by

Komitmen Merawat Keberagaman dan Toleransi Oleh FKUB dan Paguyuban Etnis di Pontianak

Kabar Damai I Selasa, 22 Juni 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Barat membuat Kota Pontianak sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang beragam. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pernyataan yang menyatakan bahwa Pontianak adalah miniaturnya Indonesia. Bukan tanpa alasan, berbagai suku dan agama serta ras dan etnis berada di Pontianak. Kini, tercatat ada 22 suku dan etnis yang bermukim di Pontianak dan berkumpul dalam ikatan Perkumpulan Merah Putih.

Beberapa suku dan etnis yang ada di Pontianak yang tergabung dalam Perkumpulan Merah Putih antara lain Melayu, Dayak, Madura, Jawa, Bali, Toraja, Sulawesi Selatan, Nias, Sumatera Barat, Batak, Banjar, Keluarga Besar Sriwijaya, Batak Islam, Sunda, Timor, NTT, Banten, Maluku, Tionghoa, Kawanua, Kepulauan Riau dan juga Bima NTB.

Terdiri dari berbagai lapisan dan golongan masyarakat benar-benar dapat dikatan sebagai kota yang beragam. Walaupun demikian, tantangan-tantangan juga kemudian sangatlah mungkin menghampiri didepan.

Dilihat dengan mata telanjang, secara langsung Pontianak memanglah belum pernah menjadi pusat konflik dari berbagai masalah di Kalimantan Barat. Namun, potensi konflik hingga dampaknya selalu terasa disana. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena kedudukan Pontianak itu sendiri sebagai pusat dari pemerintahan dan perekonomian.

Baca Juga: Sekolah Pengelolaan Keberagaman Diselenggarakan di Pontianak

Konflik-konflik kecil memang tak terhindarkan di Pontianak, hal ini dikarenakan Pontianak adalah kota jasa yang sangat minim akan sumberdaya alam. Hal ini diperparah dengan diapitnya kota ini oleh dua kabupaten besar yaitu Kubu Raya dan juga Mempawah.

Riak-riak konflik tentu dapat menjadi bola salju yang kapan saja dapat meledak jika tidak ditangani sedari dini. Oleh karenanya, perlu kesadaran dan upaya dari semua kalangan dan golongan guna mencapainya.

Sejauh ini, organisasi dan komunitas keberagaman di Pontianak selalu berupaya menciptakan ruang perjumpaan dan diskusi hingga membahas tentang kebijakan kota. Hal ini dilakukan oleh Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) dan Jaringan Pontianak Bineka yang terdiri dari Satu Dalam Perbedaan (SADAP) Indonesia, Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Mitra Sekolah Masyarakat (MISEM) dan Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) Kalbar.

Berapa waktu lalu, Jaringan Pontianak Bineka ini telah melakukan riset terhadap peraturan daerah di Pontianak yang kemudian berhasil menemukan kebijakan yang toleran, intoleran dan berpotensi keduanya. Dalam hasil riset ini ditemukan tidak sedikit kebijakan di Kota Pontianak yang berpotensi intoleran dan dapat mempengaruhi kehidupan masyarakatnya.

Mengetahui hal tersebut, berbagai advokasi dilakukan oleh Jaringan Pontianak Bineka hingga disusunlah ranperda yang bekerjasama dengan FKUB, pemerintahan dan masyarakat sipil yang ada di Pontianak.

Sekolah Pengelolaan Keberagaman dan Komitmen Baik Merawat Toleransi

Yayasan Saka dan Jaringan Pontianak Bineka dalam rangka mengadvokasi tentang toleransi dan keberagaman menyelenggarakan Sekolah Pengelolaan Keberagaman (SPK). Kegiatan ini dilaksanakan di Transera Hotel, Pontianak. Jumat-Minggu, (18-20/6/2021) dan diikuti oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), pemerintahan, paguyuban suku dan etnis serta masyarakat sipil dan pemuda. Kegiatan ini juga sekaligus sarana ruang jumpa dalam menciptakan Pontianak yang lebih toleran.

Komitmen baik dalam merawat toleransi turut tersampaikan dalam forum tersebut. Abdul Syukur, Ketua FKUB Kota Pontianak mengungkapkan bahwa melalui kegiatan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan terus mengawal ranperda yang tengah diusung bersama.

“Tentu merawat keberagaman dan toleransi menjadi komitmen kita bersama. Terlebih dengan telah belajarnya kita bersama dalam SPK ini mari setelahnya kita kawal dan terus mendukung terwujudnya ranperda pengelolaan toleransi,” ungkapnya.

Menurutnya pula, upaya merawat toleransi dan juga keberagaman harus dilakukan melalui kolaborasi dan diskusi yang intens dan juga rutin bagi semua yang terlibat dan sadar akan pentingnya hal tersebut.

“Memperbanyak pertemuan dan diskusi harus lebih sering kita lakukan kedepan. Selain itu, perlu pelibatan lebih banyak elemen masyarakat dan pemuda agar cita-cita kita bersama dapat lebih cepat terealisasi,” terangnya.

Kolaborasi dan keterlibatan dalam menciptakan Pontianak kota yang lebih toleran adalah tanggung jawab bersama. Bahu membahu dan berkolaborasi dalam merampungkan ranperda sekaligus mengkampanyekan perdamaian kepada seluruh masyarakat harus sesering mungkin dilakukan agar kerukunan di Pontianak dapat semakin terasa.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed