berarti membahas perihal pondasi hidup, karena dalam perspektif Islam kita dianugerahi akal untuk memperoleh pengetahuan agar mampu hidup sesuai dengan fitrahnya. Yakni sebagai khalifah di muka bumi dengan senantiasa mengabdikan diri semata-mata kehadirat Allah SWT.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh al Zarnuji dalam kitab Ta’lim al Mutaalim. Bahwasanya tujuan pendidikan adalah mengharap ridha Allah, mencari kebahagiaan dunia dan di akhirat, serta menghilangkan kebodohan baik dari dirinya sendiri ataupun dari orang lain.

Namun ternyata realitas inheren yang saya rasakan dan amati pada kaum terpelajar di Indonesia perihal pendidikan tidak sesuai dengan yang di atas. Akademisi pada saat ini di Indonesia umumnya selalu mengorientasikan pendidikan dengan materi.

Bahwasanya ketika sudah dinyatakan lulus di jenjang pendidikan, yang akan dijungjung bukan tanggung jawab dan peranannya terhadap masyarakat. Melainkan memperlihatkan perihal pekerjaan dan berapa honor perbulan dari pekerjaan yang didapatkannya. Sehingga para akademisi pada saat ini selalu berorientasi pada prospek pekerjaan.

Padahal tujuan pendidikan tidak demikian. Contohnya dalam konstitusi UU No. 2 Tahun 1985 bahwasanya tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Maka inilah yang menjadi keresahan saya bahwa pendidikan itu bukan bertujuan memperoleh ijazah kemudian menjadikan budak kapitalis. Tapi tujuan pendidikan itu mulia seperti yang dikemukakan dalam perspektif Islam dan konstitusi. Paradigma semacam inilah yang terkungkung dalam perspektif akademisi saat ini sehingga menjadi indikator kebobrokan pendidikan di Indonesia.

Karena bila kita pakai paham idealisme untuk melihat persoalan ini bahwa pikiranlah yang mempengaruhi karakter manusia. Maka tidak aneh ketika melihat akademisi saat ini sibuk bekerja setiap hari sampai tengah malam hanya untuk mencari hal-hal yang sifatnya fana sehingga lupa bahkan tidak paham akan peranannya dalam masyarakat.

Pikiran yang semacam ini bila dibiarkan akan berdampak pada pembentukan karakter bagi kaum akademis. Bahayanya ketika terbentuk, bobroklah pendidikan kita seperti sekarang yang habis dilahap oleh nafsu dunia semata.

Baca Juga: Mengembangkan Pendidikan Berbasis TIK Pada Era Perkembangan Zaman

Kemudian kesalahan yang terletak disini ialah pada pendidik di Indonesia itu sendiri. Yang saya alami selama saya menjadi akademisi, pendidik di negara kita ternyata tidak mampu mengoptimalkan teori Taksonomi Bloom dari mulai ranah kognitif C3, afektif bahkan psikomotor.

Sehingga seorang peserta didik tidak mampu mengimplementasikan teori serta konsep yang telah dia pelajari di dalam kelas ke dalam kehidupannya sehari hari. Karena pendidik saat ini sulit beradaptasi dengan sains dan teknologi.

Dari rentetan permasalahan yang saya kemukakan di atas. Adapun untuk solusinya pemerintah harus dapat menyeleksi calon pendidik semaksimal mungkin. Bila perlu beri sertifikat atau surat resmi untuk mengajar di sekolah/universitas. Karena sebagaimanapun juga pendidik itu adalah pencetak generasi bangsa.

Bagaimana mungkin seorang peserta didik atau akademisi sadar akan tujuan dan peranannya kalau tidak di arahkan dengan optimal. Maka seorang pendidik harus mempunyai bekal pengetahuan berbagai hal tentang konsep pembaharuan dalam pendidikan.

Demikianlah solusi yang saya ajukan. Sebagaimanapun juga tugas seorang pendidik itu bukan hanya mengajar seperti dalam istilah Jawa guru itu digugu lan ditiru. Lebih dari itu yakni mendidik moral, etika dan karakter. Seperti kutipan dari Martin Luther King yang sangat masyhur, “intelegence plus character, that is the true goal of education.”

Ahmad Zaki Mubarok, Mahasiswa aktif di UIN Bandung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed