by

Ketua DPP WKRI: Mulai dari Rumah Perempuan sebagai Agen Perdamaian

-Kabar Puan-124 views

Kabar Damai I Sabtu, 19 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Meski perempuan sering kali menjadi korban kekerasan dan menerima beban ganda dalam kondisi konflik, namun tak jarang mereka juga menjadi agen penjaga perdamaian. Kemungkinan keberlangsungan perdamaian yang bertahan hingga 15 tahun akan meningkat sebesar 35% jika terdapat partisipasi perempuan dalam proses tersebut.

Perempuan dan anak menjadi korban dalam situasi konflik karena statusnya dalam masyarakat tidak setara atau lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Dampak yang bisanya dialami adalah pengusiran, kehilangan tempat tinggal, penghilangan paksa kerabat dekat, pemiskinan – perpisahan keluarga dan disintegrasi korban pembunuhan , terror, perbudakan seks, perkosaan dan kekerasan seksual.

Justina Rostiawati Ketua DPP Wanita Katolik Republik Indonesia menjelaskan bahwa  Perempuan seringkali menjadi target taktis Ketika terjadi penghancuran adat/budaya karena peran pentingnya dalam keluarga.

Perempuan dalam Konflik

“ Contohnya pada masa G30S PKI 1965 – di beberapa daerah di Indonesia pada penghujung Era Orde Lama. Ada kelompok perempuan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang menjadi korban karena dianggap sebagai kaki tangan komunis, “ ujar Justina, Jumat (18/6/2021) dalam serial ngbrol bareng tokoh yang diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Padahal Gerakan perempuan sudah ada dari zaman Indonesia sebelum merdeka. Sampai sekarang Gerwani masih dianggap tabu untuk disebut, karena dianggap perkumpulan perempuan yang tidak baik.

Lebih lanjut ada juga, DOM (Daerah Operasi Militer) yang terjadi di Aceh dan Papua pada Era Orde Baru. Pada masa-masa DOM, perempuan di Aceh dan papua banyak sekali menjadi perempuan yang menjadi korban. Lalu Tragedi Mei 1998 ketika jatuhnya Soeharto dan masuknya Era Reformasi. Pada masa itu terjadi pemerkosaan masal terhadap etnis tertentu. Padahal dalam situasi chaos tindak pemerkosaan tidak membedakan etnis.

Justina menyebutkan lebih banyak, “Konflik agama,  suku dan etnis seperti yang terjadi di ambon konflik agama, konflik Dayak-Madura, Ahmadiyah juga teror, radikalisme Bom Bali, Makassar, Palu, Poso, sejumlah konflik pasti menjadikan perempuan sebagai  korban, meskipun dalam terorisme perempuan saat ini berubah menjadi subjek, “ bebernya.

Peran perempuan dalam penyelesaian konflik

Perempuan memainkan peran penting dalam penyelesaian konflik, tetapi jarang diakui. Dari 600 kesepakatan perdamaian yang ditandatangani antara tahun 1992 – 2010, hanya 16% yang menyebut partisipasi perempuan.

“Namun peran perempuan seringkali dibaikan, selama konflik di Aceh, perempuan bertanggung jawab memproduksi makanan, keamanan komunitas administrasi, mengirim makanan ke suami di hutan tetapi dalam perjanjian perdamaian Helsinki, kepemimpinan perempuan dipertanyakan oleh laki-laki,” lanjut Justina memparkan kondisi ketidaksetaraan.

Baca Juga: Perempuan dan Praktik Jurnalisme Damai

Perempuan berperan penting dalam meredakan konflik di Ambon, sebagai pemnbawa kabar dan info kepada pihak-pihak berkonflik agar konflik tidak semakin panas. Namun kembali kiprah perempuan seringkali tidak diakui.

 

Kekerasan dalam rumah tangga

Justina mengungkapkan 75% dari kasus kekerasan yang dilaporkan dalam Catatn Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2021 adalah  kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

“Korban KDRT kebanyakan istri dan anak perempuan. Perempuan bungkam tidak berani melapor karena dianggap membawa aib keluarga. Perempuan seringkali mengalah dan mencari jalan keluar demi kedamaian di dalam rumah tangga demi anak-anak dan menjaga wibawa atau status suami,” ungkap Justina.

Selain itu perempuan juga khawatir jika melapor akan terjadi perceraian maka tidak akan mendapatakan nafkah secara ekonomi. Dalam banyak kasus perempuan korban KDRT seringkali menjadi korban atau pihak yang dipersalahkan, khususnya Ketika terjadi persengketaan atau perwalian anak.

Mulai dari dalam rumah tangga

Apa yang dapat dilakukan dari dalam rumah tangga untuk menciptakan rasa aman dan kedamaian bagi seluruh anggota keluarga?

“Jawabannya adalah mulai dari rumah tangga, kalau dalam satu rumah ada kedamaian, mulai dari rumah kerumah lingkungan akan menjadi damai,” terang Justina.

Sebagai agen perdamaian yang bisa dilakukan perempuan adalah mendidik anak sejak usia dini untuk saling menghormati, menghargai, toleransi dan nilai-nilai kemanusiaan serta budi pekerti sebagai bekal  berelasi dalam keberagaman. Mulai dari rumah sendiri.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed