by

Kota Toleran Versi Anak Muda

Kabar Damai I Jumat, 02 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Potret keberagaman tercermin dalam 10 Kota Toleran 2020 menurut riset Setara Institute. Enam kota diluar Jawa lebih toleran ketimbang empat kota di Jawa. Ternyata situasi pandemic Covid-19 menjadi persemaian subur diskriminasi di sejumlah kota.

Nilnu Alfa Alfi Barokah, Anggota Srikandi Lintas Iman di Salatiga, dan Tracya Widita, Aktivis Orang Muda Katolik dan Admin Katolikvidgram di Bandung serta Halili Hasan, Direktur Riset SETARA Institute di Jakarta dalam program Merawat Kebinekaan memaparkan tentang pandangan orang muda tentang kota toleran. Kamis, (24/6/2021).

Menjangkau Melalui Media Sosial

Tracy kini lebih banyak berkegiatan dalam kegiatan sosial, ia pula yang menjadi admin akun instagram Katolikvidgram. Akun ini difokuskan kepada anak muda.

“Jadi Katolikvidgram ini adalah platform yang menjadi komunitas lepas yang isinya mengingatkan bahwa menjadi anak muda Katolik itu menyenangkan. Jadi memang benar kontenya tentang Katolik tapi kearah untuk anak muda,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan, karena berbasis media sosial membuat aksi dari Katolikvidgram hingga kini dapat dinikmati oleh banyak orang dari berbagai daerah di tanah air dan bahkan dunia. “Karena menggunakan sosial maka jangkauannya lebih luas,” tambahnya.

Srili dari Salatiga

Kota Salatiga merupakan kota yang dinyatakan SETARA Institute sebagai kota yang toleran. Hal ini diamini dan dinyatakan kebenarannya oleh Alfa. Ia yang merupakan anggota dari Srikandi Lintas Iman Salatiga mengungkapkan Salatiga aman dan sejahtera.

“Sangat setuju jika Salatiga dinyatakan sebagai Kota Toleran, karena dari kecil tidak pernah ada kerusuhan berbasis ras dan agama. Sampai sekarang juga masih aman dan sejahtera,” tuturnya.

Potret toleransi di Salatiga menurut Alfa pernah ia temui saat berkunjung ke Kota Salatiga dari kampungnya. Disana ia menemukan satu keluarga yang terdiri dari beberapa agama yaitu Hindu, Budha, Katolik dan Islam dan terikat dalam ikatan keluarga.

Indeks Kota Toleran

Indikator indeksing dalam kota toleran yang dlakukan itu ada delapan yang diturunkan dalam empat variable. Melihat indicator tersebut, kaum muda menurut Halili sangat berpotensi untuk berperan pada dua indikator yaitu indikator dinamika masyarakat sipil yang menurut SETARA Institute artinya bagaimana masyarakat di kota merespon peristiwa intoleransi yang terjadi.

Mengingat banyaknya kasus intoleransi, anak muda bisa merespon dan tidak menunjukkan sifat apatis sehingga promosi promosi dan praktik intoleransi pada kota tersebut tidak semakin membesar dan berdampak buruk lebih luas.

Baca Juga: Kota Toleran, Sandiaga Uno Instruksikan Wali Kota Singkawang Siapkan Event Internasional

Selain itu, peranan tersebut juga dapat ditunjukkan dalam inklusi sosial. Hal ini dapat lakukan anak muda melalui aksi pertemuan atau perjumpaan lintas identitas, berkunjung ke rumah ibadah yang berbeda, hingga mengadakan dialog lintas iman yang tidak hanya memberi nutrisi dan pengetahuan juga menjadi ruang perjumpaan yang mengikis stigma, kecemasan serta kekhawatiran karena eksistensi intoleransi.

Riset tentang KBB di Indonesia yang dilakukan oleh SETARA Institue tahun 2020 menunjukkan bahwa peristiwa dan tindakan intoleransi meningkat. Kebebasan beragama dan berkeyakinan meningkat diskriminasinya, padahal sedang dalam masa pandemi. Banyak asumsi orang untuk berinteraksi terbatas, namun nyatanya pandemi menjadi corong terjadinya intoleransi itu sendiri.

“Pandemi ini dalam satu sisi dijadikan sebagai alasan untuk membatasi yang lain. Contoh salah satu kota di Jawa Barat ada Rosario ditingkat keluarga didatangi oleh pengurus RT dan kelompok intoleran dan dipersekusi dengan alasan covid yang tidak boleh kumpul-kumpul,”.

“Narasi intoleransi itu sudah tertanam dalam hati kelompok intoleran, momentum pandemi kemudian dijadikan sebagai sarana pembatasan. Kemudian yang lain pandemi membuat kita semakin sering menggunakan chanel virtual yang kemudian narasi intoleransi itu memanfaatkan virtual chanel tersebut dan kemudian mendesiminasi,” jelasnya.

Penggunaan chanel online yang kini dimanfaatkan dalam benyak hal menurut Halili saat ini banyak digunakan oleh kelompok intoleran guna menciptakan narasi intoleransi yang lebih masif.

Halili menyoroti peristiwa perusakan makam Kristiani di Solo yang dilakukan oleh anak-anak. Ia meyakini bahwa pertemuan tatap muka yang terbatas tentu bukan menjadi satu-satunya alasan anak-anak tersebut melakukan hal yang tidak terpuji melainkan juga didukung oleh media online pula.

Dalam pemerintah dalam menangani permasalahan intoleransi setidaknya dalam tiga hal, yaitu pertama tentang kebijakan dan atau regulasi, kedua pada kapasitas aparat dan juga penegakan hukum. Oleh karena permasalahan banyak terjadi pada tiga aspek tersebut sehingga solusi atau jawaban serta respon dalam tiga hal harus dilakukan pada hal tersebut pula.

Pertanyaan hadir dari penonton dalam talkshow tentang toleransi yang menurutnya efektik dipromosikan lewat musik, namun belum banyak musisi yang fokus pada isu toleransi tersebut. Menanggapi hal tersebut, Tracy menyatakan bahwa ada beberapa musisi yang tidak menunjukkannya pada publik, namun ia yakin bahwa mereka memiliki bentuk toleransinya sendiri yang dikaryakan dalam music sehingga belum terdengar karyanya kini.

Ia juga menambahkan bahwa dimasa pandemi, musisi kini menunjukkan toleransinya. Saat pandemi, banyak orang yang depresi dan down dan para musisi membantu melalui musik dan membuat lagu yang menunjukkan bentuk toleransinya dimasa pandemi.

Hal serupa dinyatakan Alfa, baginya toleran tidak hanya tentang suku dan agama. Berhubungan soal pandemi, toleransi juga dapat ditunjukkan musisi melalui lagu-lagu tentang pandemi.

Sementara Halili juga turut menambahkan dan membenarkan bahwa musik dapat dijadikan sebagai alternative untuk memproduksi narasi kedamaian dan narasi kebinekaan serta kerukunan. Musik strategis dalam dua aspek yaitu dalam substansi dalam keberagaman bagi kaum muda. Kedua, komunitas musisi penting untuk membangun narasi toleran dengan memanfaatkan komunitas musisi.

Pada tahun 1980 hingga 1990-an dahulu, para musisi Indonesia banyak yang menciptakan karya tentang nasionalisme, cinta tanah air dan bahkan keberagamaan yang moderat. Berkaitan dengan minimnya hal seperti itu saat ini, maka perlu adanya yang menggarap agar kemudian komersialisasi dan juga diminati banyak orang selanjutnya.

Masih dikala pandemi, seorang siswa yang menyatakan dirinya masih kelas IX SMP sulit belajar toleransi dan keberagaman yang ada karena selalu dirumah. Ia menanyakan bagaimana dapat belajar tentang toleransi walaupun di rumah saja.

Menanggapinya, Alfa menyatakan belajar toleransi tidak haruslah keluar. Dalam aspek rumah dan juga keluarga juga terdapat keberagaman didalamnya. Disana harus ada toleransi dan menghormati dan belajar dari lingkup keluarga tersebut saja.

Hal serupa diungkapkan Tracy, seiring dengan banyaknya media yang bisa dibuka saat ini yang mengajarkan tentang toleransi dan keberagaman juga merupakan salah satu cara dalam belajar.

Walaupun di rumah saja tetap dapat berjejaring dan melakukan kegiatan sosial melalui media yang sudah ada. Dunia telah mempermudah untuk bertemu banyak orang sehingga tidak ada alasan untuk tidak belajar toleransi.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed