by

Kisah Nabi Muhammad Libatkan Istri dalam Mengurus Umat

-Kabar Puan-42 views

Kabar Damai | Jumat, 03 Juni 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Zahrotun Nafisah dalam kanal Bincang Muslimah menceritakan kisah Nabi Muhammad yang turut melibatkan istrinya dalam berbagai urusan, termasuk dalam mengurus kepentingan umat.

Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa rasul adalah sosok teladan dalam berbagai aspek, teladan menjadi pemimpin, sahabat, ayah dan juga suami. Sebagai umat, kita dapat meneladaninya melalui berbagai posisi mulai dari aktifitas dan interaksi sosial.

Sebagai contoh, untuk meneladani Muhammad salah satunya dapat dilihat dari beberapa riwayat hadist tentang sikap yang mengedepankan musyawarah dalam mengedepankan suatu perkara.

Apabila hendak melihat teladan Muhammad sebagai ayah, dapat pula dilihat saat Muhammad sangat mencintai Fatimah serta menghargainya sebagai seorang perempuan.

Dalam konteks sahabat, meneladani Muhammad dapat dilihat melalui interaksi Muhammad yang tidak pernah menyakiti sahabat-sahabatnya, bahkan terkadang melakukan cara bercanda dengan para sahabat juga dilakukannya.

Begitupula saat menjadi seorang suami, Muhammad memiliki sikap yang sangat patut untuk ditiru. Hal ini diimplementasikan seperti dengan membantu pekerjaan domestic, tidak menyakiti istrinya dan menghargai pendapat istrinya.

Adapun salah satu sifat Muhammad dalam menghargai istri dan melibatkannya tercatat dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhori melalui penuturan sahabat. Saat itu, nabi sedang menyelesaikan sebuah perjanjian yang sebenarnya sangat merugikan umat Islam.

‘dari Miswar bin Makhramah radhiyallahu ‘anhu berkata: Ketika Rasulullah Shallalhu’ alaihi wa sallama selesai dari kontrak perjanjian Hudaibiyah baginda berseru kepada sahabat-sahabatnya ‘bangunlah dan sembelihlah kurban-kurbanmu, lalu cukurlah rambutmu. Demi Allah, tidak ada satupun dari sahabat Nabi yang berdiri mengikuti perintah beliau sekalipun perintah itu diulang sampai tiga kali,’.

Baca Juga: Muhammad Sang Kreator Egalitarian

Setelah terlihat tidak ada satupun yang menunaikan perintah, Nabi Muhammad masuk ke dalam kemah Ummu Salamah sambil menceritakan pembangkangan ini.

Ummu Salamah berkata: ‘wahai Nabi, apakah engkau ingin mereka melakukan itu?. Engkau keluar saja dari kemah, tidak perlu berbicara sepatah katapun kepada siapapun. Engkau mulai saja menyembelih kurbanmu dan undang tukang cukur untuk memangkas rambutmu.”.

Lebih jauh, ceritanya, ketika para sahabat melihat Nabi Muhammad melakukan hal itu sendiri, mereka kemudian berdiri, menyembelih kurban dan mencukur rambut satu sama lain.

Pada kisah ini, dapat kita ketahui bahwa dalam kehidupan rumah tangga dan dalam menjalin relasi dengan pasangan Muhammad memiliki kebiasaan untuk berbagi cerita dan berbagi keluh kesah bahkan dalam urusan umat.

Tindakan Ummu Salamah dalam memberi masukan kepada Muhammad dan dilakukan oleh Nabi sendiri menunjukkan bahwa Nabi menerima pendapat istrinya. Darisini dapat diuraikan tentang dahsyatnya kisah ini dan memberi dampak dalam konteks sosial. Hal ini karena pada saat itu para suami enggan melibatkan istri dalam memutuskan suatu perkara.

Pada masa itu juga, perempuan mendapatkan stigma buruk dipandangan masyarakat yang tidak dianggap sebagai subjek yang dapat ambil peran dalam memutuskan suatu perkara.

“Melalui kisah ini, Nabi melawan stigma dan kebiasaan itu dan menjadikan relasi yang adil dengan melibatkan istri bahkan untuk urusan umat yang bersifat publik,” ujarnya.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed