by

Kemendagri: Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama adalah Upaya Membangun Bangsa yang Toleran

Kabar Damai | Rabu, 29 Juni 2022

Jakarta | kabardamai.id | Dalam acara pembukaan Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama Angkatan 3, Hartono, Kepala Subdit FKUB dan PK Ditjen Polpum Kementerian Dalam Negeri mengapresiasi Langkah Ford Foundation dan juga ICRP dalam pelaksanaan SKPLA.

Hartono  memaparkan bahwa secara garis besar pada frekuensi yang sama, fokus kelas kepemimpinan ini terkait dengan isu-isu kerukunan umat beragama, toleransi, inkusifisme, pluralism, dan moderasi beragama sedangkan secara nasional, ditingkat daerah, hingga terkait dengan hal ini menjadi perharian seluruh jejeran pemerintahan.

“Kita di sisi kepemerintahan melekatkan diri pada bagaimana regulasi menjadi pedoman dalam rangka pemeliharaan kerukunan umat beragama secara payung besarnya yang di dalamnya terkait bagaimana memelihara, merawat, toleransi, mengembangkan pluralisme, mengembangkan inklusifisme bukan eksklusifisme, moderasi beragama, sehingga dari tataran kebijakan itulah kemudian lahir kebijakan-kebijakan yang berpihak pada penciptaan kerukunan umat beragama yg esensinya di dalamnya terkait dengan toleransi dan seterusnya”, papar  Hartono, Senin (21/06/22).

Dalam pemerintahan ini kita tidak sendiri, ada forum kerukunan beragama di daerah yang bergerak dalam hal pemberdayaan masyarakat menjadikan itu berlapis-lapis baik dari sisi regulasi, kelembagaan dan level masyarakat.

“Dinamika kerukunan umat beragama akan sangat clear dan dipahami oleh para tokoh agama dalam forum kerukunan umat beragama yg notabene adalah representasi dari kepentingan umat. Pertanyaan kita, mengapa masih muncul juga isu-isu tentang intoleransi yg terjadi di tingkat masyarakat? Untuk menjawab hal ini, tinggal kepada bagaimana kemudian seluruh actor-aktor ini, dari sisi pengawalan regulasi, kelembagaan, keterlibatan masyarakat mjd satu kesatuan gerak langkah”, ujar Hartono.

Menurutnya, hal tersebut bukanlah merupakan pekerjaan yang simple karena membutuhkan komitmen dan implementasi di tingkat-tingkat lapangan, bukan hanya komitmen semata-mata tanpa konsistensi pada penerapan berbagai kebijakan, norma-norma dan isu-isu yang berkaitan dengan implementasi kebijakan.

Baca Juga: Romo Johannes Ajak Peserta SKPLA Bangga dan Meneguhkan Tanah Air Indonesia

Hartono sangat berbangga hati ketika ICRP dan Ford Foundation mengadakan sekolah kepemimpinan lintas agama Angkatan ketiga ini karena baginya pemerintah tidak mungkin bisa melakukannya sendiri sebab ada kekuatan yang mempunyai resoursize yang besar dengan sumber daya manusia yang terlarig dan pengalaman sebagai kolaborasi ini menjadi penting.

Terkait dengan iklusifisme, toleransi, menurut Hartono memang sangat konsen kepada pemberian nilai-nilai positifisme kepada generasi muda bahwa mungkin nanti dari sisi kemateri akan ada yg bisa menjelaskan secara komperensif terkait dengan bernegara bangsa terkait juga dengan pancasila.

“Saya menyarankan bahwa peserta diberi bacaan tentang pidato 1 Juni  karena itu referensi awal bagaimana moderasi, toleransi, penerimaan kpd perbedaan dibangun oleh pendiri bangsa melalui ideologi negara yg dibangun bahkan kepada negara yg dibangun itu bahwa ketika negara bangsa dibangun sungguh luar biasa dengan kesamaan cita cita dan dendam,”

“Selain cita cita dan perasaan senasib, dia juga diikat oleh tempat, maka negara bangsa indonesia dari sabang sampai merauke terdiri dari suku bangsa wilayah sebagai satu bangsa. Jadi bangsa indonesia dibangun dari suku suku bangsa dan agama, yang adalah menjadi unsur pembentuk agama. Maka tidak ada bangsa indonesia tanpa Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Katolik dan lain-lain. Mereka harus utuh menjadi satu kesatuan karena mereka adalah unsur pembentuk suatu negara. Indonesia tanpa Bali bukan Indonesia, Indonesia tanpa Jawa bukan Indonesia, Indonesia tanpa Papua bukan Indonesia, Maka dari itu indonesia adalah menghendaki semua menjadi satu kesatuan”, tuturnya.

Sekolah kepemimpinan lintas agama ini adalah upaya untuk merawat, menumbuh kembangkan, sehingga apa yang sudah tumbuh bahkan dari sejarah berdirinya bangsa ini akan tetap mekar dan harum dan terpelihara sebagai sebuah bangsa yg toleran, menghargai perbedaan dan supaya anak-anak dapat tumbuh menjadi pemimpin yg tumbuh dari filosofi dan nilai-nilai yang tumbuh dari masyarakat bangsa ini.

Pada akhir sambutannya, Hartono mengapresiasi kepada ICRP dan Ford Foundation, Romo Hari dan Alex mengenai kegiatan sekolah kepemimpinan lintas agama angakatan ketiga ini dan mengucapkan selamat kepada peserta yang terpilih karena menurutnya ini adalah satu forum yang strategis untuk kedepannya.

 

Penulis: Nisya Khadijah, Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed