by

Kekristenan yang Hampa

Oleh: Pdt. Robertus Sela, M.Th. (Sekretaris Umum Sinode Gereja Gerakan Pentakosta)

Bapak ibu yang dikasihi Tuhan. Refleksi pekan ini akan membahas Firman Tuhan dalam Matius 7:15-23 sebagai berikut:

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!   akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan. Survei yang dilakukan George Barna menyebutkan, bahwa ada 66% orang Kristen zaman sekarang menolak absolut moral truth atau moral absolut yang ada. Yang menjadi pertanyaan atau keprihatinan kita, mereka yang menolak absolut moral truth ini kebanyakan adalah generasi muda, berumur 18-25 tahun. Kekristenan zaman sekarang seperti George Barna katakan adalah kekristenan atau gereja menjadi seperti dunia, tidak ada perbedaan antara gereja dengan dunia.

John Stott mengatakan bahwa memang gereja menjadi luar biasa, banyak dan besar, namun banyak yang dangkal. Ini membuktikan bahwa, aktivitas kegiatan, aktivitas ibadah bahkan gereja banyak yang besar, banyak gereja yang ternyata luar biasa, tetapi kita lihat mereka memahami kekristenan begitu dangkal.

Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Dari teks yang dibaca, kita melihat di sana minimal ada 3 ciri kekristenan yang hampa. Pertama, punya jabatan tapi tanpa panggilan. Pada teks yang kita baca dikatakan secara tegas bahwa waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba. Nabi-nabi merupakan satu jabatan di dalam kekristenan, nabi-nabi merupakan hamba Tuhan yang terlibat dalam pelayanan. Tetapi Alkitab memberitahu bahwa ternyata mereka adalah nabi-nabi palsu yang menyamar seperti domba. Sesungguhnya mereka adalah binatang buas.

Baca Juga: Kita Bukan Penakluk Alam

Kita melihat tidak sedikit orang-orang Kristen yang terjebak dengan penampilan luar yang kelihatan hebat. Mereka terbius, tetapi nyatanya apa yang ditampilkan, yang diajarkan, yang disampaikan, tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Mereka sepertinya terlihat mengajarkan Firman Tuhan, tetapi apa yang mereka ajarkan bukan dari prinsip kebenaran Firman Tuhan. Yang mereka ajarkan adalah filsafat-filsafat dunia dan hal-hal yang bertentangan dengan kekristenan. Mereka menyelewengkan kebenaran.

Mereka memiliki jabatan, namun tidak dipanggil oleh Tuhan. Sehingga, panggilan yang seharusnya menjadi dasar pelayanan ternyata tidak ada. Survei yang menarik, gereja buka di mana-mana, hamba Tuhan banyak, sekolah teologi banyak, tetapi apakah sesuai dengan apa yang diajarkan Firman Tuhan?

Dari bacaan kita dikatakan, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

Kalau kita melihat di sana, ciri yang kedua ialah melayani tanpa pertobatan. Jelas di sana buah-buahnya tidak kelihatan. Seharusnya sebagai orang percaya, sebagai pelayan Tuhan, harus ada buah yang baik yang dihasilkan. Tetapi ternyata buah yang tidak baiklah justru yang dihasilkan.

Tantangan gereja saat ini adalah bagaimana orang-orang percaya, bagaimana hamba-hamba Tuhan, menghasilkan buah yang baik. Kita dipanggil di negara ini untuk menjadi contoh dan teladan. Kita ada di negara ini seharusnya menghasilkan buah-buah yang baik. Menariknya, tidak sedikit orang Kristen atau hamba Tuhan yang memiliki aktivitas kegiatan pelayanan, tetapi pelayanan tanpa pertobatan. Tidak ada pengajaran yang baik dan benar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Hal ini ditandai dengan hilangnya Injil dari dalam gereja dan diganti dengan new psychology. Juga ditandai hilangnya kekudusan di dalam gereja yang digantikan dengan adanya kompromi. Ibadah yang sejati di dalam gereja diganti dengan hiburan atau entertainment. Itulah yang terjadi ketika melayani tanpa pertobatan.

Ciri yang ketiga adalah pengakuan tanpa relasi. Mengaku percaya Yesus adalah Tuhan, mengaku orang Kristen, mengaku melayani Tuhan, tetapi tidak ada relasi dengan Tuhan.  Tuhan tidak mengenal dia karena apa yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan panggilannya, tidak sesuai dengan identitasnya. Tuhan hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuannya. Pengakuan nama Tuhan hanya digunakan untuk mencapai tujuan pribadi, ambisi pribadi, maka kata Tuhan enyahlah, Aku tidak mengenal kamu. Mengaku percaya Yesus, mengaku anak Tuhan, mengaku orang gereja, mengaku melayani Tuhan, tetapi Tuhan tidak kenal. Inilah yang ciri yang ketiga yaitu pengakuan tanpa relasi.

Yesus berkata kepada kita bahwa kita adalah ranting yang menempel pada pokok anggur, yaitu Yesus sendiri. Supaya makanan yang bergizi dan nutrisi-nutrisi yang baik bisa disalurkan kepada ranting-rantingnya dan menghasilkan buah yang baik. Tetapi sangat miris, kita melihat ada orang yang melakukan mujizat, ada orang yang memanggil nama Tuhan, ada orang yang mengaku Kristen namun ternyata tidak memiliki relasi dengan Tuhan.

Berkenaan dengan Firman Tuhan pada hari ini, Kekristenan yang hampa dicirikan dengan tiga hal, yaitu: jabatan tapi tanpa panggilan, melayani tanpa pertobatan, dan pengakuan tanpa relasi. Amin

Pdt. Robertus Sela, M.Th. (Sekretaris Umum Sinode Gereja Gerakan Pentakosta)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/kekristenan-yang-hampa-dlkea

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed