by

KETIMPANGAN: Rusia Syuting Film di Luar Angkasa, Kita Masih Saling Menghujat

Oleh: Indra Safari

Puluhan tahun sudah sejak ‘space race’ antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Siapa sangka peluncuran satelit tanpa awak Sputnik I, dan ide gila seperti menerbangkan astronot ke luar angkasa menjadi titik awal perkembangan teknologi luar angkasa yang dampaknya di rasakan hingga saat ini. Bagaimana tidak, sejak saat itu teknologi luar angkasa mulai berkembang pesat. Mulai dari pengembangan satelit komunikasi hingga rencana besar untuk mengkolonisasi planet mars digaungkan pada era modern ini.

Faktanya, belakangan ini negara-negara maju saling unjuk gigi akan teknologi luar angkasa mereka. Seperti Elon Musk dengan SpaceX-nya, yang baru-baru ini berhasil mengorbitkan 4 astronot sipil menggunakan kapsul dragon yang dibawa oleh roket Falcon 9 pada misi yang bertajuk Inspiration4. Disusul Rusia yang mengirimkan sutradara dan aktris ke stasiun luar angkasa untuk untuk syuting film.

Hal ini ditambah Cina pada misi Tiangong dengan 3 orang astronot yang tinggal di stasiun luar angkasa Cina untuk melakukan perjalanan antariksa dan eksperimen ilmiah selama 90 hari. Hal ini membuktikan bahwa teknologi luar angkasa sejak ‘space race’ antara Amerika Serikat dan Uni Soviet berkembang pesat. Dan untuk menguasai teknologi seperti itu, tentu dibutukan masyarakat yang memiliki pemikiran maju.

Baca Juga: Teknologi Luar Angkasa, Modernitas dan Sarana Menggapai Kemajuan Dunia

Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita melihat kondisi negara kita dari lingkup masyarakat-nya. Pasti para pembaca sekalian sering mendengar kalimat “Negara lain udah ke bulan, Indonesia masih gini-gini aja”.

Kalimat tersebut memang mencerminkan apa yang terjadi pada masyarakat kita khususnya di era media sosial dimana informasi tanpa batas dapat di akses dengan mudah. Seperti yang kita ketahui, seringkali ketika melihat isu-isu apapun terlepas dari kubu pro ataupun kontra, beberapa dari kita masih terjebak pada urusan debat, saling menyalahkan, saling menjelekkan, bahkan menghujat.

Di dalam masyarakat yang majemuk, integrasi sosial sangat dibutuhkan. Artinya, sebagai warga negara yang berada di masyarakat yang beragam, kita harus mengembangkan sikap toleransi dan kasih sayang terhadap sesama.

Selain itu, sikap patriotisme cinta tanah air harus di tanam sejak dini guna menciptakan generasi yang akan berjuang membawa merah putih bersaing di dunia khususnya pada teknologi masa depan seperti luar angkasa.

Lewat tulisan ini, saya selaku penulis mengajak pembaca sekalian untuk selalu berfikir positif. Walaupun kita di landa wabah Covid-19, bukan menjadi halangan bagi kita untuk maju bersama bekerja untuk bangsa ini. Jangan sampai tabungan energi kita habis karena hal-hal tidak produktif seperti berdebat, saling menyalahkan, dan menghujat di media sosial. Salam damai, damai Indonesiaku.

 

Oleh: Indra Safari, Siswa SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed