Kompleksnya Melawan Pernikahan Anak

Opini74 Views

Gayatri Muthari

Setelah melalui pengalaman terjadinya pernikahan anak dari pekerja rumah tangga kami, saya menemukan begitu banyak kekurangan yang kurang diperhatikan dari para pemangku kebijakan maupun aktivis yang mengadvokasi anak-anak dan orang tua agar tidak mengalami pernikahan usia anak. Undang-undang terbaru memperkenankan pernikahan di atas usia 19 tahun. Namun, pada realitasnya, banyak anak usia di bawah 19 tahun telah melakukan pernikahan.

Mari kita melihat masalahnya satu demi satu secara singkat, diikuti solusi yang saya tawarkan.

(1) Doktrin seks pra-marital adalah dosa karena dianggap zina. Maka, daripada terjadi aib, anak usia di bawah 19 tahun dinikahkan saja. Solusi yang umumnya kaum agamis alias kaum PseudoIslam tawarkan adalah [a] Taaruf, atau Indonesia Tanpa Pacaran, dan [b] Pernikahan Usia Dini.

Solusi yang saya tawarkan: doktrin seks pra-marital itu dosa diubah menjadi doktrin bahwa seks pra-marital pada usia sebelum 19 tahun merugikan kesehatan, terutama bagi perempuan, dan pernikahan usia dini berarti tanggung jawab ekonomi yang harus ditanggung kedua pasangan. Kerugian kesehatan itu misalnya kanker, karena semua perempuan tanpa melihat latar belakang etnis dan agamanya, mewarisi gen HPV.

“Zina” secara etimologi Semit terkait dengan pelacuran atau persundalan, sedangkan sebagai terjemahan dari kata “tinaf” berarti seks ekstra-marital. Jadi, kata “zina” tidak ada hubungannya dengan seks pra-marital. Segala tafsir mengenai zina termasuk seks pra-marital berarti melampaui batas dari wahyu Allah dan syariat Allah.

Para mubaligh harus menekankan keutamaan dari menunda seks sampai usia 19 tahun dan keutamaan secara psikologis bagi perkawinan setelah usia 20 tahun. Keutamaan ini termasuk secara kesehatan jiwa, kesehatan reproduksi, dan kesehatan keuangan suami maupun istri.

(2) Lelaki bukanlah solusi keuangan Anda, hai Perempuan!

Selama ini tersebar doktrin dan atau mitos bahwa menikah dapat menjadi solusi bagi perempuan, karena suami menjadi kepala keluarga yang menafkahi istri. Secara teoretis, dalam fikih Islam yang sebenarnya, kewajiban suami adalah menafkahi istri, sedangkan kewajiban istri HANYA melayani secara seks. Tidak ada kewajiban seperti memasak, mencuci, dan mengurus rumah tangga. Namun, pada realitasnya, banyak lelaki tidak memiliki penghasilan tetap, bahkan tidak berpenghasilan sama sekali. Akibatnya, perempuan harus berperan ganda, bekerja di luar dan di rumah.

Para mubaligh harus mendakwahkan bahwa lelaki itu tidak hidup selama-lamanya dan tidak sehat selama-lamanya. Kalau seorang lelaki stroke, mengalami kecelakaan kerja bahkan meninggal, maka perempuan harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Dan, sebenarnya, begitu juga sebaliknya.Karena itu, yang harus menjadi topik ceramah ialah setiap lelaki maupun setiap perempuan harus mampu mandiri dan berdaulat dalam hal keuangan, agar dapat menopang dirinya dan keluarganya bersama-sama. Manakala menikah, keduanya harus berbagi tugas dan peran sesuai konteks masing-masing.

(3) Doktrin bahwa Rasulullah menikah dengan Aisyah, ketika Aisyah berumur 9 tahun.

Yang perlu digarisbawahi adalah setiap orang harus kembali kepada kajian antropologi dan historiografi, bukan kepada teologi dalam setiap riwayat mengenai suatu sosok yang hidup 1400 tahun lalu.

Sampai abad ke-17 M, semua orang di dunia masih lazim melakukan pernikahan di bawah usia 17 tahun. Raja-raja Eropa banyak yang menikah pada usia 14 tahun, dan begitu pun pula para permaisuri mereka baru berumur 12 tahun atau kurang, yaitu setelah mereka mengalami haid.

Baik hadis mengenai Aisyah itu benar, atau tidak benar, Rasulullah Muhammad melakukan pernikahan lagi setelah tiga tahun menduda, yaitu tiga tahun setelah kematian istri pertamanya Khadijah yang ia nikahi lebih dari 25 tahun secara monogamis, dan hampir semua pernikahannya merupakan pernikahan politik. Seluruh hadis yang dicatat 200-300 tahun setelah kematian Muhammad, harus disikapi dengan kehati-hatian bahwa di dalamnya sudah terdapat distorsi yaitu tafsir secara bahasa dari perawi hadis (siapa pun dia) menurut konteks ruang dan waktunya, bukan lagi konteks ruang dan waktu Rasulullah sendiri.

Oleh karena hal itu sulit divalidasi, dan satu-satunya realitas adalah peradaban manusia ini selalu berevolusi, dapat dilihat dari perkembangan sains dan teknologi kita, serta perubahan iklim seperti menghilangnya pulau-pulau dan berbagai penyakit mengerikan, serta dalam sejarah kita telah melihat hancurnya pemerintahan demi pemerintahan, maka para mubaligh seharusnya lebih menekankan kepada aspek kekinian dan kesinian.

Para mubaligh seharusnya tidak lagi berfokus pada romantisme masa lalu mengenai Rasulullah SAW yang bahkan sulit divalidasi oleh ia sendiri kecuali hanya menyebut suatu teks. Dalam hal ini, yaitu pada masa kini usia matang secara reproduksi dan psikologis adalah di atas 19 tahun, baik lelaki maupun perempuan. Fokusnya adalah untuk survival sesuai konteks ruang dan waktu kita sekarang, dengan kerentanan fisik kita, dan agar kita dapat melahirkan generasi yang lebih tangguh.

(4) Doktrin bahwa Rasulullah berpoligami, bahwa sunnah mengikuti Rasulullah.

Jika begitu beria-ia sangat untuk mengatakan segala apa yang dikerjakan Rasulullah menurut segala rupa hadis adalah sunnah, maka mula-mula yang dilakukan para pria untuk sahih melakukannya ialah
[a] berumur sekitar 25 tahun saat menikah pertama kali;
[b] menikah 25 tahun secara monogami pada pernikahan yang pertama;

[c] menduda secara sekurangnya 3 tahun sebelum menikah lagi;
[d] menikah dengan perempuan seusia seperti Rasulullah saat menikah lagi menikah dengan perempuan berumur 40-50 tahun;
[e] Membiarkan istri keduanya itu yang mencarikan lagi istri untuknya seperti yang dialami Rasulullah;

[f] Menikah dengan anak-anak perempuan atau janda dari para tetua adat dalam koalisi politik di negeri kadipaten yang dipimpinnya, itu artinya Anda sebagai pria harus menjadi setidak-tidaknya seorang Adipati/Bupati;
[g] Tinggal dalam satu kompleks dengan seluruh istri, misalnya satu gedung apartemen, dengan satu unit untuk setiap satu istri.

[h] secara logika, Rasulullah menduda selama hampir 3 tahun sebelum menikah lagi, dan menikah dengan yang sebaya, pada saat usia sekitar 53 tahun, artinya beliau menikah lagi bukan untuk seks.

Jika bukan [i] untuk politik, maka untuk [ii] melindungi perempuan yang datang meminta suaka perwalian baginya menurut konteks UU seperti UU Suryani-Romawi di wilayah-wilayah penyokong dan aliansi Bizantin di seluas Arabia Teluk Persia sampai Levant.

Atau itu adalah [iii] pernikahan spiritual (Sufistik). Nah, yang ini yang banyak orang Islam saat ini tidak paham karena Islam-nya sudah bukan Islam sampradaya-parampara lagi. Tapi NeoIslam-nya Manifest Destiny, atau Islam Skolastik modern Barat / pascakolonial.

(5) Doktrin pacaran itu dosa. Sebaiknya taaruf. Kemudian, sebaiknya segera menikah.

Kita harus gencar mendakwahkan atau mengkampanyekan PACARAN SEHAT UNTUK PERNIKAHAN YANG LEBIH BAIK. Kata “taaruf” sebenarnya adalah nama lain dalam bahasa Arab untuk kata Jawa, “pacaran” yaitu berhubungan atau mengenal calon pasangan. Pacar artinya calon pasangan. Titik. Kalau Rasulullah hidup berbahasa Jawa, beliau juga akan menggunakan kata “pacaran”, bukan “taaruf”.

Pacaran sehat itu dapat diringkas menjadi Pacaran SUFI yaitu pacaran yang menjalankan protokol SUFI (Safety, Understanding, Fun and Influence). Singkatan ini saya peroleh dari seorang antropolog.

Protokol “Safety” berarti, anak-anak kita diajarkan mengenai pentingnya seks yang aman dan bertanggung jawab demi kesehatannya dan masa depannya sendiri, dan bahwa ia bertanggung jawab melindungi dirinya maupun saat bersama pasangannya dalam hal keselamatan jiwa raga termasuk soal seks.

Protokol “Understanding” berarti pentingnya saling mengenal diri satu sama lain, serta keluarga satu sama lain, secara psikologis, untuk dapat direnungkan dan diputuskan jika kelak hidup bersama.

Kita harus gencar mendakwahkan bahwa MENIKAH ADALAH DUA ORANG HIDUP BERSAMA entah terpaksa harus terpisah jarak dulu atau jarang bertemu, tetapi kebersamaan itu adalah kebersamaan jiwa dan raga. MENIKAH BUKAN LEGALITAS SEKS semata, karena aktivitas seks hanya satu bagian saja dalam kehidupan bersama dan bagi banyak orang yang punya kelainan dan berpenyakit atau sudah tua, seks tidak lagi penting.

Itu sebabnya perlu protokol “Understanding” untuk dilatih dan dipraktekkan sebelum menuju jenjang hidup bersama, lalu protokol “Fun” yaitu hidup bersama itu untuk hidup bahagia bersama atau berusaha gembira bersama-sama, berusaha saling membantu kala ditimpa duka, stress, depresi, sakit, dlsb.

Maka, protokol selanjutnya ialah “Influence” yaitu saling mempengaruhi dalam hal kebaikan, saling memotivasi, hadir untuk pasangan saat diperlukan.

Apabila suatu pasangan akhirnya harus mengakhirinya karena ditemukan adanya ketidakcocokan, maka karena sudah menjalani protokol SUFI, persoalan yang harus dibereskan dan diselesaikan tidak akan begitu banyak untuk menata kehidupan baru. Ini akan mengurangi orang depresi, stress dan berbagai gangguan mental.

Jika Protokol SUFI sudah biasa diterapkan, akan menjadi biasa dipraktekkan saat menikah. Pengalaman-pengalaman berbagai orang pada masa lalu bahwa mereka bisa awet menikah tanpa pacaran, tidak dapat menjadi patokan generalisasi bagi semua orang karena psikologi, sifat, cara hidup, dan keadaan fisik setiap orang itu berbeda-beda.

Bagi yang suka romantisme masa lalu, dapat dicatat bahwa Rasulullah mengenal Khadijah selama bertahun-tahun, sebagai mitra bisnis satu sama lain, sebelum mereka akhirnya menikah. Jika dulu sudah ada teknologi messenger dan whatsapp, mereka pastinya sudah biasa chatting dan akhirnya mereka sama-sama merasa kecocokan satu sama lain untuk melangsungkan pernikahan.

(6) Pihak-pihak berwenang harus sesedikit mungkin menerima permohonan dispensasi pernikahan anak. Pemda setempat harus bergerak melalui para mubaligh di desa-desa, mereka harus ditatar untuk menjadi mubaligh yang progresif sehingga tidak akan terjadi lagi pernikahan di bawah usia 19 tahun. Kyai-kyai dan nyai-nyai berpengaruh di lokalnya harus dapat menjadi “influencer” pencegahan pernikahan anak. Komunitas-komunitas keagaaman yang progresif harus selalu berupaya pendampingan dan konseling di wilayah masing-masing apabila terjadi pernikahan anak.

Semua pihak harus menyadari bahwa ada berbagai implikasi dari pernikahan anak yaitu potensi seperti [a] perdagangan anak; [b] penelantaran istri dan anak; [c] kesehatan perempuan terutama kesehatan reproduksi dan kesehatan anak dari pernikahan anak; [d] kesehatan mental istri, suami dan anak dari pernikahan anak; [e] selain kualitas kesehatan jiwa raga, juga kualitas intelektual dan kualitas pendidikan.

Gayatri Muthari, pendiri Generasi Hijrah Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *