by

Kegiatan Keagamaan di Zona Merah Kembali Ditiadakan

Kabar Damai I Jumat, 18 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan Surat Edaran (SE) No. 13 tahun 2021 tentang Pembatasan Pelaksanaan Kegiatan di rumah ibadah. Hal tersebut dilakukan sebagai panduan upaya pengendalian dan pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19.

Yaqut mengatakan, dalam satu bulan terakhir kasus Covid-19 melonjak tajam serta munculnya virus varian baru. Akan hal itu Yaqut menegaskan bahwa Kementrian Agama mendukung upaya Pemerintah dalam pencegahan Covid-19 dengan mengeluarkan surat edaran yang mengatur tentang pedoman pembatasan kegiatan keagaamaan di rumah ibadah.

Yaqut berharap, umat beragama bisa menjalankan aktivitas ibadah sekaligus terjaga keselamatan jiwanya dengan cara menyesuaikan kondisi terkini di wilayahnya. Menurutnya surat  tersebut mengatur tentang larangan sementara untuk berkegiatan keagamaan di rumah ibadah yang masuk dalam zona merah hingga wilayah tersebut dinyatakan aman dari penyebaran Covid-19.

“Kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan, seperti pengajian umum, pertemuan, pesta pernikahan, dan sejenisnya di ruang serbaguna di lingkungan rumah ibadah juga dihentikan sementara di daerah zona merah dan oranye sampai dengan kondisi memungkinkan,” terang Menag, seperti dikutip dari beritasatu.com (16/6).

Baca Juga: Meditasi, Rahasia Tenang di Tengah Pandemi

Menag menandaskan, kegiatan peribadatan di rumah ibadah di daerah yang dinyatakan aman dari penyebaran Covid-19, hanya boleh dilakukan oleh warga lingkungan setempat dengan tetap menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.

“Untuk teknis pelaksanaannya, Kementerian Agama sudah mengatur hal tersebut melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE 1 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Rumah Ibadah,” ucapnya.

Kepada jajarannya di tingkat pusat, Menag juga minta untuk melakukan pemantauan pelaksanaan surat edaran ini secara berjenjang. Demikian juga para kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemag) provinsi, lepala Kantor Kemag kabupaten/kota, kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan, penyuluh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan keagamaan, dan pengurus rumah ibadat juga diinstruksikan melakukan pemantauan.

“Lakukan koordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah dan Satuan Tugas Covid-19 setempat,” tandasnya.

MUI Imbau Umat di Zona Merah Ibadah di Rumah

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Masduki Baidlowi meminta kepada umat Islam untuk tidak beribadah dengan melibatkan banyak orang, seperti di masjid atau musala yang berada di zona merah dan oranye risiko penularan Covid-19.

Hal itu ia sampaikan mengingat lonjakan penularan virus corona kembali terjadi di Indonesia belakangan ini.

“Sekali lagi bahwa fatwa MUI tentang kedaruratan kita beribadah tetap berlaku dan hendak dilaksanakan, terutama di zona merah, oranye, kuning. Misalnya jemaah tak berjemaah dulu di masjid. Salat tetap berjemaah di rumah biar aman,” kata Masduki kepada CNNIndonesia.com, Rabu, 16 Juni 2021.

MUI sendiri sudah mengeluarkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Salah satu poin dalam fatwa itu mengatur agar umat Islam tak menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak di tempat umum di wilayah yang kondisi penyebaran virus corona tidak terkendali, karena diyakini dapat menjadi sarana penyebaran Covid-19.

Masduki meminta agar fatwa tersebut tetap menjadi pedoman dan dijalankan oleh seluruh umat Islam di Indonesia.

“Kondisi ini memang parah dan masih akan lama. Jangan kita lengah dengan keadaan. Kalau kita lengah dengan keadaan, kondisinya makin mengkhawatirkan,” kata dia.

Selain itu, dilansir dari CNNIndonesia.com, Masduki menegaskan tak beribadah sementara di tempat-tempat umum saat pandemi tak akan mengurangi pahala dan ajaran agama. Bahkan, kata dia, kegiatan beribadah di rumah masing-masing justru melaksanakan ajaran agama seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW saat terjadi pandemi.

Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah memperingatkan umatnya untuk tidak masuk ke wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya, umat dilarang keluar jika berada di tempat yang terkena wabah.

“Jangan hanya memahami ajaran agama itu misalnya beribadah di masjid afdol, iya itu afdol kalau itu dalam kondisi normal. Nah, kalau enggak normal keafdolan itu hilang, malah bahaya,” tandas Masduki.

Tingkatkan Penerapan Protokol Kesehatan

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Kartikasari Broto Asmoro mengatakan, saat ini rumah sakit penuh pasien Covid-19. Varian baru virus Covid-19 juga makin banyak beredar.

Menurut dr Reisa, dampak Covid-19 bisa berbeda-beda terhadap tiap orang. Ada yang tidak bergejala, namun beberapa pasien menjadi kritis dan fatal.

“Jangan ambil risiko, lindungi diri untuk lindungi keluarga dan orang terdekat kita. Jangan pertaruhkan kesehatan diri dan keluarga hanya karena lalai menerapkan protokol kesehatan,” tegas dr Reisa, Rabu, 16 Juni 2021, seperti dikutip dari BeritaSatu.com (17/6).

Dia menambahkan, bed occupancy rate yang tinggi bukan saja menandakan banyak daerah kembali ke zona merah atau risiko tinggi. Juga membuat penderita penyakit kritis lainnya, seperti jantung, sulit mendapatkan tempat perawatan yang layak. Susah mendapatkan perhatian lebih dari dokter spesialis yang merawatnya, dan membuat keluarga mereka khawatir karena berada di rumah sakit yang penuh pasien Covid-19.

Menurut panduan menekan risiko, lanjut dr Reisa, dikenal istilah “gas dan rem”. Peningkatan yang terus menerus seperti saat ini akan mungkin mengembalikan ke situasi pengetatan kegiatan masyarakat.

Jumlah absensi kantor yang dikurangi. Jam buka tempat usaha dikurangi dan beberapa kegiatan sosial budaya kembali diatur dengan ketat seperti dikurangi pesertanya. “Dan rencana sekolah tatap muka kemungkinan akan tertunda di wilayah zona merah,” kata dr Reisa.

Dia mengatakan, ada beberapa cara berkontribusi menekan laju penularan dan mengembalikan situasi kota dan kabupaten ke risiko rendah atau zona hijau.

Menurut dr Reisa, bagi mereka yang merasa kontak erat dengan pasien positif, segera laporkan diri ke puskesmas terdekat. Berani dites dan apabila positif, informasikan secara terus terang tentang siapa saja yang telah kontak erat dengannya selama beberapa hari ke belakang.

Pengendalian penularan saat ini bisa ditangani dengan 3T, tes, telusur, tindak lanjut dan terapinya atau dikenal juga dengan tes, lacak, dan isolasi.

Dia kembali menegaskan, isolasi mandiri bukan tanpa sepengetahuan orang lain. Lapor ke puskesmas dan tetap konsultasi dengan dokter. Konsultasi rutin dengan dokter dapat segera membantu pasien mendapatkan pertolongan dan perawatan.

“Terlambat dirawat dapat berisiko bagi keselamatan nyawa. Puskesmas dan dokter dapat membantu memberikan informasi ketersediaan ruang rawat inap di rumah sakit atau memberikan rujukan ke karantina terpusat yang dibiayai pemerintah,” pungkas dr Reisa.

[republika/CNN Indonesia/BeritaSatu]

 

Penyuning: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed