by

KH Ali: Perlu Perhatian Bersama untuk Lawan Terorisme di Kalangan Millenial

Kabar Damai | Senin, 12 April 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Ali M Abdillah meminta semua pihak memberi perhatian dalam melawan infiltrasi terorisme di kalangan anak muda (milenial).

Menurut Ali, praktik infiltrasi paham terorisme kepada kalangan milenial tersebut harus dilawan, tidak boleh dibiarkan terjadi. Praktik cuci otak dikhawatirkan menjadi cara paham terorisme disusupkan kepada kalangan milenial.

Baca Juga : Ideologi Radikalisme dan Terorisme Kini Menyasar Kaum Millenial dan Generasi Z

”Hal ini perlu menjadi perhatian semua pihak agar langkah antisipatif dapat dilakukan. Orang tua harus mengawasi betul, karena jaringan teroris ini dapat memanfaatkan organisasi kerohanian sekolah sebagai pintu masuk doktrinasi terhadap antinegara, antipemerintah,” ujar Kiai Ali dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (10/4/2021), seperti dikutip bisnis.com (11/4).

Hal ini dikatakan Kiai Ali seiring aksi teror yang terjadi pada pekan terakhir Maret 2021 lalu di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri.

Melansir bisnis.com, kedua aksi teror itu dilakukan oleh mereka yang berusia masih muda. Kiai Ali mengatakan antisipasi terhadap paham teror ini juga harus dilakukan di kalangan sekolah.

Menurut Kiai Ali,  Kemendikbud, Kemenag dan seluruh lapisan masyarakat harus memberikan perhatian dalam mengawasi paham radikal tersebut agar tidak masuk di lingkungan sekolah.

“Ketika anak sudah masuk ke jaringan mereka [kelompok radikal] dan diberikan doktrin sesuai dengan kepentingan mereka maka ini akan menjadi amunisi yang suatu saat bisa meledak. Ini yang harus diwaspadai bersama,” ujarrnya.

Oleh karena itu, Kiai Ali mengungkapkan, pengajian melalui media sosial (medsos) perlu dikendalikan dan diperhatikan.

Apalagi, lanjutnya, ketika mengajarkan ajaran yang tidak sejalan dengan corak keragaman di Indonesia. Pemerintah diminta lebih baik tegas.

Kiai Ali juga menegaskan peran orang tua sangat penting dalam memantau anak-anaknya.

”Karena anak-anak ini sudah menjadi incaran kelompok radikal. Hal ini perlu diperketat karena melalui pintu-pintu tadi kelompok teroris melakukan perekrutan dan cuci otak terhadap generasi muda,” terang Ali.

 

MUI Bentuk BPET

Selain itu, pria yang juga Ketua Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyin (MATAN) DKI Jakarta itu juga menyampaikan bahwa di MUI sudah terbentuk Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET).

Ini menunjukkan bahwa MUI serius dalam melakukan kontranarasi sekaligus deradikalisasi kepada anak muda yang terpapar ajaran radikalisme.

Karena itu, Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta ini mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kondisi terkini yang sedang terjadi karena saat ini negara tidak membiarkan kelompok ini bergerak bebas.

“Kita memiliki aparat-aparat yang terus mencari jaringan mereka (teroris) sembari kita juga melakukan pengamanan di tingkat lingkungan dan keluarga serta berdoa kepada Allah SWT agar bangsa dan negara kita diberikan perlindungan oleh Allah SWT. Masyarakat harus aktif, dan pihak keamanan juga harus kita support demi ketentraman dan keamanan rakyat Indonesia,” pungkasnya.

 

Propaganda Virtual

Sebagaimana kita ketahui bahwa pelaku bom bunuh diri di Makassar beberapa waktu lalu merupakan laki-laki berusia 26 tahun sedangkan ZA yang merupakan pelaku penyerangan Mabes Polri perempuan berusia 25 tahun.

Usia yang tergolong milenial ini, menimbulkan kesimpulan di kalangan masyarakat bahwa usia produktif atau usia para milenial lebih mudah terpapar oleh ideologi kekerasan dan radikalisme.

Dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Ilham Nur Alfian, mengatakan bahwa doktrin ideologi kekerasan dan radikalisme tidak ada konotasinya dengan masyarakat usia produktif.

“Saat ini konteksnya adalah model doktrinasi ideologi kekerasan dan radikalisme tersebut dilakukan dengan media-media sosial,” terangnya, dilansir dari laman Unair.ac.id.

Terorisme modern menyasar pada propaganda virtual dengan bantuan media sosial untuk melipat gandakan teror dan pelaku teror di suatu negara, termasuk Indonesia.

“Serangan teroris modern mengalami penurunan dalam hal kualitas namun meningkat dalam hal popularitas,” imbuhnya.

Aktivitas masyarakat usia produktif yang gemar berselancar di media sosial menjadi alasan bahwa mereka mudah terpapar oleh ideologi kekerasan dan terorisme.

“Dalam konteks penggunaan propaganda virtual inilah kelompok milenial atau yang saat ini masuk usia produktif pasti sangat berisiko dan rentan menerima doktrin tersebut (Kekerasan dan terorisme, Red) karena aktivitas mereka memang berselancar di media sosial,” terang Ilham.

Masyarakat yang terpapar oleh propaganda virtual cenderung melancarkan pola serangan terorisme yang bersifat “Lone Wolf”. Istilah ini, mengacu pada cara para teroris yang menyerang dengan cara tidak ber grup dan mereka cenderung melakukan aksinya dengan skala kecil dan acak.

“Di sinilah bahayanya, serangan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja,” ujar  Ilham, seperti dikutip Kompas,com (09/04).

Karakteristik seorang teroris secara psikologis juga sulit untuk diidentifikasi.

“Agak sulit memang mengidentifikasi karakteristik psikologis apa yang secara khusus bisa mengidentifikasi kecenderungan orang-orang yang akan melakukan tindakan terorisme,” paparnya.

Ilham berpesan untuk mencegah agar masyarakat tidak mudah terpapar ideologi kekerasan dan terorisme maka harus berhati-hati dalam menerima segala informasi.

“Yang jelas critical thinking dalam situasi banjir informasi di media sosial menjadi penting,” tutup Ilham.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Sumber: bisnis.com | unair.ac.id | kompas.com

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed