by

Komnas HAM akan Tindaklanjuti Dugaan Penganiayaan Jurnalis Tempo

Kabar Damai I Sabtu, 17 April 2021

Jakarta I kabardamai.id I Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) segera menindaklanjuti kasus dugaan penganiayaan yang dialami salah seorang jurnalis Tempo saat menjalankan tugas terkait peliputan kasus korupsi pejabat Kementerian Keuangan di Surabaya.

“Saya menerima pengaduan teman-teman AJI terkait dugaan penganiayaan Nurhadi. Komnas HAM akan menindaklanjuti aduan yang ada dan segera meminta keterangan para pihak,” kata Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM RI Beka Ulung Hapsara di Jakarta, Jumat (16/4/2021).

Hal tersebut disampaikan Beka usai menerima kunjungan atau audiensi Aliansi Jurnalis (AJI) di Gedung Komnas HAM.

Beka, seperti dilansir sumut.indozone.id, mengatakan Komnas HAM memandang kasus yang menimpa wartawan Tempo tersebut sebagai suatu kasus dan isu penting dan harus segera ditangani.

Sebab, jurnalis merupakan salah satu elemen penting dalam penegakan demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia. Selain itu, dalam menjalankan tugasnya, wartawan juga dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang 40 tahun 1999 tentang Pers.

Komnas HAM, kata Ulung, memandang peristiwa Nurhadi sebagai isu penting yang harus segera ditangani. Sebab, jurnalis adalah salah satu elemen penting dalam penegakan demokrasi dan HAM di Indonesia.

Oleh karena itu, Beka meminta aparat kepolisian segera mengusut dan memeriksa pihak-pihak yang terlibat dan diproses secara hukum sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku.

Sebelumnya, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) menduga kuat adanya keterlibatan oknum aparat kepolisian dalam kasus penganiayaan atau kekerasan yang dialami oleh Nurhadi wartawan Tempo saat bertugas di Surabaya, Jawa Timur.

“Dalam kasus ini ada dugaan kuat melibatkan apparat kepolisian,” kata sekretaris jendral PBHI Julius Ibrani.

Dugaan tersebut berdasarkan informasi awal PBHI bersama sejumlah jejaring di lapangan yang merujuk kepada identitas pelaku yang melakukan kekerasan terhadap wartawan tersebut.

 

Baca Juga : Komnas HAM Dorong Pemerintah Evaluasi Otsus Papua Usai Penembakan Guru

 

Tahun 2020: Polisi Aktor Utama Kekerasan terhadap Jurnalis

Tahun 2020, dalam ulasan tirto.id,  menjadi tahun yang kelam bagi demokrasi di Indonesia. Banyak pekerja pers, instansi yang disebut-sebut sebagai pilar keempat demokrasi, mengalami tindak kekerasan. Aktor utamanya tak lain kepolisian. Demikian temuan utama dari laporan tahunan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers.

Data yang dihimpun tirto dari monitoring pemberitaan media, aduan langsung, hingga konfirmasi kepada korban menemukan angka kekerasan mencapai 117, naik 32 persen dibandingkan tahun 2019 dengan 79 kasus. Dari jumlah tersebut, Polri menjadi aktor kekerasan terbanyak, jumlahnya 76.

“Institusi yang mestinya hadir untuk menjamin pemenuhan hak asasi manusia dan penegakan hukum ini justru tampil sebagai aktor utama kekerasan,” kata Direktur LBH Pers Ade Wahyudin, Selasa, 12 Januari 2021 lalu.

Masih dari catatan tirti.id, pihak lain yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis adalah: TNI sebanyak 2 kasus; jaksa 2 kasus; pengamanan sipil 3 kasus; kepala daerah 4 kasus; pejabat 1 kasus; kerabat pejabat 2 kasus; massa 5 kasus; pengusaha 4 kasus; individu 5 kasus; pengacara 1 kasus; dan terakhir anonim atau tanpa identitas 12 kasus.

Jumlah korban mencapai 99, 12 jurnalis pers mahasiswa, dan 6 instansi media. Bentuk kekerasan yang paling sering dialami oleh jurnalis adalah intimidasi/kekerasan verbal sebanyak 51 kasus; penganiayaan 24 kasus; perampasan/perusakan alat kerja 23 kasus, hingga serangan digital 12 kasus.

Jumlah korban mencapai 99, 12 jurnalis pers mahasiswa, dan 6 instansi media. Bentuk kekerasan yang paling sering dialami oleh jurnalis adalah intimidasi/kekerasan verbal sebanyak 51 kasus; penganiayaan 24 kasus; perampasan/perusakan alat kerja 23 kasus, hingga serangan digital 12 kasus.

Kasus kekerasan tersebar di sejumlah provinsi. DKI menjadi daerah terbanyak, yaitu 29 kasus, disusul Jawa Timur 25 dan Maluku Utara 10.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed