Konferensi Waligereja India (CCBI) Rilis Studi tentang Pekerja Migran di Masa Pandemi

Kabar Manca155 Views

Kabar Damai | Senin, 29 Maret 2021

New Delhi | kabardamai.id | The Conference of Catholic Bishops’ of India (CCBI) Commission for Migrants and Workers India Federation, pada awal Maret, merilis hasil penelitian yang disponsorinya tentang pekerja migran – dari berbagai suku – (tribal migrants) di New Delhi India.

Penelitian berjudul “Tribal Migrants in Delhi City: A Pre Covid and Post Covid Analysis (Migran Suku di Kota Delhi: Analisis Sebelum dan Pasca-Covid)” disponsori dengan dana patungan CCBI.

Studi tersebut mengungkapkan kenyataan suram tentang sebagian besar pekerja migran di New Delhi yang menderita kemiskinan endemik dan upah rendah di tengah tidak adanya keselamatan kerja dan keamanan sosial-ekonomi.

Baca Juga : Wapres: Solidaritas Kebangsaan Diperlukan untuk Atasi Pandemi

Sebelumnya, menurut Survei Ekonomi India 2016-17, di India dengan penduduk lebih dari 1,3 miliar, sekitar sembilan juta orang bermigrasi dari satu negara bagian ke negara bagian lain setiap tahunnya karena alasan sosial-ekonomi.

Dipimpin oleh peneliti terkenal Lata Jayaraj, survei terbaru yang didanai oleh CCBI mencakup para migran yang termasuk dalam komunitas suku dari negara bagian tetangga di India hingga New Delhi.  Studi ini menganalisis faktor-faktor pendorong sosio-ekonomi para migran dalam situasi pra- dan pasca-Covid.

“Studi ini merupakan upaya untuk melihat berbagai faktor di balik migrasi, berbagai masalah yang dihadapi oleh para pekerja migran ini, serta untuk menganalisis sistem dukungan yang dimiliki lembaga pemerintah dan LSM untuk mereka,” kata Pastor Jaison Vadassery, sekretaris Komisi Migran CCBI.

Penelitian tersebut kemudian merekomendasikan strategi efektif multi-cabang dari pemerintah dan lembaga non-pemerintah untuk mendampingi serta membantu pekerja migran yang miskin dan rentan untuk mengatasi kondisi mereka yang menyedihkan.

Studi tersebut menggunakan analisis mendalam terhadap pekerja migran di sektor konstruksi Delhi. Penelitian ini menjangkau 45 responden, laki-laki dan perempuan, sebagai sampel yang memberikan informasi yang diperlukan melalui studi kasus, diskusi kelompok terfokus, dan observasi peserta.

Sekitar 91 persen pekerja migran suku di sektor konstruksi berusia di bawah 50 tahun, sementara hanya 8,8 persen yang berusia di atas 50 tahun. Sektor ini sebagian besar didominasi laki-laki, 93,3 persen laki-laki. Mayoritas dari mereka beragama Hindu.

Sektor konstruksi New Delhi, sebagai ibu kota negara, menarik perhatian mereka karena memiliki banyak bangunan komersial, perumahan, serta proyek pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung.

Sekitar 44 persen pekerja menyebutkan pendidikan yang buruk sebagai alasan yang mendorong mereka untuk bekerja di sektor konstruksi, 36 persen menyatakan karena kemiskinan, dan 29 persen merujuk alasan lain.

Sebanyak 76 persen responden memiliki pekerjaan tetap dan sisanya adalah pekerja tidak tetap. Kebanyakan dari mereka dipekerjakan sebagai pekerja tidak terampil dan mereka tidak memiliki sistem pembayaran khusus dan dibayar setiap hari, mingguan, dua minggu, atau bulanan.

Rata-rata, para pekerja mendapatkan 279 rupee (US $3,80) per hari, lebih rendah dari upah harian minimum pemerintah sebesar 368-407 rupee ($5-5,60). Hanya 20 persen yang memiliki gaji rutin dan sebagian besar dari mereka mengalami pemotongan gaji secara teratur.

Semua responden mengatakan bahwa mereka tinggal di rumah kontrakan dengan harga sewa rendah. Meskipun mayoritas memiliki rumah di desa masing-masing, namun sebagian besar dalam kondisi bobrok dan beberapa melaporkan bahwa rumah mereka berupa gubuk. Lebih parah, sekitar 37 persen tidak memiliki rumah.

Tidak ada responden yang mengatakan bahwa mereka pernah menerima atau mengikuti pelatihan sebelumnya, termasuk pelatihan sebelum bekerja, dan tidak ada yang memiliki kontrak kerja, tunjangan medis atau tunjangan sosial dari pemberi kerja.

Di tempat kerja, mereka juga tidak mendapatkan perlengkapan keselamatan dari pemberi kerja, seperti helm. Sekitar 64 persen pekerja dapat menabung secara minimal dari pendapatan mereka dan 36 persen tidak memiliki tabungan sama sekali.

Pandemi Covid-19 telah memengaruhi sebagian besar pekerja migran karena mereka kehilangan mata pencaharian dan menghadapi kesulitan ekstrem ketika pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi, tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba mengumumkan lockdown nasional pada 24 Maret tahun lalu untuk membendung penyebaran virus korona.

Selama lockdown, Jutaan pekerja migran yang menganggur terpaksa berjalan berkilo-kilometer untuk mencapai desa mereka di negara bagian asal, karena tidak ada fasilitas transportasi yang layak. Beberapa dari mereka meninggal karena kelaparan dan kecelakaan dalam perjalanan.

Lebih lanjut, studi tersebut menemukan bahwa banyak migran terpaksa meninggalkan Delhi dan kembali ke desa mereka, di mana mereka melakukan pekerjaan di lahan pertanian dengan upah yang jauh lebih rendah.

Meskipun pemerintah memberikan uang tunai dan jatah makanan untuk masyarakat miskin, sekitar 62 persen tidak memiliki informasi tentang skema tersebut, dan 37 persen tidak memiliki informasi tentang cara mengaksesnya.

Berkaca dari India, Indonesia, sebagai negara yang termasuk berpenduduk terpadat, perlu juga untuk merujuk pada berbagai studi terkait efek pandemi di Indonesia dan meninjau ulang skema bantuan untuk masyarakat miskin agar informasi, termasuk cara mengaksesnya, dapat sampai dengan baik ke masyarakat sasaran secara tepat.

 

Penulis: Hana Hanifah

Sumber: Ucanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *