by

Ketum PP Muhammadiyah: Para Konglomerat Agar Berempati dan Peduli pada Sesama

Kabar Damai | Selasa, 20 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, mengingatkan para elite di Tanah Air, dan para konglomerat serta kalangan yang berlebih hartanya, untuk senantiasa berempati dan peduli terhadap mereka yang terdampak pandemi.

Pernyataan ini disampaikan Haedar dalam rangka menyambut Hari Idul Adha di tengah pandemi yang masih melanda. Ketika pandemi Covid-19 masih meninggi dan terbukti dampaknya luas selain ancaman jiwa, juga terhadap kehidupan sosial-ekonomi terutama bagi masyarakat bawah.

“Maka saat paling tepat dan mulia yaitu bila seluruh kekuatan bangsa, termasuk para konglomerat atau pengusaha dan kaum berpunya untuk empati dan peduli terhadap sesama yang terdampak pandemi,” tutur Haedar dalam pesan tertulis, Senin, 19 Juli 2021.

Baca Juga: Haedar: Jangan Sampai Kader Muhammadiyah Wawasan Kebangsaannya Cupet

Melansir Republika Online, menurut Haedar, banyak yang terkena positif Covid sekaligus kehidupan ekonominya semakin terbatas dan berkekurangan.

“Jangan biarkan saudara-saudara kita itu makin menderita dan duka dalam kehidupannya. Ringankanlah mereka dengan cara berbagi rezeki,” ungkap dia, kutip republika.co.id.

Dia juga mengingatkan pejabat pemerintah dari pusat sampai bawah agar semakin tinggi komitmennya dalam mengatasi pandemi secara konsisten dan sungguh-sungguh terjun ke lapangan. Sebab, banyak persoalan nyata yang sering tidak terjangkau birokrasi yang kaku dan sekadar berbasis laporan resmi, sehingga perlu langkah lebih berani sekaligus melindungi rakyat yang kesusahan.

Haedar juga menyampaikan pesan kepada anggota DPR dari pusat sampai daerah, supaya membuktikan diri memperjuangkan nasib rakyat yang sangat kesusahan, bukan dengan kata-kata tetapi dengan tindakan nyata.

“Jangan ingin memperoleh perlakuan khusus di kala rakyat susah dan menderita, berbagilah dengan rakyat yang diwakili,” ujarnya.

Jika rakyat susah, lanjut Haedar, maka selayaknya wakil rakyat dan pejabat publik merasakan kesusahan rakyat, dengan cara meringankan beban hidup mereka yang semakin berat. Haedar juga meminta kepada wakil rakyat dan pejabat publik agar berhenti melakukan pencitraan dan politik populisme, ketika rakyat menderita.

“Saatnya semua elite berjiwa, berpikiran, dan bertindak negarawan yang menempatkan kepentingan dan nasib rakyat di atas segalanya,” pungkasnya.

Sekjen PBNU: Idul Adha Momentum Singkirkan Egoisme

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini menyampaikan pesan Idul Adha 1442 H kepada segenap umat Muslim. Dia mengingatkan, momentum Idul Adha adalah untuk merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran kurban.

“Kurban adalah media yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kurban merupakan salah satu media yang paling efektif untuk mengesampingkan egoisme sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tutur dia dalam keterangan tertulis, Senin, 19 Juli 2021.

Dilansir  dari laman ihram.co.id, Egoisme, terang Helmy, adalah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya jika tidak dieliminasi. Sebab egoisme akan menggerogoti kesalehan sosial yang merupakan salah satu pilar kesalehan yang harus dijaga oleh seorang muslim.

Helmy juga menjelaskan, ajaran kurban merupakan ajaran tentang pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, dan juga kemanusiaan. Nilai-nilai ajaran itu dilukiskan melalui percakapan yang melibatkan tiga manusia pilihan, yakni Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail.

“Cinta ketiganya diuji oleh Allah SWT. Suka cita dan rasa bahagia setelah dikarunia seorang putra yang telah dinanti sekilan lama harus diuji sebab Allah menginginkan sang anak yang bernama Ismail itu disembelih dan dijadikan kurban,” ucapnya.

Karena itu, Helmy menekankan, penting untuk merenungkan bahwa di tengah situasi pandemi seperti saat ini, ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Salah satunya, bisa menjadikan momentum karantina sebagai wahana untuk menyemaikan semangat dan konsep ‘baiti jannati’, yakni konsep rumah sebagai sebuah surga yang manifes dalam kehidupan nyata.

“Kita bisa membangun tatanan masyarakat yang baik, juga mewujudkan semangat kehesi sosial yang luas dengan jalan paling sederhana, yakni memulai membangun tatanan kehidupan yang kohesif dimulai dari diri kita pribadi dan juga keluarga kita. Masyarakat yang baik, bangsa yang kokoh bisa terwujud dari tiang-tiang kecil keluarga yang kokoh dan kohesif,” ujarnya.

Helmy menambahkan, Idul Adha harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepekaan, rasa peduli, dan juga memperbaiki ikatan-ikatan sosial, terutama di masa-masa sulit ketika wabah melanda seperti saat ini. “Semoga bangsa kita diberi kekuatan sehingga kita semua dapat keluar dari wabah ini dengan selamat,” imbuhnya. [republika/ihram]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed