by

Kemanusiaan dalam Sejarah Filantropi Islam

Kabar Damai I Miggu, 12 September 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Manusia adalah makhluk sosial yang memang sudah Allah berikan akal dan fikiran serta hati yang kemudian akan selalu peka terhadap keadaan. Dalam berbagai situasi, manusia yang juga merupakan makhluk sosial akan saling membantu dan menderma kepada manusia yang lain.

Praktik ini disebut dengan filantropi. Prof. Amelia Fauzia, M.A., Ph.D menjelaskan lebih jauh tentang filantropi melalui live bersama Cak Nur Society.

Diawal penjelasnnya, ia mengungkapkan filantropi secara bahasa. Menurutnya, filantropi ialah cinta terhadap kemanusiaan.

“Memilih kata filantropi maka sangat kental makna kemanusiaannya, jadi filantropi dari kata Filos dan Antropos. Filos artinya cinta dan Antropos artinya kemanusiaan sehingga cinta manusia atau kemanusiaan sehingga sangat kuat dari makna itu sendiri,”. Ungkapnya.

Lebih jauh, ia juga memberikan contoh dalam praktif filantropi khususnya dalam Islam.

“Filantropi dalam praktiknya seperti memberi, menderma kepada sesama dan ada solidaritas sebagai manusia kepada sesama. Bentuknya bermacam-macam, walaupun sejarah filantropi Islam biasanya merujuk pada tiga besaran seperti zakat, sedekah dan wakaf,” imbuhnya.

Menurutnya, zakat dalam fiqih banyak aturan-aturan dan tatacara serta menjadi kewajiban bagi muslim. Sedekah adalah derma yang volunteri atau sukarela, tidak ada batasan-batasan harus kapan dan wakaf terdapat aset yang kemudian diletakkan kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Kemanusiaan dan Perdamaian

“Dalam kategori sedekah tidak hanya sekedar memberi uang atau barang, namun juga praktik-praktik yang sangat dekat dengan ajaran Islam tapi dari sisi sosial ekonomi ada nilai kedermawanan,” tuturnya.

Berhubungan dengan denapa ada stressing kemanusiaan dalam filantropi, karena ada backround  yang ada anggapan jika zakat atau kedermawanan dari muslim hanya untuk muslim saja. Praktik ini yang juga merupakan hasil penelitian diluar Indonesia juga melihat hal yang sama. Terlihat bahwa komunitas muslim sangat eksklusif, namun sebenarnya tidak demikian.

Ia menjelaskan, anggapan itu dilihat secara sekilas dan ada beberapa lembaga atau organisasi yang beranggapan bahwa zakat hanya untuk muslim saja. Asumsi bahwa hal serupa hanya untuk muslim karena terdapat sejarah yang panjang,

Pertama, karena memang karena muslim adalah mayoritas dan lingkungan terdekat juga muslim sehingga secara kebiasaan zakat untuk muslim.

Kedua, karena ada sejarah panjang masa kolonialisme sehingga ada resistensi terhadap non muslim yang notabene saat itu penjajah kolonial. Itu yang akhirnya terbawa ke alam bawah sadar sehingga terbawa dalam teks dan juga praktik dan menjadi perdebatan hingga saat ini dalam lembaga-lembaga.

“Filantropi Islam adalah rahmatan lil alamin, justru jika merujuk pada sejarah awal Nabi dan sahabat mencontohkan bahwa filantropi Islam untuk semua yang membutuhkan,” terangnya.

Terakhir, filantropi yang digunakan dalam hal kemanusiaan dan menjangkau semua golongan serta memberikan manfaat yang lebih adalah bentuk filantropi yang luar biasa.

“Itu yang kemudian membuat upaya untuk memperkuat sisi kemanusiaan, jika solidaritas dan filantropi digunakan untuk kemanusiaan, pengentasan kemiskinan, inovasi yang dilakukan oleh filantropi sangat luar biasa sehingga tidak ada lagi kesangsian didalamnya,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed