by

Kontruksi Pendidikan Kebudayaan dan Perdamaian dalam Sentra Keluarga di Aceh

-Opini-23 views

Oleh : Lillah Nur Velayati

Berbicara mengenai pembahasan dalam “Kontruksi Kebudayaan Damai di Negara Aceh pada Mengarah Kebudayaan di kalangan Masyarakat Tengah”, yang dimana pada Tahun 1998 telah datang yang bernama Pendidikan perdamaian dengan Deklarasi PBB.

Dari situlah bahwa Kontruksi Kebudayaan di Kalangan Masyarakat tengah perlu dihadirkan dengan  peran dan kegunaan. Peran ini bisa dinyatakan dalam Deklarasi bahwa Pendidikan damai merupakan suatu wadah seperangkat yang didalamnya berisikan adat istiadat, perilaku dan nilai, yang menggunakan cara kehidupan dengan penolakan terhadap kekejaman yang historis dalam cara apapun.

Biarpun bisa diatasi melalui pembicaraan, solidaritas, bertoleransi dikalangan masyarakat, dengan menjujung tinggi di prinsip kalangan masyarakat tengah dan bekerja sama melalui keanekaragaman Budaya baik dalam individual maupun sesama. (prespektif Nur rohman, “kontruksi perdamaian melalui literasi keluarga”,2021 diakses https://www.acehtrend.com )

Jadi dalam Kontruksi Kebudayaan dalam pendidikan damai dikalangan Masyarakat tengah ini perlu, karena dalam beragama bahwa Pendidikan damai bisa dikontruksikan dengan aturan-aturan dengan prinsip tak memakai ke historisan, dan doktrinya hanyalah menggunakan sebuah berupa keadilan, huriyah, tawassut dan tasamuh, tawazzun, musawah dan toleransi.

Selanjutnya dalam beragama juga pendidikan atas nama Damai untuk bisa mencapai kontruksi perdamaian dikalangan Masyarakat sangatlah membutuhkan dikatakan 4 sistematika tangga menghubung yakni: yang pertama, Perdamaian yang beranalogi dengan Tuhan yang berbentuk bahwa manusia hidup di dunia telah menjalankan perintah tuhan dengan sesuai hati yang ikhlas dan suci.

Yang kedua Perdamaian dalam individual yang lahir dengan adanya masyarakat bebas dari kondisi dan situasi dalam peperangan batiniah dengan hati, artinya bahwa manusia hidup harus tenang dan tentram.(prespektif Sabi Yusni DKK, Desember 2020, “membangun budaya aceh”, penerbit: Cet.I BKBP Provinsi Aceh, hlm.24)

Baca Juga: Sekolah Humanitas sebagai Bekal Kader Muhammadiyah yang Toleran

Manusia juga setelah bebas dari peperangan bangunlah yang namanya sikap tegaknya keadilan dalam Perdamaian. Yang ketiga, Perdamaian di tempat lingkungan masyarakat tengah perlu juga dibangun dengan saling kerjasama dan bertoleransi.

Yang terakhir ke empat, bahwa perdamaian dalam mengimplementasikan jika masyarakat tak memfungsikan lingkungan SDA digunakan alat dalam kontruksi pendidikan perdamaian maka, wajiblah untuk masyarakat kalangan tengah dalam pendidikan perdamaian akan tetap dibangun dan diwariskan terhadap generasi selanjutnya yang masih mempunyai darah daging yang bernama keluarga.

Kemudian dalam Pendidikan perdamaian persoalan mengenai kontruksi juga, bisa dikatakan bahwa Pendidikan perdamaian juga bisa dijalankan tidak hanya di tempat lembaga formal juga tetapi, bisa dijalankan juga dengan lembaga Informal.

Dengan demikian bahwa Kontruksi Pendidikan perdamaian dalam Masyarakat tengah, dalam saran dan informasinya melewati tranmisi baik informal maupun non formal (prespektif Shaleh fauzi, “konsep kontruksi pendidikan damai”, Penerbit: Ar-rany Press).

Oleh karena itu bisa dicontohkan bahwa di dalam Kontruksi kebudayaan Pendidikan damai dikalangan Masyarakat tengah bahwa, dalam keluarga itu sangat utama menjadi guru mendoktrinkan anaknya sejak masa kecil dengan berupa pendidikan kebudayaan perdamaian, karena menjadi keluarga tak hanya menjadi keluarga tetapi, menjadi sebuah ruang yang bisa mengajarkan bentuk pendidikan perdamaian terutama dikalangan masyarakat tengah.

Jika keluarga tidak mengkontruksikan dan mendoktrinkan anaknya dalam Pendidikan perdamaian dalam kebudayaan, maka realitanya menjadi anak tersebut mempunyai sikap yang dinamakan khawatir dan cemas karena berfaktor yang berasal dari kekejaman menjadikan anak tersebut dengan menjadi meningkatnya konflik-konflik sosial dan berkurangnya ta’dzim antar sesama lingkungan kebudayaan kalangan masyarakat tengah.

Dari situlah fenomena hal tersebut bisa dirubahnya dan diatasi dengan cara mengkontruksikan nilai pendidikan kebudayaan perdamaian yang tanpa historis dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Lillah Nur Velayati, Mahasiswa Studi Agama-agamaUniversitas Islam Neger Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed