by

Komunitas Sadap Indonesia: Keterlibatan Milenial dalam Isu Kebinekaan

Kabar Damai | Rabu, 15 Juni 2022

Jakarta I Kabardamai.id  Tri Natalia Urada dari Komunitas Satu dalam Perbedaan (Sadap) Indonesia membagikan perspektifnya tentang peran pemuda dalam merawat kebinekaan. Ia yang saat ini juga seorang pengurus pusat PMKRI ini memang sudah sejak lama dikenal dan terlibat dalam aksi kemanusiaan.

Ia menyatakan, berbicara tentang bagaimana bergabung dalam komunitas Sadap Indonesia, Tri Urada menyebutkan bahwa dirinya sebelumnya adalah ketua PMKRI di Sungai Raya Kalimantan Barat berteman dengan Isa Oktaviani, founder dari Sadap Indonesia.

Setelah bercerita tentang keresahan bersama terkait isu-isu keberagaman di Kalbar ditambah dengan pentingnya isu tersebut membuat timbul kesadaran untuk pentingnya anak muda yang bergerak bersama dalam menciptakan wadah perjumpaan dalam kehidupan beragama. Terlebih, sejarah panjang konflik tahun 1998 di Kalbar masih terngiang hingga saat ini.

“Seolah memang sudah selesai, tapi sebenarnya masih ada luka-luka yang belum sembuh sehingga peran kami anak  muda untuk hadir agar tidak adalah potensi konflik terjadi kembali,” ujarnya.

Ditanya tentang tanggapan anak muda seiring dengan munculnya komunitas anak muda yang dikenal dengan Sadap Indonesia ini, Tri biasa ia disapa menyatakan bahwa respon pemuda Kalbar sejauh ini sangatlah positif. Hal ini dibuktikan seiring dengan banyaknya anak muda yang merindukan ruang perjumpaan lintas iman dan suku.

Baca Juga: Dialog Stigma dan Agama, Cara SADAP Indonesia Ajak Pemuda Lebih Toleran

“Ketika tidak ada perjumpaan maka akan muncul prasangka negatif, tapi saat berjumpa maka aka nada ruang ngobrol dan menjadi refleksi tentang apa yang sebelumnya difikirkan,” ujarnya.

Bentuk dari perjumpaan yang dilakukan oleh Komunitas Sadap Indonesia yang masih berjalan hingga saat ini salah satunya dikenal dengan Tepelima atau Temu Pemuda Lintas Iman. Tepelima sendiri hingga saat ini menjadi konsen Sadap Indonesia dalam pelaksanaannya. Selain itu, Sadap Indonesia juga seringkali melakukan kolaborasi dengan komunitas-komunitas yang lain dan roadshow kerumah ibadah dan lain sebagainya.

“Diadakan diskusi bersama, nonton bareng dan bedah film dan sebagainya. Pertemuan dengan beda suku dan agama dapat kemudian dijadikan ruang sharing dan berbagi pengalaman,” tuturnya.

Dalam prosesnya, musik juga menjadi bagian kecil dalam hal pengimplementasian dan sarana belajar tentang keragaman. Hal ini dilakukan Sadap Indonesia dengan melakukan tampilan bersama dan berkolaborasi bersama dengan komunitas serupa.

Diminta tanggapan tentang kondisi dunia yang diliputi perang dan pertikaian dan kaitannya dengan Indonesia, Tri Urada mengungkapkan bahwa Indonesia bahkan dunia hari ini memang sedang tidak baik-baik saja. Tidak hanya pandemi dan lain sebagainya juga terjadi perang dinegara-negara luar yang sedang terjadi. Oleh karenanya, anak muda jangan sampai terprovokasi  dan menjadi agen perdamaian.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed