by

Kemahiran Berbahasa Indonesia Menunjukkan Jati Diri dan Kemartabatan

Kabar Damai, Minggu 11 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Pada 29 Januari 2021, Kemendikbudristek RI Nadiem Anwar Makarim baru saja meluncurkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) versi terbaru yang berjudul UKBI Adaktif Merdeka, penggunaan kata merdeka pada peresmian ini menurut Endang Aminudin Aziz, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Kemendikbudristek, (25/5/2021) menyatakan karena berkorelasi dengan merdeka belajar sehingga dirasa perlu untuk turut andil dalam program tersebut salah satunya melakukan transformasi dalam UKBI itu sendiri.

Bentuk baru UKBI yang adaptif dikaitkan dengan merdeka belajar, disanalah keterkaitan antara transformasi UKBI adaptif menjadi sebagian program dari program merdeka belajar yang diharapkan punya kontribusi yang cukup khususnya Badan Bahasa secara relative.

Penggunaan bentuk adaptif dalam UKBI karena disesuaikan dengan kemahiran penguji sehingga soal yang diberikan tidak dipukul rata. Selain itu, dahulu UKBI dibedakan dalam penutur Bahasa Indonesia dan mereka yang belajar Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing, melalui bentuk adaptif ini kemudian kini menggunakan standar yang sama. Selanjutnya, disebut adaptif karena semua dilakukan secara online.

Berkaitan dengan UKBI ini, menurut Endang dari empat keterampilan berbahasa semua diujikan.

“Keterampilan berbahasa ada empat, menyimak, membaca, menulis dan berbicara itu semua diuji,”.

Baca Juga: Budaya Wayang Kulit Berbahasa Indonesia Dipertunjukkan di Jepang

“Tapi ada tambahan yaitu merespon kaidah, namun bukan perihal benar dan salah tapi mana yang paling pantas. Pendekatan ini kita kedepankan supaya orang bisa menilai tentang cara yang paling pantas dan pas,” ungkapnya.

Hingga kini, momok yang berkembang adalah pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan sulit dipahami, hal ini berpengaruh pada minat anak dalam belajar Bahasa Indonesia itu sendiri.

“Ada kesan bahwa Bahasa Indonesia sulit, kesan ini yang ingin kita hapus. Sehingga ketika orang dihadapkan pada model ujian Bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang menyenangkan,” tambahnya.

Implementasi Bahasa Indonesia yang baik tentu berdampak baik pada banyak hal diluar aspek kebahasaan. Termasuk saat nantinya dalam dunia kerja.

“Ditjen Vokasi akan menggunakan UKBI Adaptif di SMK dan Politeknik, UKBI ini merepresentasikan kualitas berfikir dalam berbahasa untuk kepentingan bekerjanya. Inilah yang dipotret oleh UKBI,” terang Endang.

Oleh karenanya pentingya UKBI, Endang mengajak masyarakat untuk melakukannya. Terlebih caranya sangatlah mudah.

“Bisa akses di ukbi.kemdikbud.go.id disana ada petunjuk dan ada contohnya. Mereka tinggal mendaftar dan memasukkan data, fotonya dipindai kemudian masuk dengan data yang dimiliki,” tambahnya lagi.

Pengembangan Literasi                  

Selain UKBI, fakta lain yang tak kalah penting adalah berkaitan dengan pengembangan literasi. Melalui UKBI dapat mendukung perkembangan literasi.

“UKBI ini adalah salah satu wujud untuk menguji hasil dari pendidikan literasi kita. Oleh karena itu betul-betul mengkampanyekan penggunaan UKBI ini sehingga bisa menjadi informasi yang sangat sahih terhadap kualitas pendidikan literasi kita,” kata Endang.

Berhubungan dengan literasi, selama ini yang selalu dijadikan ukuran adalah hasil bisa, hasil bisa itu memang tidak menggembirakan. Dari 76 negara kita selalu tahun-tahun terakhir ini selalu trennya belum baik.

Melalui tren literasi yang sudah dicanangkan sejak tahun 2016, Badan Bahasa menilai belum beranjak naik dan belum menggembirakan, jadi nilainya masih dibawah. Menurut Endang itu fakta dan tidak bisa dihindari.

Melalui program merdeka belajar, perlu keharusan mengubah sudut pandang tentang praktik literasi kita belakangan ini. Pertama, literasi menjadi program bersama tetapi tidak pernah bersama-sama dalam mensukseskannya. Kedua, tidak dikerjakan dari hulunya tapi justru yang ada tampak dihadapan seperti ketersediaan buku bacaan untuk literasi, kalaupun ada itu bukan jaminan adalah buku yang diminati oleh siswa. Oleh karenanya, itulah yang harus kita perbaiki.

Terakhir, menurut Endang berbahasa yang baik dan benar adalah bentuk kemartabatan. Oleh karenanya praktik implementasinya haruslah benar.

“Kita berbahasa menunjukkan jati diri dan kemartabatan kita. Ketika kita berbahasa dengan baik dan pantas salah satu ukurannya adalah UKBI. Oleh karena itu, mari kita gunakan UKBI ini secara sukarela untuk mengetahui sejauh mana kita bisa mengetahui tingkat kemahiran berbahasa kita,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed