Konflik Agama dan Upaya Perdamaian di Indonesia

Kabar Utama159 Views

Oleh: Son Junior Estomihi

Agama adalah sistem yang mengatur kepercayaan serta peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah yang berhubungan dengan budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan kehidupan. Banyak agama memiliki mitologi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan asal-usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang-orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama, atau gaya hidup yang disukai.

Agama yang ada di berbagai belahan dunia selalu dijaga dari masa ke masa. Hal ini dilakukan, agar keberadaannya tetap ada dan tidak punah dimakan zaman. Mayoritas dan minoritas merupakan dua faktor yang hampir selalu memicu perpecahan dalam suatu negara. Begitu pula dengan Agama. Tidak dipungkiri peperangan sering terjadi akibat perpecahan antar agama.

Baca Juga: Toleransi dan Mencegah Konflik dengan Memahami Agama-Agama

Selain faktor di atas, Konflik antar agama seringkali terjadi akibat perbedaan budaya dan keyakinan individu dalam melihat nilai-nilai ketuhanan. Kelompok/individu tersebut mungkin kurang memahami nilai-nilai yang telah diajarkan oleh agama mereka dan kurang menerapkan toleransi dalam kehidupan sosial.

Perang Antar Agama di Ambon

Sebagaimana kita ketahui bersama, sejak awal 1999 terjadi konflik sosial di Ambon yang kemudian menyebar hampir ke seluruh pelosok Maluku. Konflik ini menempatkan orang Islam—yang dalam bahasa setempat disebut Acang (dari kata Hasan)—berhadapan dengan orang Kristen—yang biasa dipanggil Obet (dari kata Robert). Dalam konflik ini, kelompok Acang menguasai permukiman di daerah pantai dan dataran rendah. Sementara kelompok Obet menguasai dataran tinggi dan perbukitan. Rumah, toko, dan segala bangunan milik kelompok Obet yang dikuasai kelompok Acang saat itu, sebagian besar habis dijarah dan dibakar. Demikian pula sebaliknya, bangunan dan harta kekayaan kelompok Acang yang ada di daerah kekuasaan Obet, sebagian besar habis dijarah dan dibakar. Akibatnya, dapat kita saksikan, antara lain ratusan bahkan ribuan rumah penduduk dan toko dibakar. Sarana dan prasarana dasar, seperti kantor pemerintah, sekolah, jaringan telkom, jaringan PAM, juga menjadi sasaran. Pendek kata, kota menjadi lumpuh.

Tidak ada angka pasti berapa banyak korban jiwa yang jatuh waktu itu. Penyiksaan, pembunuhan, dan aneka macam perilaku “tak beradab” menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saat ini. Masing-masing kelompok, Acang dan Obet, mengungsi ke tempat yang dianggap aman. Acang mengungsi ke kawasan yang dikuasai Acang, dan Obet mengungsi ke kawasan yang dikuasi Obet. Masyarakat terpecah dan terkotak-kota berdasar kelompok serta keyakinan.

Upaya mengakhiri konflik ini ternyata tidak mudah karena ada beberapa pihak yang diduga diuntungkan dengan adanya konflik. Bantuan dana dari berbagai pihak terhadap masing-masing kelompok yang berseteru menjadi “berkah” bagi sebagian orang.

Upaya Perdamaian

Dua hari pasca bentrok, aktivitas di Kota Ambon masih belum pulih. Toko-toko dan perkantoran masih belum ada yang beraktivitas.Kegiatan sekolah juga masih belum sepenuhnya berjalan. Namun, Gubernur Maluku, Karel Albert Rahalu, menyatakan bahwa situasi keamanan di Ambon sudah kondusif. Disusul dengan 200 personel Brimob Makassar yang datang ke Kota Ambon.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu hidup berdampingan. Meskipun ada beragam perbedaan, kita hendaknya memupuk sikap kekeluargaan dan toleransi di antara sesama manusia. Perbedaan-perbedaan ini terdiri dari berbagai agama, suku, etnik, dan kebudayaan yang harus kita hormati. Terutama di era moderen ini. Kebanyakan orang, dalam banyak kasus, kurang memikirkan peristiwa di seputar dunia.

Oleh: Son Junior Estomihi

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *