by

Kepedihan Hidup dalam Bayang-bayang Trauma Kekerasan Seksual

Kabar Damai I Rabu, 21 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I May (Raihanaanun) yang kala itu usianya masih 14 tahun, berjalan pulang sendirian dengan raut wajah yang menampilkan kebahagiaan usai menikmati berbagai wahana di pasar malam. Ketika melewati gang sepi, sekelompok pria bertubuh besar tiba-tiba menariknya untuk masuk ke dalam gudang. Setelah menjalani serangkaian penyiksaan, ia kemudian diperkosa secara bergilir oleh para pelaku.

May berjalan pulang dari tempat kejadian dengan tatapan kosong. Sendirian, dengan seragam sekolah yang telah koyak beserta bercak darah yang menempel di beberapa bagian. Raut wajahnya memperlihatkan kepedihan yang mendalam usai apa yang ia alami malam itu. Ayahnya (Lukman Sardi) yang melihat anaknya pulang dengan kondisi seperti itu seketika hancur tidak tau harus melakukan apa, ia merasa gagal menjaga anaknya.

Sejak malam itu hingga delapan tahun kemudian May tidak pernah mengucap sepatah kata. May bahkan tidak mau keluar kamar apalagi keluar dari rumah. Seperti saat rumah tetangganya kebakaran, bapak memaksanya untuk keluar, May histeris lalu buru-buru mengunci diri di toilet dan mengiris-ngiris pergelangan tangannya dengan silet.

Rutinitas sehari-hari May jalani dengan membuat boneka dan bapak membantu menjualkannya. Menyetrika baju hingga rapi, lompat tali, menghitung boneka, dan makan makanan yang hanya serba putih saja. May hidup dalam tempo dan keteraturan, menarik diri dari dunia luar tanpa emosi, tanpa koneksi, dan tanpa kata-kata. Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada kehidupan May, tetapi juga pada bapaknya.

Bapak juga tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah, kejadian pahit yang menimpa May ia anggap sebagai akibat dari dirinya yang tidak mampu menjadi pelindung yang baik bagi sang anak.

Baca Juga: Fangirl K-Pop di Indonesia Alami Kekerasan Berbasis Gender Online

Maka menjadi petinju lah cara ia meluapkan segala emosi yang ada. Terkadang ia menyerang lawannya dengan tidak terkendali ketika anaknya semakin terpuruk, dan sebaliknya ia menerima semua pukulan tanpa perlawanan sebagai bentuk rasa sakit yang diterima oleh May.

Hingga pada akhirnya May mulai beranjak dari keterpurukannya saat lubang kecil di dinding menunjukan kehidupan magis seorang pesulap (Ario Bayu). Rasa penasaran yang membuatnya membiarkan lubang di kamarnya semakin besar hingga tubuhnya bisa masuk kesana melihat dan memasuki dunia yang sama sekali baru dan membuatnya mampu membuka diri dan batinnya.

27 Steps of May adalah film yang disutradarai oleh Ravi Bharwani, ia meramu skenario film bersama Rayya Makarim. Film ini merupakan drama keluarga yang menakjubkan, serta  menyuguhkan cerita yang terbilang orisinil karena jarang sekali film yang berani mengangkat cerita tentang kekerasan seksual. Terutama tentang trauma yang dihadapi seseorang pasca mengalami pemerkosaan.

Trauma yang dialami oleh korban kekerasan seksual memang tidak bisa disembuhkan secara instan serta tidak hanya berdampak pada diri sendiri namun juga pada orang lain, yang mana di film ini hal itu sangat berdampak pada si bapak. Ketika si bapak justru terus menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa anaknya.

Selain proses penyembuhannya yang lama, kemauan diri sendiri untuk beranjak dari keterpurukan serta pendampingan dari orang lainlah yang bisa membantu penyintas pemerkosaan. Hal tersebut digambarkan dengan seorang pesulap yang sedikit demi sedikit menemani dan membantu May bangkit. Namun dengan tidak memaksa melainkan atas kemauan May sendiri.

Film ini mampu berkata banyak tanpa perlu sering-sering membuka suara, tidak banyak dialog yang dikatakan oleh sang pemeran utama yaitu May yang diperankan oleh Raihaanun. Penonton seolah dibawa untuk merasakan dan mengerti bahwa diamnya May menginterpretasikan bagaimana kepedihan mendalam yang ia rasakan. Bagaimana seorang korban kekerasan seksual tidak mampu lagi menceritakan apa yang dia rasakan.

Oleh karena itu, film ini seolah mengingatkan kepada korban bahwa pentingnya komunikasi dan keterbukaan serta peran keluarga korban sebagai pendukung. Dua tokoh ini terisolasi oleh trauma, seperti saat May terbata hendak berteriak mengatakan sesuatu kepada bapaknya tetapi belum sanggup. Dan sebaliknya, sang bapak belum menyadari bahwa anaknya butuh lebih dari presence, tidak cukup hanya duduk diam.

Tapi tentu saja tidak ada film yang sempurna. Walaupun sengaja tampil slow-burn dan banyak adegan yang seperti putus-putus antara May dan bapaknya. Paruh pertama film terasa lebih panjang dari pada paruh kedua. Tiap-tiap adegan film terasa seperti napas, sehingga jika dihilangkan justru akan merusak tempo dari film ini. Sepertinya tempo yang lambat diawal penceritaan merupakan bagian dari rencana penceritaan agar penonton menyelami setiap kesakitan yang dialami oleh May.

Film ini sangat bagus dan sangat recommended untuk ditonton. Semua yang terpampang begitu sarat akan makna. Yang membuat kita merasakan diskoneksi, sehingga mampu membayangan trauma yang seperti apa yang ada di dalam sana. Film ini bakal jadi kekuatan, support system tersendiri bagi penonton yang mungkin pernah mengalami kekerasan seksual ataupun trauma personal lainnya. Jadi, selamat menonton fresh reader semua.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed