by

Ki Hajar Dewantara: Sang Guru dan Pelita Pendidikan Bangsa

Kabar Damai I Jumat, 26 Desember 2021

Jakarta I kabardamai.id I Hari Guru Nasional tidak pernah bisa terlepas dari sosok Ki Hajar Dewantara.  Perjuangan, karya dan semangatnya demi pendidikan bangsa Indonesia, membuatnya rela menghabiskan waktunya untuk berjuang demi kemerdekaan pendidikan bangsa.

Ki Hadjar Dewantara, beliau merupakan salah satu Pahlawan Nasional di Indonesia yang dikenal dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional. Semboyan Sang Guru yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sung TulodoIng Madyo Mangun KarsoTut Wuri Handayani. Semboyan ini memiliki arti bahwa setiap diri kita  harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi insan yang berkarakter.

Ki Hadjar Dewantara berasal dari keluarga bangsawan, berpendidikan pesantren dan sekolah setara Eropa, sempat sekolah kedokteran, jadi wartawan, pendiri partai politik nasionalisme pertama, pejuang pendidikan, kebudayaan, dan kemerdekaan.

Ki Hadjar Dewantara dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ayahnya seorang pangeran yang bernama Pangeran Suryaningrat yang merupakan putra Paku Alam ke-4 dari Yogyakarta. Beliau menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaj Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

Soewardi muda sangat ulet sebagai seorang wartawan muda, beliaunya juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, beliaunya aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. beliaunya juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Baca Juga: Trilogi Pendidikan Ala Ki Hajar Dewantara

Selama di Belanda Soewardi muda memanfaatkan kesempatan ini untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Setelah Soewardi muda kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya.

Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Kemudian beliau memusatkan perjuangan melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 JuIi 1922. Perguruan ini merupakan wadah untuk menanamkan rasa kebangsaaan kepada anak didik. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan.

 Ki Hajar Dewantara Penggerak dan Pendidik

Beberapa tokoh pergerakan yang yang ada di Indonesia merupakan sosok insan yang konsisten, terpelajar, dan pandai bersiasat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, tidak banyak yang meninggalkan lembaga yang didirikan sejak zaman penjajahan Kolonial Belanda dan bertahan hingga sekarang serta nama dan waktu lahirnya diperingati oleh jutaan penduduk Indonesia kontemporer.

Diantara tokoh penggerak masuk di dalamnya akan tetapi tidak ada jejak lembaga yang telah didirikan dan bertahan hingga sekarang. Hanya jejak lembaga pendidikan yang telah didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara hingga saat ini bertahan.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa Ki Hadjar Dewantara bukan saja merupakan salah satu perintis dunia pendidikan di Indonesia, melainkan juga salah satu perintis dunia jurnalistik Indonesia. Di masa mudanya, beliau menjadi aktivis organisasi Insulinde, Sjarekat Islam, Boedi Oetomo, Indische Partij, serta politisi dan pendiri Pergoeroean Nasional Tamansiswa.

Ki Hadjar Dewantara kemudian dianugrahi Pahlawan Nasional, Bapak Pendidikan Indonesia, sekaligus mendapat gelar kehormatan yakni doktor honoriscausa dari Universitas Gadjah Mada. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959 Tanggal 28 November 1959, hari lahir beliau telah ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Semboyan beliau, tutwuri handayani, sampai saat ini menjadi slogan Kementrian Pendidikan Nasional dan tercantum dalam lambang pendidikan Indonesia.

Sedangkan mengenai sosok guru, Ki Hajar Dewantara telah mengisyaratkan posisinya itu dengan melalui petuah-petuah dalam bahasa sansekerta. Guru bukan sekedar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi dia juga harus dapat menjadi instrument perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas.

Selain itu juga guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di sekitanya. Nilai esensial yang harus tertanam pada seorang guru sebagai sokoguru pendidikan di Indonesia adalah berfikir, berdzikir, beramal sholeh, serta mengabdi kepada masyarakat.

Semboyan Ki Hajar Dewantara

Semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat bengitu melekat di benak kita masing-masing adalah “Ing ngarsa sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Apabila hakikat dari semboyan ini benar-benar di implementasikan dengan baik dan benar oleh diri kita, maka akan memberikan dampak positif bagi diri kita sendiri dan generasi bangsa yang akan datang.

Ing ngarso Sung Tulodo, ketika di depan memberi teladan. Hakikat dari semboyan yang pertama ini mengajak kepada guru, bahwa guru harus mampu memberikan contoh yang baik dan benar bagi siswanya, baik sikap, perbuatan maupun pola pikirnya.

Apalagi seorang guru dalam kurikulum 2013 juga dituntut untuk membentuk siswa yang salah satu kompetensi intinya dapat Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

Oleh karena itu, apabila guru memberikan teladan yang baik dan benar, maka perilaku siswa akan menjadi baik juga, bahkan mereka bisa jadi lebih baik dari pada kita. Dengan kata lain, seorang guru merupakan public figure yang akan dijadikan panutan siswanya, maka guru harus memiliki akhlak yang luhur.

Ing Madyo Mangun Karso, ketika di tengah memberikan semangat. Hakikat dari semboyan yang kedua ini mengajak kepada para guru, bahwa para guru haruslah berada di antara siswanya, dengan kata lain guru juga sebagai teman bagi siswanya. Dengan demikian, para guru dengan leluasa membimbing dan memberikan inspirasi kepada anak didiknya.  Sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dan nyaman bagi mereka.

Tut Wuri Handayani, ketika di belakang memberikan daya kekuatan. Hakikat dari semboyan yang ketiga ini mengajak kepada para guru untuk selalu memberikan arahan yang baik dan benar dalam kemajuan belajar siswanya. Oleh karena itu para guru dapat memotivasi anak didiknya untuk lebih giat dalam belajar. Dengan demikian, mereka merasa selalu diperhatikan dan selalu mendapat pikiran-pikiran positif dari diri gurunya. Sehingga mereka selalu memandang ke depan dan tidak terpaku pada kondisinya saat ini.

Ketiga semboyan ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Sebagai contoh, seorang guru memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai pada siswanya. Dalam hal ini guru tidak hanya begitu saja mendorong dan mengarahkan siswanya untuk mengikuti nilai-nilai tersebut, tetapi guru juga harus memberikan contoh bagaimana nilai-nilai tersebut tertanam di dalam dirinya. Selain memberi contoh, guru juga harus mengarahkan nilai-nilai tersebut di tengah-tengah siswa dan memberi motivasi mereka untuk bertindak agar sesuai dengan nilai-nilai tersebut.

Ada satu semboyan lagi yang sangat melekat pada diri kita, yaitu Asih, Asah dan Asuh. Asih adalah mengasihi anak secara psikis agar terbentuk karakter atau jiwa yang saling menyayangi terhadap sesama. Asah adalah menajamkan intelektual atau pola pikir anak agar menjadi manusia yang cerdas dan pintar secara intelektual. Asuh adalah pemeliharaan anak secara fisik agar sehat dan kuat jasmaninya.

Semasa hidupnya, Ki Hajar Dewantara kenyang dengan pengasingan oleh Belanda. Pasalnya, dia sangat vokal dan keras memperjuangankan kemerdekaan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Meskipun terlahir sebagai keturunan bangsawan, dia tidak melupakan rakyat sekitarnya yang tertindas.

Pengabdiannya pada dunia pendidikan di Indonesia, membuat Ki Hajar Dewantara sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, pertama dalam kabinet perdana Republik Indonesia. Salah satu ajarannya yang masih dikenang hingga kini adalah pesannya untuk para pemuda, “Setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed