by

Ketua LPB PP Muhammadiyah: Agama Sebagai Inspirasi Manajemen Bencana

Kabar Damai  | Jumat, 16 April 2021

Yogyakarta | kabardamai.id | Dalam tiga pekan terakhir Indonesia berturut dilanda bencana alam. Siklon seroja berupa banjir bandang dan angina kencang di NTT dan gempa bermagnitudo 6,1 yang mengguncang Malang, Jawa Timur.

Hingga Kamis, 15 April 2021, dampak  siklon seroja menyebabkan 688 rumah rusak berat, 272 rusak sedang 154 rusak ringan. Jumlah pengungsi tercatat berjumlah 13.230 orang. Sementara dampak dari gempa Malang, rumah yang rusak parah berjumlah 4.404 unit, 1.925 unit rumah rusak ringan, 1.319 rumah rusak sedang, dan 1.160 unit rumah berat. Sebanyak 170 unit bangunan sekolah, 12 unit fasilitas kesehatan, 64 unit tempat ibadah, dan 15 unit fasilitas umum lainnya.

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan mengatakan, dalam manajemen bencana, sebagai sumber inspirasinya adalah ajarana agama.

Melansir laman PP Muhammadiyah, manusia diciptakan oleh Tuhan sebagaimana yang disebutkan dalam al Qur’an merupakan sebagai pemimpin di muka bumi. Karena tugas tersebut, manusia oleh Tuhan dibekali dengan akal yang dipandu oleh ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah.

Lebih lanjut Budi menjelaskan, tentang risiko bencana meliputi 3 faktor yang mempengaruhinya, yaitu ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Meski telah dibekali akal, namun secara umum manusia belum bisa sepenuhnya mengendalikan ancaman.

“Potensi gempa bumi kita bisa memperkirakan, tapi dalam mengurangi ancaman saat ini masih belum mudah, karena masih kurang untuk perangkat ilmunya,” ungkap Budi pada Rabu malam (14/4) dalam acara Ramadan di Kampus UGM, seperti dikutip muhammadiyah.or.id.

 

Baca Juga : Turut Berduka: Flobamora Kota Pontianak Buka Donasi Untuk Musibah di NTT

Belajar dari sejarah dari nabi-nabi, menurut Budi, mereka memberikan pengajaran kepada manusia sekarang tentang bagaimana cara menurunkan kerentanan dan meningkatkan kapasitas.

Dalam QS. Ar Rum ayat 41, disebutkan bahwa ancaman kerusakan di bumi disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Sekaligus dalam ayat ini juga Allah menunjukan bahwa untuk mengurangi kerusakan, manusia harus belajar dari kerusakan yang diperbuatnya itu.

Selanjutnya, dalam mengurangi kerentanan bisa merujuk kepada QS an Nisa’ ayat 9. Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, manusia dalam kerja pengurangan kerentanan harus mempersiapkan generasi penerus dengan bekal ilmu yang cukup.

“Ini mengingatkan kepada kita berarti memberi makan asupan vitamin yang cukup, melatih anak-anak kita supaya tidak lemah menghadapi tantangan lingkungan kita,” terangnya.

Sementara untuk meningkatkan kapasitas, maka manusia harus ditata dan diatur bersama-sama dalam suatu tatanan yang teratur sehingga seperti bangunan yang kokoh. Hal ini merupakan inspirasi dari QS. As Shaff ayat 4.

“Allah juga menginggatkan kapasitas itu bisa dilaksanakan dengan baik kalau manusia kerja sama,” terangnya.

Karena itu, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dalam setiap aksi penanggulangan bencana yang mereka lakukan akan senantiasa bekerjasama dengan berbagai pihak. Tentang kerjasama ini, di al Qur’an sangat banyak ayat yang menerangkannya.

Dampingi Anak-Anak Penyintas Banjir NTT

Dalam respon tanggap darurat banjir longsor di Nusa Tenggara Timur, selain menerjunkan Emergency Medical Team (EMT) nasionalnya, Muhammadiyah juga mengerahkan relawan lokal. Salah satunya adalah relawan Muhammadiyah dari Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Lembata.

Laman Muhammadiyah mewartakan, sejak tanggal 9 April 2021, Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Lembata melaksanakan pendampingan psikososial bagi anak-anak yang warga terdampak banjir longsor di beberapa posko milik pemerintah Kabupaten Lembata.

Menurut keterangan Zariah Arkiang, Sekretaris PDNA Kabupaten Lembata, layanan pendampingan psikososial dilaksanakan di tiga posko yaitu Selandoro, MIS Nursalam Lewoleba dan SMPN 1 Nubatukan, semuanya ada di Kecamatan Nubatukan.

Dari tiga tempat tersebut, ada total 60 orang anak yang ikut dalam kegiatan pendampingan.

“Di posko Selandoro kami mendampingi 14 anak, MIS Nursalam Lewoleba ada 9 anak, di kedua posko ini anak-anak berasal dari Desa Lamawara dan Desa Lamawolo. Kemudian SMPN 1 Nubatukan ada 37 anak yang berasal dari desa Amakaka, Lamawara dan sekitarnya,” ungkap Zariah Arkiang, seperti dilansir muhammadiyah.or.id (15/4).

Beberapa aktifitas yang dilaksanakan saat pendampingan psikososal kata Zariah Arkiang adalah menyanyi, mewarnai dan bermain. “Kebetulan anak-anak yang kami dampingi sebagian besar adalah Katolik, maka kami menyesuaikan dengan anak-anak dalam melaksanakan giat pendampingan,” imbuhnya.

Selain bermain, bernyanyi dan mewarnai, para relawan PDNA Kabupaten Lembata juga melaksanakan promosi kesehatan (promkes) dan sosialisasi.

“Kami juga melaksanakan promkes yaitu tentang cuci tangan dan mandi. Untuk sosialisasi kami sampaikan tentang hak-hak anak. Kendalanya kami masih kekurangan media untuk melaksanakan kegiatan lebih banyak,” ujarnya.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed