Kepemimpinan yang Inklusif dan Pluralis

Kabar Utama362 Views

Oleh: Sabatin Agnes Rumbiak

Dalam masa pemerintahan Gusdur dapat kita lihat bahwa banyak hal – hal positif yang dilakukan kepada seluruh masyarakat dari sabang – merauke yang artinya Gusdur dapat membaur dan membawa diri disaat situasi yang sedang dihadapi dan dialami saat itu.

Gusdur dikenal sebagai bapak pluralisme yang tidak memandang suatu perbedaan itu menjadi salah satu hal yang harus ditetapkan untuk menjaga nama baik dan jabatan. Tetapi yang dapat kita bisa lihat kenyataannya bahwa saat Gusdur menjadi presiden dapat memperjuangkan setiap hak – hak yang layak dan pantas diperjuangkan untuk demi kenyamanan setiap masyarakat untuk hidup aman dan tentram.

Untuk zaman sekarang apakah bangsa indonesia membutuhkan pemimpin yang Inklusif dan Pluralis, jawaban “YA” pastinya. Kenapa karena banyak pemimpin yang pintar dan prestasi tetapi belum tentu bisa menjadi pemimpin yang Inklusif dan Pluralis.

Karena bagaimana bisa menjadi pemimpin yang Inklusif dan Pluralis kalau dari dalam diri sendri saja belum bisa menanamkan sikap yang Inklusif dan Pluralis. Pemimpin itu bukan hanya memimpin sesuai kehendak diri sendiri dan sesuai keinginan hati, tetapi Pemimpin yang baik yang dapat menempatkan diri dengan baik dalam keadaan dan situasi apapun.

Pemimpin yang benar dapat menempat diri sehingga dapat melihat bahwa perbedaan itu salah satu bentuk kesatuan dari setiap Suku, Agama, Ras dan Adat-istiadat yang berbeda- beda dari setiap daerah di Indonesia.

Baca Juga: Belajar Menjadi Pemimpin yang Inklusif dan Pluralis bersama Alissa Wahid

Indonesia adalah negara yang memiliki sikap keunikkan tersendiri dapat dilihat dari kutipan Gusdur “Indonesia ada karena keberagaman, Keberagaman adalah raison d’etre (alasan keberadaan Indonesia). Kalau tidak ada keberagaman kita, tidak perlu ada Indonesia.

Karena Indonesia memiliki Pancasila yang adalah dasar negara yang mempertemukan paham nasionalisme dan agamis sehingga tidak ada tempat bagi negara yang ingin memecahbelah persatuan dan kesatuan kita, selama kita masih menerima Pancasila sebagai dasar Negara.

Kualitas seseorang menjadi seorang pemimpin dilihat dari seberapa kualitas kesadaran yang mendasari seorang pemimpin untuk bertindak dalam sebuah kepemimpinannya saat memimpin kelompok – kelompok kecil hingga besar.

Menjadi seorang Pemimpin dapat merubah pola pikir dari dlaam diri sendiri yaitu harus adanya tranformasi dari diri sendiri sampai akhirnya meluas di masyarakat. Pemimpin harus mempunyai pengaruh yang kuat dalam hal dapat menerima keluhan, memberikan solusi, mengayomi dan memberi kenyamanan serta kepastian dengan sikap yang menunjukkan bahwa saat mengambil keputusan tidak merugikan satu sama lain tetapi saling menguntungkan untuk hubungan yang baik kedepannya.

Sehingga itu, jadilah seorang Pemimpin harus memimpin benar – benar dari hati,  mempunyai kepercayaan diri, berkarakter dan berkompetensi , jangan sekali – kali mengikuti gaya kepemimpinan orang lain karna dapat membuat perpecahan dalam suatu satu kesatuan. Pemimpin juga harus mempunyai Visi dan Misi yang jelas sehingga mencapai suatu tujuan untuk mempererat satu kesatuan yang yang ada.

Dari saya secara pribadi untuk tulisan diatas

”Jadilah seorang Pemimpin yang mampu dan beritikad baik untuk tetap menjaga suatu perbedaan yang ada, janganlah menjadi suatu pemimpin untuk berusaha memisahkan perbedaan yang sudah, karena jika niat hati sudah tidak baik maka kedepannya tidak baik, dan sebaliknya Jika Niat hati baik maka setiap perbedaan yang di bangsa Indonesia akan tetap ada karena ada Pemimpin yang tetap menajaga Nilai – nilai Pancasila sebagai dasar negara bangsa indonesia”. “Pimpinlah Negara ini dengan Hati  Jangan dengan Logika”.

Sabatin Agnes Rumbiak, Pemuda Yahudi dan Peserta Sekolah Kepemipinan Pemuda Lintas Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *