by

Konsep al-Kasb sebagai Obat Pandemi Covid-19

Oleh: Dimas Prastiyo Budi

Tak ayal Pandemi Covid-19 telah mengguncang dunia, khususnya di Indonesia. Virus corona dapat menyebar sangat cepat, sehingga aktivitas masyarakat di Indonesia dibatasi untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut. Dalam usaha memutus penyebaran virus, pemerintah telah menghimbau masyarakat agar memakai masker, jaga jarak, di rumah saja, serta cuci tangan.

Namun, ada juga masyarakat yang beranggapan bahwa kalau sudah ditakdirkan terkena virus corona ya tetap kena. Anggapan tersebut tentu saja kurang cerdas, karena sebelum kita pasrah, kita harus berusaha.

Perbuatan manusia dalam paham Asy’ariyah dikenal dengan al-Kasb, artinya setiap perbuatan manusia itu yang mewujudkan adalah Allah, namun manusia juga diberi daya dan pilihan atas kehendak Allah. Munculnya konsep ini karena sebagai penengah dua kelompok ekstrim yakni Jabariyah dan Qodariyah yang saling bertentangan.

Kelompok Jabariyah beranggapan bahwa manusia itu terpaksa oleh takdir, sehingga tidak ada usaha dalam perbuatannya. Sedangkan kelompok Qodariyah memiliki keyakinan untuk mengingkari takdir, artinya segala sesuatu perbuatan manusia itu tidak ada kehendak dari Allah dan bukan ciptaan Allah (Imamul Muttaqin).

Menurut ahli medis, untuk memutus rantai penyebaran virus corona, manusia perlu membatasi mobilitasnya, misalnya anjuran kerja, belajar, serta beribadah hanya dilakukan di rumah. Pada tanggal 24 April 2020 Indonesia telah menerapkan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tujuan untuk memutus rantai penyebaran virus. Akan tetapi dengan adanya penerapan sistem PSBB, angka penyebaran virus corona tetap melambung tinggi, sehingga terjadi PSBB yang berkepanjangan.

Baca Juga: “MENARIK REM DARURAT” Harus dilakukan Pemerintah Dalam Penanganan Pandemi

Coronavirus tidak menyerang pada aspek kesehatan saja melainkan corovirus juga memberikan dampak melemahnya sistem ekonomi. Bagi masyarakat melemahnya ekonomi merupakan ancaman yang serius sehingga sangat banyak masyarakat yang menentang adanya PSBB.

Saya sangat sering mendengar respon, “Saya lebih baik mati terkena corona tetapi bisa menghidupi keluarga, daripada sekeluarga saya mati karena kelaparan”. Respon tersebut memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, sebagai tulang punggung keluarga ia rela dirinya tetap bekerja (di luar rumah) demi kelangsungan hidupnya. Sedangkan sisi negatifnya ia tidak memperhatikan kesehatannya serta tidak ada usaha untuk memutus rantai keberlangsungan pandemi.

Ada juga yang merespon lain, “Tenang saja, hidup dan mati di tangan Tuhan”. Dua respon tersebut hanya menunjukkan sikap tawakal buta, sambil tidak dilengkapi dengan usaha memutus rantai penyebaran virus.

Konsep al-Kasb agaknya cocok digunakan dalam menanggulangi serta mengurangi penyebaran virus karena segala sesuatu di dunia akan terjadi apabila Allah telah mengizinkan, tetapi manusia diberikan tanggung jawab untuk berusaha. Salah satu bentuk usaha memutus rantai penyebaran coronavirus yakni dengan mematuhi anjuran pemerintah atau para ahli medis.

 

Kalau kita sudah berusaha maka kita diwajibkan untuk berdoa agar dijauhkan dari segala sesuatu yang tidak kita inginkan. Setelah berdoa, selanjutnya kita pasrahkan sesuatu yang di luar kemampuan kita kepada Allah.

Konsep al-kasb mencakup ikhtiar, doa, dan tawakal. Ikhtiar yaitu bentuk usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik dari segi materi, spiritual, serta kesehatan. Ikhtiar memiliki tujuan untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. Untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, kita musti berikhitiar semaksimal mungkin supaya apa yang kita inginkan bisa tercapai.

Sebagai umat muslim kita dilarang untuk berputus asa, agama Islam menganjurkan umatnya untuk berusaha. Adapun bentuk ikhtiar meliputi kerja keras, pantang menyerah, tanggung jawab, serta rajin berlatih dan belajar. (Muhammad Syaifudin, 2019).

Kalau kita sudah berikhtiar, maka kita harus berdoa karena usaha tanpa doa adalah sombong. Doa memiliki arti memohon, memuji, memanggil, serta meminta. Setiap umat Islam diwajibkan untuk berdoa karena doa bisa saja sebagai bukti rasa syukur kita kepada Allah. Dalam kitab al-adzkarul muntakhabah min kalami sayidil abror menejalaskan tentang adab berdoa, antara lain:

  1. Menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, setelah berdoa mengusap tangan ke wajah.
  2. Suara tidak terlalu keras dalam berdoa dan tidak terlalu rendah. Artinya, ketika berdoa, suaranya sedang-sedang saja.
  3. Khusyuk dalam berdoa.

Jika kita sudah berdoa, sesudahnya kita harus memiliki sikap tawakal—sebentuk penyerahan diri terhadap dua proses tersebut kepada Allah. Di sisi lain sangat banyak masyarakat yang salah dalam mengartikan tawakal, misalnya “Mas, kenapa kamu kok tidak mematuhi protokol kesehatan?” Kemudian dijawab, “Ya tidak kenapa-kenapa, Mas. Hidup dan mati di tangan Tuhan, kita hanya bisa pasrah dengan keadaan”.

Anggapan tersebut sudah jelas salah, karena sebelum kita bertawakal, kita harus berikhtiar, berdoa, lalu baru kita bertawakal. Oleh karena itu, konsep al-kasb tentu saja efektif apabila diterapkan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus di masa pandemi begini. Sebab, dalam konsep al-kasb telah mencakup tiga komponen sekaligus: ikhtiar, doa, serta tawakal.

 

Dimas Prastiyo Budi, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed