by

Ketua Umum MUI: Islam Moderat Benteng Dari Serangan Radikalisme

Kabar Damai I Sabtu, 28 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftachul Akhyar mengingatkan kepada masyarakat terkait radikalisme di Indonesia. Dia meminta kepada para ulama untuk senantiasa menyampaikan Islam wasathiyah atau moderat. Menurutnya, Islam yang moderat diharapkan dapat memperkokoh benteng dari serangan radikalisme.

“Hal ini dipandang penting seiring terus menguatnya radikalisme di masyarakat,” ujar Miftach saat memberi sambutan di Mukernas MUI ke satu 2021 dalam siaran langsung di kanal YouTube OFFICIAL TVMUI, Rabu, 25 Agustus 2021.

Melansir Pusat Media Damai BNPT, Miftach menjelaskan, ada dua jenis radikalisme, yakni radikalisme kiri dan kanan. Untuk radikalisme kiri bergerak pada pemikiran liberalisme, pluralisme dan sekularisme. Pemahaman itu disatukan dalam pemikiran beragama.

“Sedangkan radikalisme kanan, radikalisme dalam beragama dan terorisme berkedok agama atau menggunakan bendera-bendera agama atau atas nama agama,” ujarnya, seperti dikutip damailahindonesiaku.com (26/8).

Miftach menjelaskan, kedua radikalisme itu kini tengah menggempur Indonesia. Bila berhasil, kedua gerakan radikalisme itu dapat menghancurkan pondasi Islam di Indonesia.

“Pergerakan kedua kelompok ataupun syariat ini merupakan gambaran pertarungan ideologi global yang menyerang, menggempur di Indonesia, dampaknya memporak-porandakan bangunan Islam yang selama ini telah dibangun oleh para ulama,” tandasnya.

Miftach juga menerangkan, radikalisme kiri rawan menyasar para akademisi yang berada di kampus. Sedangkan radikalisme kanan masuk dalam pemahaman agama. Paham ini dapat dengan mudah menyasar orang yang awan terhadap agama. Belajar agama melalui internet.

“Pengurus MUI semua lapisan harus memahami Islam wasathiyah,” pintanya.

 

Masjid Bisa Tangkal radikalisme

Terpisah, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan bahwa kemakmuran masjid bisa menangkal radikalisme dan terorisme melalui berbagai kegiatan keagamaan.

“Keberadaan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga bisa membantu memerangi paham radikal dan terorisme lewat kegiatan agama,” ujar Taj Yasin Maimoen dikutip Antara, Rabu, 25 Agustus 2021.

Baca Juga: Fatwa MUI Berfungsi Jaga Kerukunan Bukan sebagai Dasar Kebijakan

Menurut Gus Yasin, sapaan akrab Wagub Jateng, radikalisme dan terorisme merupakan ancaman serius bagi persatuan serta kesatuan bangsa. Dirinya juga mendukung pihak-pihak yang membuat pedoman pengajaran di sekolah sebagai upaya melindungi generasi muda dari bahaya paham-paham radikal dan intoleran.

Senada dengan Gus Yasin, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) gencar memperlihatkan berbagai visualisasi mengenai kerukunan antarumat beragama sebagai upaya melawan aksi radikalisme serta terorisme.

Menurut Ganjar, hal positif dari kerukunan umat beragama banyak dilakukan masyarakat Jateng seperti sikap saling menghormati, saling tolong menolong tanpa membedakan suku, agama, dan ras sudah berjalan sejak lama.

“Rasa cinta itu ada dan bersemi di Jawa Tengah, itu yang mesti kita tunjukkan, bukan kebencian-kebencian dan keburukan-keburukan seperti yang sering terjadi, maka kita butuh menyebarkan kebaikan-kebaikan itu pada masyarakat secara masif,” ujarnya.

Pentingnya Moderasi Beragama

Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam sebuah kesempatan pernah menyampaikan pentingnya moderasi beragama bagi bangsa, negara, dan masyarakat Indonesia saat ini dan mendatang.

Indonesia adalah negara dengan keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama. Berdasarkan fakta tersebut, Yaqut menegaskan bahwa semua pemeluk agama berhak memeluk agama yang dianutnya dan berpandangan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang benar dan baik. Namun, di sisi lain setiap pemeluk agama juga harus menghargai hak pemeluk agama lain yang juga berpandangan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang benar dan baik.

Dalam konteks keragaman tersebut, sangat diperlukan cara beragama yang moderat.

“Keragaman agama sejatinya tidak menjadi masalah yang terlalu perlu untuk dirisaukan,” kata Yaqut, sebagaimana dikutip laman lemhanas.go.id.

Dengan terciptanya toleransi dan kerukunan, lanjut Yaqut, maka masing-masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, dan hidup bersama secara damai.

“Sikap dan pemahaman moderat dalam beragama sudah dicontohkan dengan baik oleh para pendiri bangsa kita,” tutur Gus Yaqut.

Para pendiri bangsa menyepakati adanya dasar negara Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika yang memandu kehidupan berbangsa dan bernegara. Para agamawan saat ini sepakat bahwa dasar negara tersebut harus dijaga sebaik-baiknya. Komitmen tersebut mungkin bukan yang terbaik, tetapi menjadi yang paling cocok untuk bangsa Indonesia yang sangat multikultural.

Pada kesempatan tersebut, Yaqut juga mengajak seluruh umat beragama untuk bersama-sama mencegah munculnya kelompok-kelompok yang tidak menghargai komitmen kebangsaan serta merasa menjadi kelompok yang paling berjasa dan paling memiliki.

“Tidak boleh ada komunitas yang anti terhadap komunitas yang lain,” kata Yaqut

Kebebasan beragama sebagaimana dijamin dalam komitmen kebangsaan tentu saja meniscayakan adanya sikap toleransi dan menghargai orang lain apa adanya.

Menurut Gus Menteri, gerakan untuk merajut toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan harus terus ditumbuhkembangkan dengan memunculkan dialog-dialog lintas agama serta solidaritas tanpa batas harus terus diupayakan melalui simbol-simbol kerukunan dan toleransi di berbagai daerah.

Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi sangat penting karena kecenderungan pengamalan ajaran agama yang berlebihan atau melampaui batas seringkali menyisakan klaim kebenaran secara sepihak dan menganggap dirinya paling benar sementara yang lain salah. Mengamalkan moderasi beragama pada hakikatnya juga menjaga keharmonisan intern antarumat beragama sehingga kondisi kehidupan bangsa tetap damai dan kehidupan berjalan harmonis.

“Saya ingin mengajak seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam mengarusutamakan moderasi beragama demi Indonesia maju dan bermartabat,” tandas Ketua Umum GP Ansor ini. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed