Komunitas Peacemaker Perbatasan: Damai di Belu untuk Indonesia

Oleh : Redemptus Ukat

“Mimpi Komunitas Peacemaker Perbatasan (Kompas) adalah Damai di Belu untuk Indonesia” Ujar Wakil Ketua Kompas, Pdt. Melky Nobisa dalam sebuah video di Channel Youtube Totolari Podcast. Dalam video yang dirilis pada 26 Januari 2022 itu beliau juga mengatakan bahwa kalau orang mau tahu tentang damai, mau tahu tentang keberagaman mari belajar di Belu dan mau tahu tentang perdamaian, mari belajar di Kompas.

Apa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Kompas itu bukanlah sebuah pepesan kosong. Memang demikian situasi kehidupan beragama dan berkeyakinan di Kabupaten Belu. Jumardi salah ustaz di Masjid Hidayatullah Atambua mengakui hal tersebut. Beliau mengatakan, “Di sini (Belu) kita masyarakat majemuk, Muslim memang minoritas karena masyarakat asli beragama Kristen. Tapi kehidupan toleransi beragama sangat bagus, terutama enam sampai tujuh tahun belakangan ini. tidak ada gangguan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah. Bahkan kita juga bebas mengumandangkan azan dengan menggunakan pengeras suara”.

Ia pun menjelaskan bahwa menjaga kerukunan beragama di Belu sangat penting. Diskusi lintas agama sering dilakukan sebagai wadah bertukar pikiran dan menjaga kerukunan antar warga. Setiap ada kegiatan keagamaan, khususnya Islam, pemuda dan tokoh lintas agama diundang untuk berpartisipasi menjaga kelancaran kegiatan tersebut. Begitu pun sebaliknya, ketika umat kristiani menjalankan ibadah, maka umat Islam ikut menjaga keamanan.  Contohnya pada saat Idul Adha  tahun 2018 pemuda lintas agama dari Protestan, Katolik dan agama lainnya turut membantu pengepakan dan distribusi daging kurban.

Baca juga : Memangnya Ada Cinta Dalam Agama?

Tak berbeda jauh dengan Jumardi, Joko Tri Haryanto dalam Jurnal Analisa berjudul Pelayanan KUA Terhadap Persoalan Keagamaan di Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur menulis hal yang kurang lebih sama. Ia menulis:

“Sekalipun umat Islam di Kabupaten Belu minoritas, tetapi dalam hal kerukunan umat beragama berjalan dengan baik. Tidak ada pertikaian antar umat beragama atau pun pertikaian karena bermotif agama berskala besar dalam dalam tahun – tahun terakhir ini. bahkan banyak tokoh muslim yang respek terhadap sikap umat Katolik, termasuk tokoh – tokohnya karena meskipun mereka kelompok mayoritas, tetapi mereka menghormati  dan bahkan melindungi umat non-katolik termasuk umat Islam.”

Pengakuan – pengakuan ini membuktikan bahwa Kabupaten Belu memang pantas dijadikan tempat untuk belajar tentang keberagaman. Namun apakah Kompas bisa dijadikan tempat untuk belajar tentang perdamaian sebagaimana yang disampaikan oleh Pdt. Melki? Nah mari coba kita mengenal lebih jauh tentang apa dan siapa itu Komunitas Peacemaker Perbatasan.

Komunitas Peacemaker Perbatasan atau Kompas adalah komunitas pemuda lintas agama, lintas etnis dan lintas gender yang ingin hidup berdampingan dengan sesamanya yang berbeda. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2012 di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Tujuan awalnya hanya untuk menghimpun anak – anak muda di desa Silawan untuk membangun perdamaian dan kerukunan di pintu batas negara Indonesia – Timor Leste. Namun dalam perjalanan waktu komunitas ini merasa bahwa gerakan membangun perdamaian di batas negara tidak bisa jika hanya dilakukan di satu desa saja. Karenanya mulai tahun 2015 kompas melebarkan sayapnya untuk aktif mengkampanyekan keberagaman di seluruh kabupaten Belu dan sekitarnya.

Upaya pertama-nya ialah membuka jejaring dengan berbagai organisasi pemuda lintas agama yang ada di kabupaten Belu seperti Orang Muda Katolik, Pemuda Polycarpus, Remaja Masjid dan Civil Society Organization lainnya. Para pemuda itu kemudian diberi pelatihan – pelatihan tentang sikap saling menghargai, menghormati dan menerima perbedaan dalam keberagaman. Mereka juga dibekali dengan pengetahuan tentang Hak Asasi Manusia, Empat Pilar Kebangsaan, action not violence, persamaan gender dan lain – lain.

Kedua, mengadvokasi pembangunan rumah – rumah ibadat yang dihambat oleh pemerintah ataupun masyarakat sekitar. Salah satu rumah ibadat yang masih diperjuangkan pembangunannya adalah gereja Betlehem Oeluan di Desa Bijeli, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara. Pada tahun 2013 masyarakat setempat yang mayoritas beragama Katolik mengganggu, merusak dan menghentikan pembangunan gereja ini karena diduga tidak memiliki IMB. Melihat persoalan yang ada kompas bersama CIS Timor berupaya mengadvokasi jemaat gereja Betlehem dalam mengurus administrasi serta berkoordinasi dengan semua stake holder yang beririsan langsung dengan kasus tersebut.

Ketiga, menginisiasi lahirnya pemuda – pemuda keberagaman di Kelurahan. Upaya ini telah dilakukan di dua kelurahan yakni kelurahan Berdao dan Beirafu di Kecamatan Atambua Barat. Dua kelurahan ini akan menjadi pilot project kelurahan yang toleran di Kabupaten Belu.

Keempat, pada tahun 2021 Kompas berkolaborasi dengan influencer lokal seperti Kodjek Atambua dan Totolari Podcast serta para jurnalis untuk mengkampanyekan keberagaman melalui berbagai platform baik media sosial, media online maupun media konvensional. Kampanye – kampanye ini dilakukan sebagai upaya melawan hoax, ujaran kebencian, penistaan agama dan berbagai propaganda  sesat yang berseliweran di dunia maya.

 Mengapa pemuda kompas perlu tampil dari batas negara? Hal ini karena mereka sadar bahwa perbatasan adalah wajah negara Indonesia. Apa yang dilihat bangsa lain di batas negara Indonesia, itu menjadi cerminan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Karenanya sebagai pemuda yang cinta NKRI mereka mengambil tanggung jawab untuk menjaga wajah negara ini agar tidak tercoreng oleh konflik – konflik  yang berbau SARA.

Mengambil tanggung jawab menjaga batas negara memang bukan pekerjaan yang mudah. Pemuda kompas menghadapi kendala dan tantangan yang besar. Salah satu yang terberat adalah bagaimana mengadvokasi berdirinya sebuah rumah ibadat dari kelompok minoritas. Tantangan yang biasanya menghadang adalah peraturan pemerintah yang diskriminatif, pemerintah yang berpihak pada mayoritas dan masyarakat sekitar yang intoleran. Akibatnya proses advokasi bisa berlangsung  bertahun – tahun baru menemukan solusinya.

Masalah lain yang dihadapi oleh kompas ialah masih banyaknya pemuda yang sedang mengalami degradasi moral, terlena dengan kehidupan yang hedon dan apatis terhadap persoalan – persoalan keberagaman. Hal ini kemudian berdampak pada jumlah relawan kompas yang tidak terlalu signifikan banyaknya dan cenderung berkurang seiring berjalannya waktu.

Walaupun begitu gerakan yang digagas oleh kompas juga menemukan hasilnya. Terhitung sampai tahun 2022 lalu, pada saat video podcast dirilis jumlah relawan kompas telah mencapai 300 orang yang tersebar di seluruh kabupaten Belu. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, ras dan gender.

Selain itu sejak kompas dibentuk pada tahun 2012, sampai hari ini tidak ada konflik – konflik antar agama yang terjadi di Kabupaten Belu. Kecuali, gesekan – gesekan kecil di masyarakat terkait pembangunan rumah ibadat. Itupun biasanya langsung ditanggapi untuk dicarikan jalan keluarnya.\

Beberapa hal ini membuktikan bahwa kompas layak menjadi tempat belajar anak – anak muda tentang perdamaian. Sebab selama ini kompas memang selalu berkomitmen mewujudkan mimpi besarnya yakni Damai di Belu untuk Indonesia. Yang menjadi motor utama gerakan ini adalah anak – anak muda di Perbatasan Indonesia – Timor Leste.

Penulis : Redemptus Ukat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *