by

Kementerian PPPA Nilai Sinetron Suara Hati Istri Melanggar Hak Anak

Kabar Damai I Sabtu, 5 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyebut bahwa sinetron Suara Hati Istri – Zahra melanggar hak anak.

Bentuk pelanggaran itu terkait dengan pemeran Zahra yang masih berusia 15 tahun. Zahra dalam sinetron digambarkan sebagai istri ketiga.

Dilansir dari kumparan.com (4/5), Menteri PPPA Bintang Puspayoga mengatakan materi atau konten sebuah acara seharusnya mendukung pemerintah dalam upaya pemenuhan hak anak. Konten tersebut juga harus memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Konten apa pun yang ditayangkan oleh media penyiaran jangan hanya dilihat dari sisi hiburan semata, tapi juga harus memberi informasi, mendidik, dan bermanfaat bagi masyarakat, terlebih bagi anak. Setiap tayangan harus ramah anak dan melindungi anak,” kata Bintang dalam keterangan tertulis.

Baca Juga: Ini Respon KPAI dan KPI Terkait Sinetron “Suara Hati Istri”

Terkait dengan polemik sinetron Suara Hati Istri – Zahra, Bintang menyatakan orang tua juga berperan dalam memilih peran untuk sang buah hati.

Bintang menyayangkan sinetron tersebut tidak memerhatikan prinsip-prinsip pemenuhan hak anak dan perlindungan anak.

“Setiap tayangan harus tetap menghormati dan menjunjung tinggi hak anak-anak dan remaja, dan wajib mempertimbangkan keamanan dan masa depan anak-anak dan/atau remaja,” tutur Bintang.

Bintang menuturkan Kementerian PPPA sudah berkoordinasi dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Dia mengaku mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh KPI terkait dengan polemik sinetron Suara Hati Istri – Zahra.

Bintang mengatakan Kementerian PPPA dan KPI akan melakukan pertemuan dengan rumah produksi yang memproduksi sinetron tersebut. Tujuannya untuk memberikan edukasi terkait penyiaran ramah perempuan dan anak.

Stimulasi Pernikahan Usia Dini

Sementara itu, Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA, Nahar, mengatakan dari hasil telaah, pihaknya menemukan beberapa aspek yang dilanggar terkait produksi sinetron Suara Hati Istri – Zahra.

“Terkait peran istri dalam sinetron ini yang diperankan seorang pemain usia anak, hal ini adalah bentuk stimulasi pernikahan usia dini yang bertentangan dengan program pemerintah khususnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan,” kata Nahar.

Selain itu, Nahar melanjutkan, sinetron Suara Hati Istri – Zahra juga memperlihatkan kekerasan psikis berupa bentakan dan makian dari pemeran pria. Ada pula pemaksaan melakukan hubungan seksual. Hal itu bertentangan dengan Pasal 66 C Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Nahar mengatakan sinetron tersebut juga bisa memengaruhi masyarakat untuk melakukan perkawinan usia anak, kekerasan seksual, dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Karena pada tayangan tersebut diceritakan Zahra dinikahkan dengan alasan untuk membayar utang keluarganya.

“Jika nanti ditemukan kasus serupa di lapangan dan setelah digali peristiwa tersebut merupakan bentuk imitasi dari tayangan yang disiarkan oleh Indosiar, maka pihak Indosiar dapat dipidanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ucap Nahar.

Pemeran Zahra Resmi Diganti

Pihak rumah produksi Mega Kreasi Film (MKF) dan Indosiar resmi mengganti pemeran Zahra dalam Suara Hati Istri yang sebelumnya menuai kontroversi karena menggaet seorang aktris berusia 15 tahun untuk memerankan istri ketiga.

Dalam unggahan di media sosial dan YouTube, Kamis, 3 Juni 2021 malam, MKF menampilkan cuplikan babak baru karakter Zahra. Zahra dikisahkan mengalami kecelakaan berupa mobil yang ia kendarai masuk jurang dan harus melalui operasi medis.

Operasi tersebut juga sekaligus berusaha mengembalikan lagi wajah Zahra. Namun ketika perban dibuka, wajahnya jauh berbeda dibanding sebelumnya. Kali ini, pemeran Zahra adalah aktris 23 tahun bernama Hanna Kirana.

Dilansir dari CNN Indonesia, penggantian pemeran Zahra ini dilakukan setelah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengevaluasi tayangan tersebut, atas aduan masyarakat. KPI kemudian mengungkapkan stasiun TV Indosiar akan mengganti pemeran Zahra dalam sinetron Suara Hati Istri.

“Indosiar menerima apa yang disampaikan KPI dan menyampaikan komitmennya untuk mengevaluasi pemeran dan berkomitmen mengganti pemeran Zahra,” kata Komisioner KPI Pusat Bidang Kelembagaan Nuning Rodiyah kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/6).

“Mereka juga menyadari terkait pemeran yang ditetapkan oleh PH (rumah produksi) itu sebuah kesalahan karena memutuskan anak berusia 15 tahun memerankan orang dewasa,” lanjutnya.

Mengapa Nikah di Usia Muda Tidak Dianjurkan?

Selama beberapa waktu belakangan, ramai isu perceraian anak mendiang Ustaz Arifin Ilham, Alvin Faiz dengan Larissa Chou. Salah satu penyebab perceraian itu dilaporkan akibat pernikahan di usia muda sehingga keduanya belum siap mengarungi bahtera rumah tangga.

Menikah mungkin jadi dambaan tiap pasangan. Namun, usia jelas jadi satu pertimbangan bagi pasangan yang akan menikah.

Beberapa pihak pada akhirnya tidak menganjurkan pernikahan usia di muda karena sejumlah dampak buruk yang bisa terjadi. Apalagi kalau ternyata itu merupakan sebuah paksaan.

Berikut penjelasan para psikolog yang dihimpun CNN Indonesia, terkait bahaya dan dampak buruk menikah di usia dini, baik secara biologis maupun psikologis.

  1. Dampak buruk pernikahan anak secara psikologis

Tidak sedikit kerugian yang diderita ketika remaja melakukan pernikahan dini, antara lain adalah keadaan psikologis, emosi dan psikososial remaja yang masih belum matang, sehingga rapuh dalam menjalankan kehidupan rumah tangga dan akhirnya rentan terhadap perceraian.

Di sisi lain, perceraian sendiri bisa jadi beban emosional yang dapat menimbulkan gangguan psikis, seperti stres dan depresi.

Dalam wawancaranya beberapa waktu lalu, psikolog Livia Iskandar mengungkapkan pernikahan anak sebenarnya memberi kerugian lebih banyak di sisi perempuan.

Menurut Livia, anak juga belum matang secara psikologis. Ia memberi contoh saat anak memiliki anak, sulit dibayangkan pasangan remaja saat menjadi orang tua dan mengasuh serta mendidik anak. Perempuan juga jadi lebih rentan depresi pasca melahirkan.

Pernikahan anak juga membuat pendidikan terganggu bahkan terputus. Livia juga meragukan anak akan melanjutkan sekolah setelah menikah. Saat ia hamil, kemungkinan sulit bagi sekolah untuk menerima siswi yang sedang bertubuh dua. Pendidikan wanita yang rendah ini tentunya akan berpengaruh pada pendidikan ke anak.

Putus sekolah juga akan berisiko membatasi kemampuan belajar dan memperburuk kemiskinan lintas generasi.

“Di sinilah pertautan antara dua orang yang berbeda segalanya, berubah status menjadi suami-istri dan bertujuan membangun rumah tangga. Mereka akan mendidik anak-anak yang dilahirkan menjadi manusia yang berguna serta bermanfaat,” ungkap Tika Bisono dalam kolom Menikah Urusan Orang Dewasa di CNNIndonesia.com.

“Jadi, logis jika menikah disebut sebagai tugas yang baru bisa dilaksanakan jika manusianya sudah matang dan dewasa.”

  1. Dampak biologis pernikahan anak

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menjelaskan, dua hal yang perlu dipersiapkan sebelum menikah tersebut adalah faktor biologis dan psikologis. Dua hal yang kerap diabaikan, namun menjadi kunci awetnya sebuah pernikahan.

Faktor biologis merupakan kesiapan fisik untuk membina rumah tangga yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan.

Menurut Hasto, secara biologis, perempuan siap untuk menikah di usia 21 tahun dan laki-laki di usia 25 tahun.

Hasto yang juga merupakan dokter spesialis kandungan dan kebidanan ini menyebutkan, kondisi rahim perempuan baru akan ‘matang’ di usia 20-an. Misalnya, bila seorang perempuan menikah pada usia 16 tahun, kondisi mulut rahimnya masih membuka keluar, seharusnya sudah menutup agar tidak terjadi gangguan pada mulut rahim.

Saat umur 16 tahun, diameter panggul perempuan baru selebar 8 cm, padahal ukuran kepala bayi mencapai 9,8 cm. Ukuran panggul ini baru membesar pada usia 19-21 tahun.

“Kalau ketetapan UU yang baru itu 19 tahun, tapi kan biologis setiap orang beragam. Sehingga, BKKBN menyarankan (menikah) pada usia 21 tahun agar semua perempuan dipastikan siap secara biologis,” ucap Hasto.

Selain itu, studi menunjukkan anak-anak yang lahir dari ibu berusia di bawah 20 tahun lebih berisiko terhadap kurang gizi dan stunting. Dengan kata lain, menikah dini tak hanya ‘merugikan’ perempuan, namun juga calon bayi.

Melahirkan di usia yang sangat muda juga berisiko pada meningkatkan jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia. [kumparan/CNN Indonesia]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed