by

Konsep Ketuhanan dalam Aliran Kebatinan Perjalanan

-Religipedia-433 views

Kabar Damai | Senin, 15 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Ajaran dalam Aliran Kebatinan meliputi ajaran tentang Tuhan, manusia, dan alam. Ajaran tersebut diambil dari sepuluh wangsit (Dasa Wasita) yang menjadi prinsip pokok ajaran aliran ini.

Dalam aliran kebatinan Perjalanan, ada beberapa poin penting terkait ajaran tentang Tuhan. Tuhan adalah pusat dari aktivitas ritual manusia. Manusia bersikap kreatif dalam “mencari” Tuhan yang terpantul pada budaya asli.

Apa yang dimaksud budaya asli di sini adalah hasil kreativitas manusia yang disebabkan oleh sedikit goncangan batin. Goncangan tersebut muncul karena batin manusia tergoda tentang persoalan alam semesta dan Tuhan.

Sejalan dengan ajaran agama-agama besar yang lainnya, aliran kepercayaan atau kebatinan Perjalanan yang jumlahnya semakin banyak juga memercayai bahwa Tuhan itu ada.

Dalam Dewan Musyawarah Pusat Aliran Kebatinan Perjalanan, Budaya Spiritual Aliran Kebatinan Perjalanan (2014), Tuhan Yang Maha Esa berada di mana-mana.

Tuhan juga ada di dalam hati sanubari setiap makhluk-Nya. Tuhan tidak memiliki warna dan rupa sehingga tidak bisa diperbandingkan dengan apa pun yang ada di seluruh alam semesta ini.

Bukti bahwa aliran kebatinan Perjalanan percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa dinyatakan dalam kalimat yang berbunyi seperti berikut: “awang-awang, uwung-uwung, bumi dan langit belum ada, Tuhan Yang Maha Esa sudah ada.”

Maksud dari kalimat tersebut adalah: Awang-awang adalah ruang angkasa yang ada dalam ruang daya tarik bumi. Uwung-uwung adalah angkasa luar, yang berada di luar daya tarik bumi.

Bumi adalah dunia yang dihuni oleh manusia, binatang, dan tetumbuhan seperti saat ini di mana hidup dan kehidupan segala sesuatunya berkembang baik secara turun-temurun.

Langit adalah alam berwarna biru yang membentang luas di angkasa yang tidak bertepi bertebaran bintang, bulan dan matahari serta benda-benda langit lainnya yang tak terhingga banyaknya.

Awang-awang dan uwung-uwung adalah sesuatu hal yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia. Awang-awang dan uwung-uwung juga disebut dengan nama alam antara.

Menurut aliran kebatinan Perjalanan, konsepsi atau keberadaan Tuhan Yang Maha Esa disebut wujud (ada). penyebutan tersebut memiliki makna bahwa wujud atau ada-Nya Tuhan sama sekali tidak dapat disamakan dengan segala keadaan dunia dan isinya.

Baca juga: Menapaki Jejak Agama Sikh di Nusantara

Wujud Tuhan juga tidak dapat diraba atau dilihat dengan cara apa pun. Sebab, Tuhan Yang Maha Esa tidak bersifat benda atau pun rasa. Tuhan Yang Maha Esa ada di mana-mana. Tuhan Yang Maha Esa tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Aliran kebatinan Perjalanan percaya bahwa Tuhan juga kekal dan abadi. Keberadaan Tuhan Yang Maha Esa adalah gaib, tidak ada awal dan tidak ada akhir, tidak juga berubah dan bergeser.

Dalam ajaran aliran kebatinan Perjalanan, Tuhan juga diyakini berdiri sendiri. Tuhan Yang Maha Esa adalah zat yang mandiri, tidak ada yang mendirikan atau tidak diadakan oleh suatu apa pun.

Tuhan sangat berbeda. Ada-Nya Tuhan Yang Maha Esa tidak sama dengan segala keadaan di bumi dan alam semesta yang kesemuanya memiliki awal dan akhir, serta selalu berubah dan bergeser.

Tuhan adalah terdahulu. Ada-nya Tuhan Yang Maha Esa jauh lebih dahulu dibanding adanya langit, bumi, alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Tuhan adalah tunggal. Tuhan Yang Maha Esa itu Tunggal, tidak ada yang lain kecuali Dia. Dialah Tuhan seluruh makhluk, baik itu makhluk yang ada, yang sudah mati dan yang akan lahir.

Pijakan tentang ajaran Tuhan dalam aliran kebatinan Perjalanan inilah yang menjadi landasan atas ajaran lainnya termasuk tentang manusia dan alam. Baik agama maupun aliran kebatinan atau kepercayaan sejatinya selalu mengajak kepada kebaikan dan memanusiakan manusia.

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: – A. Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed