by

Kisah Keluarga Muslim Penjaga Pintu Gereja di Yerusalem

Kabar Damai | Selasa, 16 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Adeeb Jawad Joudeh Al Husseini, seorang Muslim, bersetia menjaga pintu masuk pengunjung Gereja Makam Kudus, Yerusalem. Gerbang gereja yang didirikan pada abad ke-4 tersebut adalah tempat menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Ayah Al Husseini, kakeknya, dan belasan generasi di atasnya juga menjalani hidup sebagaimana dirinya yakni duduk di kursi seraya menjaga gereja yang diyakini umat Kristiani sebagai makam Yesus Kristus.

Ada kunci besi sepanjang 20 sentimeter dalam kantung jaket kulitnya, satu-satunya benda yang dapat membuka gerbang gereja. Al Husseini bercerita kepada BBC News bahwa keluarganya diberi tugas menjaga gereja itu oleh Saladin.

Saladin adalah sultan yang merebut Yerusalem dari tentara Salib pada 1187 di masa lampau. Saladin ingin memastikan gereja tersebut tidak dirusak oleh umat Muslim seperti apa yang terjadi pada 1009.

Saat pemimpin kekhalifahan Fatimiyah, Al Hakim memerintahkan sejumlah gereja di Yerusalem dibakar, termasuk Gereja Makam Kudus, Saladin memberikan kunci kepada keluarga Al Husseini untuk melindungi gereja.

Gereja Makam Kuus digunakan oleh enam denominasi kuno yakni Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Etiopia, dan Ortodoks Koptik. Setiap mazhab mempunyai biarawan yang bermukim di kompleks gereja.

Sepanjang sejarah, hubungan antara komunitas keagamaan di kompleks tersebut mengalami pasang-surut. Pernah juga muncul aksi kekerasan pada saat akan menentukan denominasi mana yang menguasai bagian tertentu dari gedung gereja tersebut.

Untuk menenangkan ketegangan yang terjadi, ada sebuah perjanjian yang dibuat pada 1853 yang berisi tentang pembagian ruangan dalam gereja untuk setiap denominasi.

Setiap pagi, tatkala gerbang gereja dibuka pada pukul 04.00, anggota keluarga Nuseibeh dan Al Husseini, atau perwakilan yang ditunjuk kedua keluarga itu, muncul untuk melakoni sebuah upacara.

Perwakilan keluarga Muslim kemudian membuka kunci dan mendorong salah satu daun pintu. Pemuka agama Katolik Roma, Ortodoks Yunani atau Ortodoks Armenia kemudian masuk ke dalam gereja dan menarik daun pintu lainnya, tergantung dari siapa yang bertugas menurut jadwal.

Pemuka agama dari denominasi lainnya kemudian menjalankan tugas untuk mengawasi. Upacara serupa juga dilakukan saat gereja ditutup tepat pada pukul 19.00 setiap harinya.

Al Husseini menyatakan bahwa bagi keluarganya, tugas untuk menjaga kunci Gereja Makam Kudus secara turun-temurun adalah suatu kehormatan. “Kehormatan itu bukan hanya untuk keluarga kami, melainkan juga untuk semua umat muslim di dunia,” kata Al Husseini pada BBC News.

Bersama keluarga Muslim bernama Nuseibeh, keluarga Al Husseini kemudian menjadi bagian dari pengurus Gereja Makam Kudus yang ditentukan dalam sebuah struktur.

Baca juga: Eti Kurniawati Guru Kristen Pertama yang Mengajar Madrasah di Tana Toraja

Para turis dan peziarah yang datang ke Gereja Makam Kudus memiliki tujuan untuk mencium bongkahan batu yang dipercaya sebagai tempat jenazah Yesus dimandikan sebelum dimakamkan.

Para pengunjung juga bisa memasuki ruang bawah tanah yang diyakini pernah menampung jenazahnya. Semua kegiatan tersebut harus melewati penjagaan keluarga Muslim yang duduk di bangku sembari menangani urusan bisnis dan keluarga.

Para ahli sejarah belum bisa menentukan secara pasti sudah berapa lama dua keluarga Muslim tersebut bertugas sebagai penjaga gerbang gereja. Kedua keluarga Muslim tersebut justru sudah dianggap sebagai tokoh penting dalam operasional rutin gereja tersebut.

Pada dasarnya, peran dua keluarga Muslim tersebut bagi para ahli sama seperti banyak hal yang terjadi di gereja-gereja lainnya dan menjadi sebuah tradisi. Raymond Cohen menyatakan bahwa tradisi tersebut adalah salah satu yang paling berharga di Yerusalem.

Raymond Cohen adalah seorang profesor emeritus Universitas Ibrani Yerusalem di bidang hubungan internasional yang telah mengkaji Gereja Makam Kudus dan menulis buku Saving the Holy Sepulchre.

Pembagian tugas dua keluarga Muslim tersebut telah diatur sejak lama. Keluarga Al Husseini memegang kunci gerbang gereja, sementara keluarga Nuseibeh bertugas untuk membuka dan menutup pintu gereja.

Wajeeh Y. Nuseibeh, keluarga Muslim penjaga kunci gereja lainnya mengaku bahwa tugas tersebut diberikan pada 637 pada saat Khalifah Umar bin Khattab membawa agama Islam ke Yerusalem.

Sejak saat itu, keluarga Nuseibeh diberi kepercayaan melindungi Gereja Makam Kudus dari orang-orang yang ingin merusak gereja. Wajeeh Y Nuseibeh memiliki kartu nama bertuliskan jabatannya sebagai pelindung dan penjaga gerbang Gereja Makam Kudus.

 

Penulis : Ayu Alfiah Jonas

Editor: A. Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed