by

Keunikan Sosok ‘Isa Alaihis Salam dalam Ahmadiyah

Oleh: Jurjis Gigih

Bagi peminat studi agama-agama, tulisan ini dibuat herdasarkan pergumulan yang dalam, tentang hubungan yang kondusif antar iman di Indonesia, yang dalam banyak aspek bersitegang dan acap kali dalam perjumpaan selalu tidak harmonis, dalam hal ini antar umat beragama baik Kristen secara interen maupun Islam secara interen pula. Cukup banyak usaha-usaha baik dari pihak Kristen maupun Islam yang dibuat untuk menjembatani dialog yang sehat.

Usaha-usaha itu diretas oleh para pemikir Kristen maupun Islam untuk sebuah peradaban yang sehat, yang damai tanpa peperangan wacana. Rekonsiliasi ini bukan tanpa sebab, karena jika dibiarkan situasi pelik ini seperti bola liar, yang akan berimbas menjadi sektarian berwajah agama.

Tentu jika ini terjadi maka akan menafikkan nilai atau azas-azas hakiki dalam beragama yaitu ajaran perdamaian dan cinta kasih. Hubungan antar umat Kristen dan Islam di Indonesia, pada salah satu aspeknya mewarisi “beban sejarah” dari para pendahulunya, yaitu Kristen dan Islam memiliki warisan dan perjumpaan historisnya masing-masing dalam cara memperlebar sayap.

Sekali lagi dalam konteks Indonesia yang majemuk ini, ragam agama dan kepercayaan tidak menjadi suatu masalah bagi bangsa ini, terkadang agama menjadi sesuatu yang sangat sensitif bila dibicarakan, tetapi manusia memiliki hak asasi masing-masing dalam menentukan pilihannya untuk menjalin hubungan dengan Sang Penciptanya, dan seyogyanya sebagai umat beragama harus lebih dipererat lagi tali persaudaraan dan jiwa nasionalisme.

Dalam tulisan ini, penulis tidak hendak mencampuri urusan interen yang terjadi dalam salah satu agama dan kepercayaan, tetapi sekali lagi hanya sebatas menghindari titik tengkar dengan cara merangkai paralelisasi yang akan menuju sebuah kesalingpahaman antar kedua belah pihak.

Kegiatan Anjangsana yang diselenggarakan oleh ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) pada tanggal 6-8 Desember 2021 semakin memperkaya wawasan penulis tatkala mengunjungi komunitas Ahmadiyah yang berada di Desa Manislor, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Baca Juga: Live in Manislor: Mengenal Lebih Dekat Komunitas Ahmadiyah

Berbicara tentang Ahmadiyah sesungguhnya sudah tak asing lagi bagi penulis, dan selama ini Ahmadiyah bagi masyarakat yang mayoritas Islam diluar Ahmadiyah menjadi kontroversi yang berlebih, apalagi bagi para pemikir teolog Islam.

Ahmadiyah dianggap menyimpang dari ajaran murni Islam, seperti yang dinyatakan sejak tahun 1980 dalam fatwa MUI (Majelis Ulama Indnesia), dengan adanya fatwa itulah maka mengakibatkan terjadinya sikap yang anarki hingga masjid-masjid jemaah Ahmadiyah disegel sampai dibakar.

Saat mengunjungi mereka, penulis semakin mengenal lebih dekat dan memiliki rasa prihatin dengan apa yang terjadi dengan Jemaah Ahmadiyah. Dipimpin oleh Bapak Nurhalim, kami para peserta anjangsana diajak untuk mengunjungi sekitar ± 8 masjid yang dahulu pernah disegel, hendak dirusak oleh warga sekitar, dan ada satu lagi masjid jemaah Ahmadiyah yang sangat memprihatinkan, yaitu Masjid Nurul Islami yang didirikan pada tanggal 8 November 2000, tetapi pada tanggal 26 November 2000 terjadi pembakaran, tersisa puing-puing warna hitam pada tembok bangunan bekas pembakaran.

Selain itu, kami juga mengunjungi ke tempat pemakaman warga jemaah Ahmadiyah. Jemaah Ahmadiyah sangat ramah sekali dan mereka memberikan pelayanan yang sangat baik terhadap kami para peserta anjangsana, dengan sikap yang diberikan oleh mereka membuat kami haru dan jika boleh jujur mereka lebih dapat memanusiakan manusia daripada orang-orang yang berilmu tinggi tetapi tak dapat memanusiakan.

Mereka mempunyai hak untuk berkarya di Indonesia, setiap orang memiliki hak hidup, hak berkeyakinan, bebas dalam beragama, maka harapan saya ke depan adalah jemaah Ahmadiyah tetap menjadi bagian dari Indonesia.

Momen yang lebih menarik dan menjadi meeting point-nya adalah saat berdiskusi dengan salah satu jemaah Ahmadiyah yaitu Bapak Ihsan, sambil menyantap hidangan makan siang kami melakukan dialog yang seru. Dalam perspektif Ahmadiyah, tentang Nabi ‘Isa as. diyakini terjadi penyaliban, hal ini berbeda dengan penafsiran mayoritas para teolog Muslim mengenai penyaliban ‘Isa, bahwa ‘Isa tidak pernah disalib, tetapi diserupakan sesuai dengan Qs. An-Nisa 157.

Selanjutnya, memang terjadi penyaliban tetapi ‘Isa tidak mati melainkan menderita hingga jatuh pingsan kemudian tampak seperti sudah mati, lalu terselamatkan dari malapetaka penyaliban, lalu kembali sadarkan diri. Setelah menyadarkan diri, sang nabi diobati dengan Marham Isa (salep Isa), kemudian mengembara sampai ke India dan tiba di Punjab, setelah melewati Afghanistan dengan tujuan pergi ke Kashmir. Selanjutnya Nabi Isa as. menikah dan memiliki keturunan dan hidup sampai usia 125 tahun dan dimakamkan di Kashmir, hingga ada suku bernama Isa Khil yang mungkin keturunan dari Nabi Isa as.

Dalam berjalannya diskusi dengan Bapak Ihsan, penulis menjelaskan bahwa dalam Kekristenan, Yesus tetap disalib, kemudian mati, lalu bangkit dan naik ke sorga. Namun, orang yang pergi ke India adalah Santo Thomas, bukan Yesus atau ‘Isa. Thomas adalah murid langsung dari Yesus Kristus, dan Rasul Thomas diutus untuk mengabarkan Injil sampai ke wilayah Persia, Asia Tengah, dan India.

Thomas tiba di India tepatnya mendarat di Muziris (Cranganore) di pantai Kerala pada tahun 52 M pada masa pemerintahan Raja Gundapur, dan menjadi martir/mati syahid di Mylapore, dekat Madras pada tahun 72 M. Santo Thomas telah mendirikan tujuh gereja (komunitas) di Kerala.

Gereja-gereja ini berada di Kodungallur, Palayoor, Kottakkavu (Paravur), Kokkamangalam, Niranam, Nilackal (Chayal), Kollam, dan Thiruvithamcode. Thomas membaptis beberapa keluarga, yaitu Pakalomattom, Sankarapuri, Kalli, Kaliyankal. Dan sampai sekarang dapat disaksikan di India ada Gereja Ortodoks Mar Thoma dan Syro-Malabar hasil penginjilan St. Thomas.

Sungguh menarik mengenai kedua kisah tersebut, tetapi hal itu tidak menjadi pertandingan melainkan terciptanya dialog yang menyadarkan kita bahwa ada kesamaan, tetapi kesamaan itu ternyata juga terdapat perbedaan yang cukup tajam jika dikaji dengan seksama.

Perbedaan itu selalu ada, tetapi perbedaan tidak memisahkan kita sebagai bangsa Indonesia melainkan dapat hidup bersama-sama saling berdampingan dan menerima kepelbagaian. Kiranya tulisan ini dapat menjadi “angin segar” dalam sanubari pemikir dari rekan-rekan sejagad Nusantara.

 

Jurjis Gigih, Pemuda Kristen Ortodoks dan Alumni Anjangsana Pemuda Lintas Iman 2

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed