by

Konten Ujaran Kebencian Masih Marak, Begini Cara Facebook Memberantasnya

Kabar Damai I Rabu, 9 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Sebagai bagian dari upayanya melindungi keamanan pengguna, Facebook berkomitmen untuk terus memberantas dan mencegah aksi perundungan (bully) dan pelecehan di jejaring sosialnya.

Sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan ini, content Policy Manager Facebook Manu Gummi mengatakan bahwa setiap dua minggu sekali, tim Kebijakan Konten Facebook rutin mengadakan pertemuan yang disebut Policy Forum.

Dilansir dari Kompas.com (7/6), di forum tersebut, tim Kebijakan Konten Facebook berdiskusi tentang apa yang harus dicanangkan untuk melakukan pembaruan maupun penyesuaian pada Standar Komunitas dan kebijakan konten di jejaring sosial bernuansa biru itu.

“Kami dan tim Kebijakan Konten selalu membicarakan topik ini (konten ujaran kebencian) setiap dua minggu sekali di Policy Forum. Tim kami berdiskusi untuk membahas upaya-upaya lainnya, khususnya untuk mengatur kebijakan konten di Facebook,” ujar Manu, dikutip dari kompas.com (7/6).

Baca Juga: Menjadikan Media Sosial Salah Satu Platform Utama Pembinaan Ideologi Pancasila

Selain tim dari Facebook itu sendiri, para partisipan yang tergabung dalam forum itu juga mencakup para ahli, jurnalis, dan akademisi.

“Mereka membawa para ahli dari berbagai perusahaan untuk berpartisipasi dalam Policy Forum dan dalam beberapa kesempatan, mereka juga mengikutsertakan jurnalis dan akademisi ke dalam pertemuan ini untuk mengamati kegiatan kami,” ungkap Manu.

Menurut Manu, ujaran kebencian adalah salah satu hal yang kompleks dan harus segera diatasi. Meski sejumlah negara memiliki hukum terkait ujaran kebencian, namun Facebook mendefinisikan hal tersebut dengan bervariasi.

Menu menjelaskan, Facebook mendefinisikan ujaran kebencian sebagai serangan langsung terhadap hal-hal yang bersfifat personal, misalnya disabilitas, orientasi seksual, jenis kelamin, serta ujaran yang tidak manusiawi atau mengandung kekerasan.

“Definisi ini dikembangkan setelah melakukan riset eksternal yang mendalam dan konsultasi dengan ahli independen,” jelas Manu.

Sementara, jenis-jenis konten yang masuk dalam kategori ujaran kebencian diantaranya seperti menyinggung ras, agama, kewarganegaraan, identitas gender, penyakit berat, kasta, etnis, pernyataan inferioritas, penghinaan, dan stereotip yang membahayakan.

Tiga Tingkatan Ujaran Kebencian

Facebook mengkategorikan serangan ujaran kebencian dalam tiga tingkatan, sesuai dengan standar kebijakan konten. Hate speech yang termasuk dalam tingkat 1 akan lebih diprioritaskan untuk dihapus lebih dulu, kemudian tingkat 2, lalu tingkat 3.

Rinciannya adalah sebagai berikut.

Tingkat 1:

  • Ujaran kekerasan
  • Perbandingan yang tidak manusiawi
  • Ujaran yang tidak manusiawi
  • Mengolok-olok konsep, peristiwa, atau korban kejahatan kebencian

Tingkat 2:

  • Pernyataan inferioritas (fisik, mental, moral, generalisasi)
  • Ekspresi penghinaan atau mengutuk

Tingkat 3:

  • Ajakan untuk mengucilkan (eksplisit, politik, ekonomi, sosial)

Agar ujaran kebencian tidak terus merajalela, Facebook turut mengandalkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), untuk mendeteksi keberadaan konten-konten tersebut secara otomatis.

“Kami juga menggunakan AI untuk memprioritaskan konten yang membutuhkan peninjauan lebih seperti ujaran kebencian, setelah mempertimbangkan beberapa faktor seperti tingkat penyebaran hingga potensi pelanggaran,” tutur Manu.

Sejauh ini, Facebook sendiri telah menghapus sebanyak 25,2 juta konten yang mengandung ujaran kebencian pada kuartal pertama 2021. Sekitar 96,8 persen di antaranya diidentifikasi oleh sistem berbasis AI.

Dari total 25,2 juta konten, 8,8 juta diantaranya merupakan konten yang mengandung pelecehan. Lalu 9,8 juta konten lainnya adalah konten ujaran kebencian terorganisir.

Dalam mengatasi ujaran kebencian, Facebook menggunakan dua skema teknologi AI yang disebut XLM-R (Lingual Understanding) dan WPIE (Whole Post Understanding).

XLM-R (Lingual Understanding) adalah teknologi yang membekali machine learning classifiers dalam menganalisa berbagai bahasa yang tidak umum di internet.

Sedangkan, WPIE (Whole Post Understanding) merupakan kemampuan untuk mendeteksi apakah konten dalam sebuah posting (gambar, video, teks), yang dibagikan sesuai dengan kebijakan yang berlaku atau tidak.

“Dengan kecanggihan teknologi, kami telah mencatatkan kemajuan yang signifikan dalam mengatasi ujaran kebencian di Facebook,” pungkas Manu.

Cara Bijak Bermedia sosial

Belajar dari kasus Drummer Superman is Dead I Gede Ari Astina alias Jerinx, alangkah baiknya di era media sosial saat ini kita harus bijak dalam menggunakan Instagram, Facebook, Twitter, dan lain-lain. Agar aman dan nyaman, simak beberapa tips menggunakan akun medsos agar anda bijak. Salah satunya dari rri.co.id:

  1. Jangan sering menyebarluaskan informasi pribadi

Anda harus berhati-hati ketika membagikan informasi di media sosial, utamanya informasi pribadi. Tahan diri jika anda ingin mengumbar informasi pribadi seperti nomor handphone, nomor rekening, alamat rumah, atau aktivitas rutin anda.

Karena di era teknologi, semua semakin mudah dan berkembang. Jangan sampai informasi penting disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

  1. Pilih-pilih siapa teman di media sosial

Sebelum bermain media sosial, pilih kembali siapa followers atau teman yang ingin anda follow. Alangkah baiknya, jangan menerima pertemanan dari orang yang tidak begitu anda kenal.

  1. Jaga atittude!

Dalam bersosial media, tentunya etika atau atittude harus dijaga. Citra diri dalam bermedsos pasti akan terlihat, semua itu akan terbentuk dari bagaimana anda menunggah apa yang anda bagikan.

Karena di media sosial, semua orang akan menjudge anda dari luarnya saja. Maka, hati-hatilah speak up di akun medsos!

  1. Jangan menyebar informasi hoaks

Pastikan konten yang anda unggah bukan mengandung unsur SARA atau hoaks. SARA adalah isu sensitif dan dapat menyebabkan perpecahan dan permusuhan.

Tentu anda tidak mau bukan dijudge sebagai penyebar hoaks dan SARA?

  1. Sumber hak cipta

Jangan lupa untuk selalu mencantumkan sumber dari konten yang anda unggah. Anda harus sadar jika bermedsos menggunakan karya orang lain dan tidak mencantumkan sumber, maka anda berpotensi dituduh plagiat atau pencuri.

  1. Bangun networking dan kembangkan diri

Manfaatkan sosial media anda dengan baik, daripada anda menyebarkan hoaks atau SARA, lebih baik anda membangun jaringan melalui karya yang anda buat.

Buatlah karya seunik dan kreatif mungkin di media sosial, dengan membentuk citra diri yang positif, maka anda juga akan mendapatkan followers yang bijak. Ingatlah, followers anda adalah cerminan diri anda di media sosial.

  1. Cari informasi yang bermanfaat

Terakhir, carilah informasi yang bermanfaat. Jika informasi dirasa kurang penting dan tidak berguna alangkah baiknya cukup dibaca untuk diri sendiri dan jangan disebar. [kompas.com/rri.co.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed