by

KemenPPPA: Perlindungan Anak adalah Wujud Tritugas Gereja

Kabar Damai I Rabu, 04 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Penduduk Indonesia berjumlah 267 Juta Jiwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) Tahun 2020, sedangkan jumlah keluarga di Indonesia berjumlah  81,2 Juta dengan jumlah anak sebanyak 84,4 Juta. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan (UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).

Agustina Erni, Deputi pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menjelaskan 5 (lima) arahan presiden Jokowi untuk  kemenpppa dalam webinar Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme di Masa Pandemi melalui Gereja Ramah Anak.

“ lima arahan tersebut adalah peningkatan pemberdayaan perempuan dalam  kewirausahaan, peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/  pengasuhan anak, penurunan kekerasan terhadap  perempuan dan anak, penurunan pekerja anak dan pencegahan perkawinan  anak,” ujar Agustina via zoom meeting, Selasa (03/08/2021).

Melanjutkan pembahasannya Agustina juga menyebutkan empat pilar  pembangunan anak berdasarkan UU no. 35/2014 pasal 72, yaitu masyaraakat, dunia usaha, media, pemerintah. Ini artinya masyarakat memegang peranan penting untuk perlindungan anak.

Baca Juga: Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme di Masa Pandemi melalui Gereja Ramah Anak

Hak-hak anak dilindungi oleh peraturan yang berlaku dalam Konvensi Hak Anak (KHA) Tahun 1989, Keputusan  Presiden  Nomor 36 Tahun 1990, dan Undang-  Undang  Nomor 23 Tahun 2002 berbunyi:

Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, keluarga, dan  orang tua atau wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap  penyelenggaraan Perlindungan Anak

“Prinsip-Prinsip KHA sendiri diantaranya, non diskriminasi, Kepentingan  Terbaik bagi  Anak, Hidup,  Tumbuh, dan  Berkembang, serta Partisipasi dan Suara Anak yang tidak diabaikan,” katanya.

Sebelum pandemic perlindungan anak dilakukan oleh pihak keluarga selama 8 jam, pihak sekolah 8 jam, dan 8 jam  lainnya dilakukan oleh berbagai pihak. Namun pasca pandemic transformasi waktu keberadaan anak  pada masa pandemi covid-19, menjadi  24 jam di rumah. Yang artinya diperlukan pengawasan dan perlindungan pihak keluarga yang lebih besar lagi.

UU 35/2014 tentang Perubahan Atas  UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak

Pasal 21

  • Ayat (4) Untuk menjamin pemenuhan hak anak dan melaksanakan kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pemerintah Daerah  berkewajiban dan bertanggung jawab untuk melaksanakan dan  mendukung kebijakan nasional dalam penyelenggaraan Perlindungan  Anak di daerah.
  • Ayat (5) Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat diwujudkan melalui upaya daerah membangun Kabupaten/  Kota Layak Anak.

Agustina menjelaskan lebih rini lagi tentang seperti apa yang disebut dengan Kota layak Anak (KLA), “Kota layak anak adalah kabupaten/kota dengan sistem  pembangunan yang menjamin  pemenuhan hak Anak dan  perlindungan khusus Anak  yang dilakukan secara terencana,  menyeluruh, dan  berkelanjutan.”

Sedangkan Gereja Ramah Anak (GRA) adalah  salah satu ruang publik untuk  beribadah yang dapat menjadi  salah satu alternatif untuk  dikembangkan menjadi tempat  anak-anak berkumpul, melakukan  kegiatan positif, inovatif, kreatif &  rekreatif yang aman dan nyaman,  dengan dukungan orangtua dan  lingkungannya, terintegrasi dengan  kegiatan gereja

“Perlindungan anak sudah menjadi bagian/wujud dari tritugas gereja dan meleka pada jati diri gereja,” tegas Agustina

Gereja ramah anak sendiri berkonsep bukan membangun Gereja baru melainkan  merupakan gerakan perubahan mindset atau  paradigma yang berperspektif anak. bagaimana  memanfaatkan gereja yang sudah ada untuk  pemenuhan hak anak untuk memanfaatkan waktu  luang dalam bentuk kegiatan Positif, Inovatif dan  Kreatif (PIK) yang terintegrasi dengan kegiatan gereja.

“Contoh: Diskusi Agama, bermain sambil menunggu waktu misa,  kegiatan pengembangan keterampilan anak (mewarnai, menggambar,  puisi yang bernafaskan nilai agama), seni budaya,” terang Agustina.

Prinsip Gereja Ramah Anak adalah non diskriminasi, kepentingan terbaik anak, hidup, kelangsungan hidup, dan perekmbangan, partisipasi, tidak berbayar dan tentunya man dan nyaman.

Gereja ramah anak juga dibangun demi mewujudkan lingkungan untuk anak beribadah dan berkegiatan yang menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang dan berpartisipasi sesuai dengan tahapan perkembagan anak, serta mendapat perlindungan dari segala bentuk                kekerasan            dan        diskriminasi         agar               terbentuk anak yang  berkualitas, berkarakter dan sejahtera.

Meningkatkan pelayanan gereja dengan berorientasi pada kepentingan  terbaik anak, dan partisipasi anak sesuai tumbuh kembang anak,  tanpa kekerasan dan diskriminasi;

“Mengoptimalkan fungsi gereja sebagai ruang publik yang dikembangkan menjadi tempat  anak-anak berkumpul, melakukan kegiatan positif, inovatif, kreatif & rekreatif yang aman  dan nyaman serta terhindar dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi, termasuk  anak berkebutuhan khusus,” pungkasnya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed