by

Keterlibatan Orang Muda untuk Perdamaian di Papua

Kabar Damai | Senin, 25 April 2022

Jakarta | kabardamai.id | Kehadiran orang muda menjadi hal yang sangat penting dalam berbagai bidang karena masa depan milik mereka. Namun, sudahkah orang muda berperan dalam berbagai elemen sesuai kebutuhan masa mendatang? Apakah mereka sudah mendapatkan kesempatan sesuai kapasitas masing-masing?

Keterlibatan orang muda dirasa sangat penting untuk mendulang masa depan cerah terutama untuk pembangunan ekonomi dan perdamaian. Dua hal ini menjadi salah satu topik yang cukup konsen diangkat oleh Analisis Papua Strategis (APS), sebuah komunitas yang terhimpun melalui APS WhatsApp Group dengan profesionalitas dan integritas yang tinggi diberbagai bidang, antara lain: akademisi, peneliti, diplomat, pemerintahan dan birokrat (Kantor Staf Presiden RI, Setwapres RI, Kementerian/Lembaga, DPR RI/DPRP, MRP, Gubernur/Bupati/Walikota), TNI/POLRI, pengusaha, NGO, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan dan pemuda, baik di dalam negeri maupun luar negeri yang berperan sebagai forum analisis kebijakan dan mitra strategis pemerintah dalam mengawal pembangunan di Tanah Papua.

Baca Juga : Urgensi Konferensi Analisis Papua Strategis Bagi Masyarakat Papua

Ketua APS, Laus Rumayom mengatakan bahwa keterlibatan pemuda sangat dibutuhkan untuk pembangunan dan perdamaian di Papua. “APS hadir menjadi jembatan bagi orang muda untuk bertemu dan mengembangkan apa yang sudah ada saat ini,” katanya (25/3/2022).

Lebih jauh dia menerangkan bahwa sebagai jembatan bagi perkembangan Papua di berbagai bidang, salah satunya perdamaian dan pembanguan, Laus merasa kehadiran APS menjadi salah satu wadah bagi orang muda Papua bersinergi membangun Papua. “Papua ini adalah tanah damai, semua orang bisa diterima di sini, kita bersama-sama orang muda akan mengawal Papua rumah bersama,” tuturnya.

Peran Orang Muda untuk Perdamaian Papua

“Awalnya kami tidak peduli dengan perdamaian di Papua, kami merasa bukan tanggungjawab orang muda memikirkan itu,” tutur Clara Okoka, tokoh muda lintas iman Papua.

Pada mulanya, orang muda di Papua abai akan topik-topik yang berhubungan dengan perdamaian dan toleransi, bagi mereka, toleransi adalah ketika mereka bisa hidup satu wilayah dengan orang yang berbeda agama. Akan tetapi, pemikiran ini berubah setelah Clara mengikuti kegiatan Peace Train Indonesia, sebuah program travelling lintas iman untuk belajar perdamaian dan toleransi diadakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

“Waktu itu saya pernah ikut kegiatan Peace Train di Wonosobo, ternyata kita bisa membicarakan toleransi bersama,” katanya.

Tidak mau kegiatan tersebut habis begitu saja, Clara mengajak orang muda di Papua mengadakan Jayapura Peace Journey dimana mereka dapat berkunjung ke rumah ibadah berbagai agama seperti rumah ibadah agama Buddha, Hindu, Kristen, Islam dan Katolik yang ada di Jayapura.

“Ternyata banyak sekali orang muda yang tertarik dengan kegiatan ini dan kami menyadari bahwa orang muda perlu terlibat dalam dialog-dialog perdamaian. Konflik sering terjadi karena kita tidak saling peduli apa yang dipikirkan oleh orang lain,” paparnya.

Kehadiran orang muda yang mulai merasakan perlunya ambil bagian untuk perdamaian Papua memberikan sinyal baik adanya korelasi gerakan yang dilakukan oleh APS mengembangkan dialog-dialog perdamaian bersama orang muda di Papua. Konferensi APS yang pertama pada tanggal 28 hingga 30 April mendatang juga akan menyoroti keterlibatan pemuda untuk pembangunan dan perdamaian di Papua. Langkah baik dan kolaborasi orang muda untuk Papua rumah bersama akan lebih muda dikembangkan dengan adanya kerjasama yang baik bersama APS ini karena keterlibatan semua elemen yang dapat menunjang kerjasama dengan komunitas muda yang telah terbentuk di Papua.

Penulis : Isa Oktaviani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed