by

Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

Kabar Damai | Kamis, 7 April 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Islam adalah agama yang adil dan setara, tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan dalam ranah sosial dan tampil dipublik. Namun, permasalahan yang berkembang hingga saat ini kerap menempatkan perempuan sebagai kelompok nomor dua sehingga kedudukannya juga kerap dianggap tidak ada.

Neng Dara Alfiah, staf pengajar di Universitas Nahdatul Ulama Indonesia menjelaskan bagaimana perempuan dapat berdaya dan tampil sebagai seorang pemimpin.

Dalam tayangan dikanal Video Jurnal Perempuan, ia menyatakan bahwa dalam Al-quran dinyatakan dalam satu ayat yang artinya ‘aku diciptakan Tuhan sebagai seorang pemimpin baik itu perempuan maupun laki-laki’. Dalam hadist juga diriwayatkan bahwa masing-masing dari kita adalah pemimpin.

Penempatan seorang perempuan sebagai pemimpin tentu punya urgensi yang penting dalam kehidupan bersama. Hal tersebut diamini oleh Neng Dara dalam sesi wawancara tersebut pula.

“Supaya dunia ini dikelola secara seimbang, jika semua dominan pria maka aura jiwa perempuan tidak akan mempengaruhi jiwa kepemimpinan baik ranah domestik maupun ranah publik,”.

Baca Juga: Testimoni Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama Angkatan I

“Tapi jika dua-duanya bisa sejalan dan memimpin dalam komposisi yang seimbang maka akan terjadi kontrol dan keseimbangan,” jelasnya.

Melalui tampilnya perempuan ini menjadi sarana adilnya gender bagi laki-laki dan perempuan.

“Ini dimaksudkan untuk mewajibkan suatu keadilan gender dan keadilan sosial secara umum,” ungkapnya.

Lebih jauh, Neng Dara juga mengungkapkan bahwa ada gerakan kritis feminis terhadap tafsir yang sifatnya seksis yang ada ada pada narasi-narasi terjemahan pada awal pertengahan Islam hingga sekarang yang sangat maskulin. Darinya, suara perempuan terpinggirkan dan terbungkam serta tidak tertulis sebagai narasi yang bisa dibaca oleh umat Islam.

Namun kini dalam umat Islam sudah ada penyaring dari sejumlah mufasir Al-quran yang ada dan sering melakukan kritik terhadap tafsir keagamaan yang maskulin.

Terakhir, ia mengungkapkan harapannya terhadap keterlibatan perempuan dan pemikirannya dalam berbagai ranah.

“Kedepan kita punya harapan yang cukup baik bahwa sekarang banyak tampil perempuan-perempuan yang punya artikulasi baik dan kokoh dalam ilmu pengetahuan didalam menarasikan agama tidak bernarasi maskulin dan sudah ada sumbangan-sumbangan yang dihamparkan oleh tokoh dan pemikir perempuan,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed