by

Korelasi Pandangan Ilmu Kalam dan Kiri Islam Hassan Hanafi

Oleh: Nor Ismiyah

Pada zaman sekarang ini banyak cendekiawan muslim yang memiliki semangat tinggi dalam mempelajari keislaman dan bersikap kritis terhadap modernisasi, khususnya Barat, maka tidak heran apabila kemajuan dan kebangkitan dunia Islam adalah suatu kenyataan. Tetapi di sisi lain, tidak perlu adanya pembaharuan ataupun reformasi dalam Islam karena Islam sendiri sudah sempurna adanya. Akan tetapi yang harus ditumbuhkan yaitu sikap terhadap agama, keberagamaan kita yang masih banyak kurangnya seperti pemahaman dan keimanan terhadap agama.

Namun dewasa ini masalah tersebut bukan menjadi soal baru, akan tetapi masih banyak masalah keagamaan yang lebih penting dan sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial politik dan ekonomi. Tidak aneh jika masa depan wajah Islam sangat bergantung pada kemampuan umat Islam menjawab masalah-masalah sosial politik dan ekonomi. Dari sinilah hadir sosok cendekiawan muslim yang banyak menuangkan pemikirannya tentang Islam dan menjadi penggagas pembangkitan Islam–atau dalam istilahnya disebut: Kiri Islam.

Pemikiran Ilmu Kalam

Hassan Hanafi adalah pemikir Islam yang pemikirannya bertolak dari pencarian iman dalam menumbuhkan semangat ilmu kalam dari iman ke nalar lalu menuju aksi. Proyeknya itu disebut at-Turats wa at-Tajdid (Tradisi dan Pembaharuan). Hassan Hanafi tidak lagi membahas mengenai ilmu kalam yang semata-mata fokus pada isu bangunan teologi yang berkaitan dengan hal-hal yang bernuansa teosentris, akan tetapi membahas problem kemanusiaan yang bernuansa antroposentris.

Selama ini pembahasan teologis hanya bertumpu pada penjelasan tentang substansi wujud Tuhan Yang Maha Mutlak sebagai Yang Maha Menguasai dan Maha Berkehendak. Dia yang memulai dan mengembalikan sesuatu, Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan seterusnya. Seolah-olah seorang teolog klasik ini bercengkerama dengan kekuasaan Tuhan sehingga mencapai yang fana dan melebur bersama-Nya.

Di sini terlihat hubungan antara manusia dengan Tuhan tidak terbatas pada pengetahuan teoritis saja tetapi juga pada amaliyah praktis. Manusia memuji Tuhan atas karunia nikmat yang diberikan dan bersyukur kepada-Nya atas segala pemberian yang Tuhan berikan. Ini menjadikan hubungan manusia dengan Tuhan hanya satu arah. Seakan manusia hanya menjadi bejana untuk menerima suatu nikmat, pemberian, kemurahan dan kebaikan.

Baca Juga: Belajar dari Sultan Pertama Pontianak, Terbuka Kepada Semua Suku dan Agama

Dari sini kritik Hassan Hanafi terhadap ilmu kalam yang memunculkan teori “Ketidakbutuhan Allah kepada selain-Nya dan Kebutuhan yang lain kepada-Nya”. Maksud dari teori ini adalah menunggalkan Allah dan menggugurkan alam, mempertahankan Dzat Ilahiyah tanpa memperhitungkan dzat manusia dengan tekad mencapai puncak kejayaan dengan berlandaskan dasar. Hal semacam ini yang membuat lemahnya umat Islam dalam bidang sosial politik dan ekonomi. (Yusuf, 2016)

Usaha Hassan Hanafi dalam mengatasi hal tersebut yaitu menegaskan kembali jiwa-jiwa tauhid, yaitu tauhid ucapan dan tauhid perbuatan. Menegakkan syahadat yang mengandung makna peniadaan dan penegasan, artinya peniadaan terhadap segala bentuk penahanan modern yang membuat krisis. Ini merupakan sebuah energi pendorong untuk rakyat kecil dalam melakukan suatu gerakan. Oleh sebab itu menurut Hanafi dari peniadaan tersebut ia ingin mencoba melakukan rekonstruksi pemikiran Islam dalam bentuk pembebasan diri dari berbagai bentuk penindasan, pemaksaan, penganiayaan, ketidakadilan, kekejaman dan otoritarianisme.

Kiri Islam

Dari tangan Hassan Hanafi inilah ilmu kalam berubah menjadi suatu perubahan besar yang mencakup seluruh kesadaran kaum muslimin dan menciptakan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Dari sinilah diperoleh istilah Kiri Islam, di mana umat Islam menghadapi keterbelakangan dan mengkritisi Islam dengan menggunakan pandangan-pandangan ilmu kalam untuk membangun masa depan Islam yang lebih baik.

Kiri Islam ini merupakan jurnal sekaligus pemikiran Hassan Hanafi yang membahas tentang perlawanan umat Islam terhadap segala bentuk penindasan, penguasaan, pemaksaan dan ketidakadilan yang diterima oleh kaum yang lemah. Sebenarnya tidak ada istilah kanan atau kiri dalam Islam, namun ada dalam strata sosial, politik dan ekonomi, yang tentunya kekuasaan-kekuasaan dan kekuatan ada di pemegang strata tertinggi yang pastinya membawa kepentingan masing-masing kelompok.

Di sini peran Kiri Islam yaitu memihak kepada kaum-kaum yang lemah, yang dikuasai, yang tertindas dan yang menderita. Dalam Islam penyebutan kanan atau kiri ini dikenal dengan sebutan Ashabul Yamin dan Ashabul Syimal, yang dalam konteks agama, bukan cuma politik dan ekonomi.

Tujuan dari Kiri Islam ini sebenarnya sangat baik dan menguntungkan bagi kaum-kaum kecil yang tertindas. Seperti mewujudkan keadilan sosial dalam umat melalui dasar Al-Qur’an, menciptakan masyarakat yang demokratis dan bebas mengungkapkan aspirasinya, meniadakan hak-hak otoriter yang menjadikan penguasa di atas segalanya, dan seterusnya.

Jadi istilah Kiri Islam menurut Hassan Hanafi bermaksud memberi pembaharuan dalam pemikiran Islam agar umat muslim terbebas dari segala bentuk ketertindasan agar umat Islam bisa selangkah lebih maju, unggul dan menjawab permasalahan dalam segala bidang, baik itu agama, sosial politik, ekonomi, dan budaya.

Nor Ismiyah, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed