by

Keselamatan dalam Dhamma

Oleh : Tim Buddha Wacana

Attā hi attano nātho, ko hi nātho paro siyā. Attanā hi sudantena, nāthaṁ labhati dullabhaṁ. Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari. (Dhammapada, Syair: 160)

Sebagai manusia yang masih menjalani kehidupan yang terus berubah, berkah keselamatan menjadi harapan yang senantiasa dicari semua orang. Dengan berkah keselamatan, mereka berharap dapat menjalani kehidupan ini dengan selamat dan juga selamat setelah meninggal dunia.

Makna selamat dalam menjalani kehidupan ini dapat berarti terbebas dari segala kesulitan dan mara bahaya, semua yang direncanakan menjadi lancar, serta senantiasa memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan. Sedangkan, selamat setelah meninggal dunia berarti terlahir di alam bahagia (surga).

Berbagai macam cara terkadang dilakukan agar berkah keselamatan yang diidamkan tersebut dapat diperoleh. Termasuk mencari perlindungan pada kekuatan eksternal di luar dirinya; yang diharapkan dapat memberikannya berkah keselamatan.

Keselamatan dalam Kebenaran Universal (Dhamma) bukanlah berasal dari kekuatan eksternal, melainkan pada kekuatan internal yang sebenarnya ada dalam diri setiap orang. Yang menitikberatkan pada kesadaran penuh tanggung jawab dalam diri umat Buddha, berupa pengendalian diri atas setiap perilaku yang dilakukannya, baik melalui pikiran, ucapan maupun badan jasmani.

Dengan memiliki pengendalian diri dan memahami kebenaran akan Hukum Kamma; umat Buddha tidak akan pernah menyalahkan pihak lain atas setiap penderitaan yang terjadi dalam kehidupan ini, serta tidak akan mencari keselamatan pada faktor eksternal di luar dirinya.

Baca Juga : Ali Yusuf : NU Sejak 2006 Fokus Pada Isu Climate Change

Guru Agung Buddha bersabda, “Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.”  (Dhammapada, Syair: 160)

Sementara dalam Saṁyutta Nikāya, Attarakkhita Sutta dikatakan: Sabbattha saṁvuto lajjī, rakkhitoti pavuccatī’ti (Dengan bersungguh-sungguh, terkendali di mana-mana, seseorang dikatakan terlindungi). Dan di lain kesempatan Guru Agung Buddha pernah bersabda, “Jadikanlah dirimu pulau perlindungan bagi dirimu sendiri.”

Dengan memahami Ajaran Buddha, menjadi jelas bagi kita bahwa keselamatan bukanlah bergantung pada kekuatan eksternal. Melainkan kepada kesadaran, kemauan dan usaha dari masing-masing orang untuk melakukan pengendalian diri melalui pikiran, ucapan maupun badan jasmani. Karena diri kita sendirilah yang bertanggung jawab penuh atas segala perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan ini.

Pengendalian diri merupakan wujud dari melakukan kebajikan dan menghindari kejahatan. Sesuai dengan Hukum Kamma yang bersifat universal, maka siapapun yang menabur kebajikan dan menghindari kejahatan akan menuai kebahagiaan dalam kehidupan ini dan setelah kematian akan terlahir di alam surga.

Melakukan kebajikan dengan benar, itulah Dhamma. Jika orang dapat mengisi hidupnya dengan melakukan kebajikan, hidupnya menjadi benar. Itulah cara untuk memperoleh keselamatan. Karenanya, umat Buddha hendaknya dapat mengisi kehidupan ini dengan banyak melakukan kebajikan dalam setiap aspek kehidupannya.

Sebagaimana yang disampaikan Guru Agung Buddha, “Dhammo have rakkhati dhammacari” – Ia yang mempraktikkan Dhamma dilindungi oleh Dhamma itu. Artinya, hanya dengan praktik Dhamma, orang terselamatkan oleh Dhamma.

Kelahiran di alam surga bukanlah menjadi tujuan akhir umat Buddha, karena merupakan Keselamatan Relatif yang sifatnya tidak kekal. Ada keselamatan yang lebih tinggi lagi, yaitu Keselamatan Absolut atau Kebebasan Mutlak, yang merupakan terbebasnya suatu makhluk dari putaran arus kelahiran dan kematian (samsara) yang penuh penderitaan (dukkha).

Guru Agung Buddha telah mengajarkan Dhamma kepada kita dan menunjukkan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga) untuk dapat merealisasi Kebahagiaan Tertinggi (Nibbana) sebagai tujuan praktik Dhamma dan tujuan akhir umat Buddha.

Beliau senantiasa mendorong kita agar bersungguh-sungguh dan tekun untuk merealisasi Nibbana. Hanya diri kita sendirilah yang harus berusaha untuk dapat mempraktikkan moralitas (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).

Keselamatan Absolut hanya dapat dicapai dengan merealisasi Nibbana, yang merupakan pemadaman total dari semua kekotoran batin; keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan/kegelapan batin (moha). Keselamatan dalam Dhamma idealnya adalah dapat secara sempurna terbebas dari semua kekotoran batin.

Sebagai umat Buddha, marilah kita mengembangkan perilaku yang terkendali; melalui pikiran, ucapan maupun badan jasmani dalam kehidupan sehari-hari. Dan bertekad untuk berjuang dengan penuh kesungguhan agar tidak hanya memperoleh Keselamatan Relatif, namun hingga pada Keselamatan Absolut dengan merealisasi Nibbana.

Semoga semua makhluk berbahagia.

 

Sumbar : https://kemenag.go.id/read/keselamatan-dalam-dhamma-egrdv

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed