by

Kembali ke Sumpah Palapa

Oleh: Ida Bagus Egi Dananjaya

Tentu kita semua tahu bahwa zaman dahulu sebelum berdirinya bangsa Indonesia, kita pernah memiliki kerajaan yang tersohor dan terkenal diseluruh mancanegara yang bernama Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit ini dahulu hanya sebuah hutan yang konon ditengah-tengahnya ada ladang yang sangat luas sehingga pada malam hari sinar rembulan dapat menyinar terang ditengahnya. Maka disebutlah daerah tersebut dengan Trowulan atau Terang Bulan.

Ketika Raden Wijaya diberikan hibah hutan tersebut oleh Prabu Jayakatwang, disana ia melihat begitu banyak buah maja yang begitu dirasakan rasanya sangat pahit. Kemudian dikenal daerah tersebut menjadi daerah Majapahit.

Tetapi karena ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Mongol atas dendamnya Kerajaan Mongol kepada Singasari membuat kerajaan yang dipimpin oleh Jayakatwang musnah. Dibawah kepemimpinan Raden Wijaya dan persekongkolan Raden Wijaya bersama pasukan Mongol.

Tetapi ketika berhasinya Raden Wijaya dan Kerajaan Mongol memukul mundur Kerajaan kediri kala itu yang dipimpin oleh Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik memukul mundur Kerajaan Mongol hingga mereka pulang dalam keadaan marah. Sehingga Raden Wijaya merupakan raja pertama yang berkuasa didaerah Majapahit yang menjadi pusat kota dan kerajaan.

Pada awalnya Kerajaan Majapahit hanya melingkupi daerah Mojokerto, Kediri, Jombang dan Surabaya saat itu. Tetapi siapa sangka, ditengah-tengah kerajaan ini berdiri tepatnya pada kekuasaan Prabu Jayanegara, ada seorang pemuda yang perkasa dan gagah berani dan menjadi sorotan istana kala itu. Pemuda tersebut bernama Gajahmada.

Pada awalnya pemuda ini hanyalah pemimpin dari pasukan elit Bhayangkara yang dimiliki Majapahit. Tetapi atas keperkasaannya, ketulusan hatinya dan kehebatannya ia mampu memberantas semua pemberontakan  yang terjadi di Majapahit kala itu dan melindungi Raja. Salah satunya adalah pemberontakan Rakuti yang sangat besar kala itu yang ingin menggulingkan Kerajaan Majapahit.

Atas jasa besar ini kemudian Gajahmada diangkat menjadi patih Kahuripan di Daha. Pada saat kekuasaan Tribuwana Tunggadewi patih Gajahmada ini hendak diangkat menjadi mahapatih amengkubumi di Kerajaan Majapahit, tetapi beliau tidak semerta-merta menerimanya.

Beliau ingin membuat perubahan terlebih dahulu di Majapahit. Ia ingin berjasa terlebih dahulu di Majapahit salah satunya memberantas pemberontakan kala itu yang konon dapat memberantas Kerajaan Majapahit dibawah kepemimpinan Tribuwana Tunggadewi.

Alhasil, Gajahmada berhasil memberantas semua pemberontakan yang ada di Majapahit dan ia diangkat menjadi mahapatih amengkubumi di Kerajaan Majapahit.

Pada saat pelantikan Gajahmada, beliau tiba-tiba mengucapkan sumpah dihadapan seluruh penjuru istana. Sumpah itu kini dikenal menjadi Sumpah Palapa. Makna dari sumpah ini adalah bahwa seorang Gajahmada tidak akan bersenang-senang, tidak akan menikmati keduniawian apabila ia belum berhasil mempersatukan nusantara.

Baca Juga: Toleransi Beragama di Masa Majapahit

Seorang Gajahmada tidak akan menikmati manisnya dunia apabila ia kalah dibeberapa daerah yang disebutkan. Tentunya semangat juang Gajahmada tidak semerta-merta disambut gembira oleh seisi istana. Justru seisi istana dibuat gempar karena Sumpah Palapa.

Ada yang bergemuruh bertepuk tangan karena kecakapannya namun adapula yang mengejek dan mencemooh karena dianggap Sumpah Palapa dibuat oleh Gajahmada itu terlalu tinggi impiannya. Namun apa yang dilakukan oleh Gajahmada, ia membuktikan bahwa suatu saat nanti yang berhasil menggapai impian dan cita-citanya dan butuh 21 tahun bagi Majapahit untuk menaklukkan seluruh nusantara agar berada dibawah satu komando yaitu Majapahit. Tepatnya pada tahun 1357 M barulah Majapahit menuntaskan penyatuan nusantara.

Hendaknya semangat juang dari Majapahit ini kita petik diera milenial sekarang, bahwa dalam mewujudkan impian itu butuh kerja keras apabila kita ingin menyampaikan impian kita, mewujudkan impian kita itu buruh impian yang sangat pesat. Bahwa kita hendaknya jangan jumawa jika impian kita belum terpenuhi.

Sumpah Palapa juga digaungkan oleh Sumpah Pemuda, oleh putra-putri bangsa kita terdahulu yang jatuh pada 28 Oktober 1928. Sesuatu hal untuk menyatukan bangsa kita agar kita semakin raket persaudaraan antar wilayah, agar perekonomian kita semakin kuat dan  tidak mudah dijajah oleh bangsa asing. Maka, segala bentuk penghancuran dari bangsa itu dimulai dari penghianatan rakyat kita sendiri.

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, bahwa musuh yang terbesar adalah rakyat itu sendiri. Rakyat yang mabuk akan budaya asing, yang kecanduan agama, yang rela membunuh demi menegakkan bangsa asing.

Oleh sebab itu, kita sebagai penerus generasi kita terdahulu yang begitu menumpahkan darah, keringat dan air mata untuk mempersatukan dan memperkuat bangsa kita maka kita saat ini cukup menjaganya saja tanpa harus menumpahkan darah apalagi air mata.

Cara dengan menegakkan agama yang moderat, dengan menjalankan agam yang moderat. Agama moderat adalah yang menaruh agama didalam hati sendiri tanpa harus mengusik keyakinan orang lain. Agama yang moderat adalah agama yang terbuka kepada kemajuan zaman yang memiliki nilai positif untuk diri sendiri dan bangsa. Agama yang moderat adalah agama yang mencintai agama leluhur sendiri tanpa harus ikut budaya asing.

Maka dengan demikian, kita akan semakin raket antar wilayah-wilayah tidak saling membuli antar suku, ras, agama. Tidak saling menyentil keyakinan orang lain karena kita telah menjunjung tinggi ketuhanan didalam hati nurani kita.

Ida Bagus Egi Dananjaya, S.Sos, Pelita Dharma Bimas Hindu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed