by

Kepala BPIP: Pancasila Bukan Thaghut

Kabar Damai I Rabu, 9 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi, MA. Ph.D, meluruskan tudingan Pancasila sebagai thaghut kepada diaspora Indonesia di Austria dan Slovenia dalam webinar kebangsaan bertajuk “Pancasila dan Diaspora: Meneguhkan Komitmen Kebangsaan Masyarakat Indonesia di Austria dan Slovenia” yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Vienna, Minggu, Juni 2021.

Dilansir dari laman BPIP, Yudian menjelaskan bahwa tudingan ini tidak benar.

”Toghut ini kalau dalam Alquran ditujukan kepada Fir’aun. Ia disebut sebagai thaghut karena tiga alasan. Pertama dia sendiri mengaku sebagai tuhan (absolut), yang kedua menindas rakyat, dan yang ketiga karena melakukan genosida. Tiga hal ini intinya kejahatan ketuhanan dan kemanusiaan,” terangnya kepada peserta webinar, yang juga dihadiri langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Vienna, Dr. Darmansjah Djumala.

Baca Juga: Wapres Ma’ruf: Jangan Pertentangkan Agama dan Pancasila

Ketidakbenaran ini merujuk pada fakta bahwa, Pancasila berkebalikan dengan penjelasan mengenai thaghut yang disebutkan sebelumnya. Pancasila, sebagaimana yang dipahami dan diketahui selama ini, menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Maka, aneh jika kemudian Pancasila ini dianggap sebagai thaghut.

Selain itu Prof. Yudian juga mengimbau kepada diaspora masyarakat Indonesia di Austria dan Slovenia untuk membentengi diri dari masifnya gerakan-gerakan ideologi transnasional yang berseberangan dengan Pancasila dan mencoba untuk mendelegitimasi Pancasila sebagai konsensus luhur Bangsa Indonesia.

Hal ini penting untuk ditekankan karena masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri, memiliki kerentanan spasial dan sosio-psikologis – jauh  dari keluarga, jauh dari negara asal, dan tinggal di lingkungan sosial-budaya yang berbeda – terhadap  serangan-serangan dari ideologi transnasional.

Tantangan Kian Berat

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Darmansjah Djumala. Mengutip dari pidato Presiden Jokowi dalam upacara Harlah Pancasila 1 Juni 2021 lalu, ia menyampaikan bahwa, di era keterbukaan informasi dan globalisasi ini, Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang semakin berat.

“Tantangan yang dihadapi Pancasila, tidaklah semakin ringan. Globalisasi dan interaksi antar antar dunia, tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan. Ideologi trans nasional cenderung meningkat, memasuki berbagai lini kehidupan masyarakat, dengan berbagai cara dan berbagai strategi,” ungkapnya, dikutip dari bpip.go.id (6/6).

Untuk itu ia berpesan, “Diaspora Indonesia di Austria, Slovenia dan Eropa harus bijak dan waspada terhadap meningkatnya rivalitas ideologi transnasional, yang bisa merenggangkan ikatan sosial dan kebersamaan kita sesama Bangsa Indonesia, kesempatan peringatan Hari Lahir Pancasila ini harus benar-benar kita manfaatkan untuk meneguhkan komitmen kita terhadap Pancasila, sebagai pedoman ideologis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Terakhir, BPIP juga berpesan agar, diaspora Indonesia di Austria dan Slovenia senantiasa terus mengadakan kegiatan semacam ini, untuk meneguhkan Pancasila sekaligus membentengi diri dari ideologi transnasional dan radikal. Harapannya adalah, ketika belajar diluar negeri mendapat ilmu dan keahlian dibidang masing-masing, dan ketika Kembali ke Indonesia bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia.

Pancasila Kuatkan Islam

Srnelumnya, hal yang sama juga disampaikan Ulama senior Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf. Ia menilai Pancasila bukanlah ideologi thagut. Justru dalam Pancasila menggarisbawahi sendi-sendi Islam dalam konteks peradaban manusia.

“Orang-orang yang bilang Pancasila thagut itu, ini dia hanya mencari-cari alasan agar bisa memaksa orang lain kembali lagi ke format peradaban sebelum perang dunia pertama. Maka ini akan menjadi malapetaka yang luar biasa bagi peradaban umat manusia,” kata Yahya dikutip merdeka.com dalam akun youtube @bknp_pdi perjuangan, Senin, 3 Mei 2021 lalu.

Dilansir dari merdeka.com, pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibien Rembang itu mengatakan, bukan Islam yang menguatkan Pancasila, namun justru Pancasila yang telah menguatkan Islam. Sebab Pancasila merupakan terjemahan nilai-nilai utama Islam yang menemukan konteks.

Dia melihat banyak orang yang mengecilkan Pancasila dan melabelinya thagut. Baginya, orang demikian adalah yang kurang belajar soal isi Islam dan makna Pancasila. Orang seperti ini biasanya juga tak memperhatikan teks dan konteks.

“Kenapa? Karena seluruh negara bangsa ini disuruh bubar semua untuk bergabung ke dalam satu kekhilafahan seperti dulu. Anda bisa bayangkan kita harus berperang lagi berapa puluh tahun,” katanya, seperti dikutip dari merdeka.com (3/5).

“Bahkan menurut saya, Pancasila dengan persis sekali menggarisbawahi sendi-sendi Islam dalam konteks peradaban manusia seluruhnya. Misalnya pembukaan UUD 1945, kemerdekaan hak segala bangsa. Ini adalah basis dari peradaban. Jadi Indonesia lahir sebagai penanda momentum sejarah memberi arah kemana bangsa ini berjuang,” bebernya.

Ia menekankan jika ingin Islam hadir secara membumi di dalam peradaban baru, maka orang Indonesia harus berbicara Pancasila.

Pancasila adalah terjemahan yang terbaik tentang bagaimana Islam dibumikan ke dalam peradaban tata dunia baru yang lebih mulia.

Ia juga menyentuh isu kerap digulirkan di publik tentang Pancasila vs Islam. Seperti sejarah penghapusan tujuh kata dalam sila pertama pada Piagam Jakarta.

Menurutnya, ada yang menganggapnya sebagai produk sebuah proses negosiasi, yang memang mungkin terjadi. Namun dirinya pribadi lebih percaya bahwa hal itu merupakan wujud sebuah visi.

“Keyakinan saya, ada visi mendasar dalam hal ini. Karena kalau kita sudah berbicara Pancasila, ngapain masih bicara syariat? Pancasila bilang Ketuhanan Yang Maha Esa, lha itu semua sudah otomatis itu syariat kenapa diperdebatkan lagi? Sehingga tujuh kata ini hakikatnya tidak diperlukan,” bebernya.

“Bangsa ini visioner dan modern menempatkan warganya setara di mata hukum sehingga tidak boleh satu pun di dalam dokumen fundamental seperti Pancasila ini seolah memberi kesan perbedaan satu kelompok dengan yang lain. Umat hindu ya menjalankan syariat hindu, umat budha juga dengan syariat budha, umat islam ya syariat islam. Kan sudah jelas itu saya rasa,” terangnya. [bpip/merdeka]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed