by

Katong Samua Basudara

-Opini-125 views

Kabar Damai I Jumat, 26 Maret 2021

 

Oleh Hilary Syaranamual

 

Bulan Oktober 1993, pertama kali saya menginjakan kaki di tanah Maluku. Ketika itu saya baru menikah dengan Nyong Ambon, Reza Syaranamual. Dalam perjalanan ke Ambon itu

kami menggunakan kapal Pelni KM Rinjani. Memasuki Teluk Ambon, hamparan lautnya terlihat indah, belum nampak dicemari polusi maupun sampah.

Di Ambon, ternyata pada bulan Oktober cuacanya paling cerah. Laut tenang berkilau seperti kaca, dan lumba-lumba ketika itu berlompatan mengiringi kapal masuk untuk merapat ke Pelabuhan Yos Sudarso. Suatu hadiah manis dan indah bagi seorang pengantin baru

yang belum pernah menyaksikan keindahan alam di Maluku.

Walaupun saya sudah tinggal lebih dari sepuluh tahun di Indonesia, tepatnya di Malang, Jawa Timur, saya tidak tahu apa-apa mengenai budaya atau bahasa yang dipakai di Ambon. Sebelumnya Reza sudah memberitahu saya bahwa bahasa yang dipakai di Ambon sama saja

dengan bahasa Indonesia yang saya pakai di Malang.

Minggu-minggu pertama di kota ini kami pakai untuk mulai mengenal keluarga, termasuk mulai memahami bahasa yang ada di sekeliling saya. Oma (mama dari ibu mertua saya) tinggal di kawasan Waihaong. Kami sering mengunjungi beliau di kawasan tersebut dan mengenal para tetangga di sana. Saya juga ingat ketika pertama kali mencicipi papeda bersama dengan keluarga besar, persisnya ketika tete (papa dari bapak mertua saya) meninggal di Amahai, Pulau Seram.

Sebagian besar waktu kami dipakai untuk pelayanan penuh waktu di gereja. Maka pergaulan kami sering kali terbatas dengan warga gereja dan kebutuhannya. Namun kami juga bertemu dengan temanteman suami saya. Ada teman sekolah dari SD, SMP maupun SMA.

Lalu ada juga teman-temannya yang sama-sama bermain sepak bola dulu. Selain mereka, ada juga teman-teman Reza di kawasan Rumah Sakit Tentara (RST) Ambon. Saat Reza kecil, keluarganya mulai dari opa, oma, papa dan mama, pernah kerja di RS sehingga dia akrab dengan lingkungan tersebut.

Kami juga sempat pulang ke Desa Nolloth di Pulau Saparua yang merupakan kampung leluhur Reza. Ke Nolloth, kami bisa mengenal lebih dekat keluarga besar bapak mertua di sana. Kami juga sempat menonton acara “Pukul Sapu” di Mamala dan Morela sebagai satu

aspek budaya di Pulau Ambon.

Setelah cukup lama berdiam di Ambon, saya mulai mengerti bahwa bagi orang Maluku yang penting adalah identifikasi posisi seseorang dalam tatanan sosial. Orang tuanya siapa? Pernah tinggal di mana? Asal dari negeri mana? Pernah sekolah di mana? Kalau identifikasi itu sudah terjadi, maka seseorang akan bercerita dengan leluasa, sebab dia sudah mengerti latar belakang lawan bicaranya sebagai sesama orang Maluku.

Dalam suatu percakapan, jika baru pertama bertemu, selalu ada usaha untuk mengerti persis hubungan seseorang dengan yang lain. Kalau tujuan itu tercapai, maka semua yang terlibat dalam percakapan itu merasa nyaman. Setelah tinggal dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari di Maluku, saya menemukan bahwa rasa kekeluargaan di antara orang Maluku sangatlah kental.

 

Keresahan dari Malang

Pada bulan Mei 1998 kami berangkat ke Malang agar Reza bisa menyelesaikan studinya untuk mendapatkan sarjana penuh. Sesampainya di Malang, kota yang pernah saya huni selama beberapa tahun sebelumnya itu, ada rasa asing dalam diri. Sampai-sampai saya

ingin cepat balik ke Maluku. Saya sama sekali tidak ingat bahasa Jawa yang pernah saya gunakan. Mungkin karena selama sekian tahun di Maluku, saya menggunakan bahasa Ambon. Ini membuat saya agak susah berkomunikasi pada beberapa minggu pertama tiba di Malang. Kami mulai menyesuaikan diri lagi dengan situasi di Jawa Timur, tempat Reza kembali belajar di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.

Persis pada tanggal 19 Januari 1999, Reza menelepon ke Ambon untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada salah satu jemaat kami yang tinggal persis di depan masjid Raya Al-Fatah. Kami kaget ketika mendengar dari teman itu bahwa asap kelihatan di daerah Silale

dan rumah keluarga Nikijuluw sudah terbakar. Rumah itu tidak jauh dari rumah oma di Waihaong. Reza sudah sering main di rumah itu karena Heidy adalah teman sekolahnya dari TK sampai SMA. Mama juga adalah teman sekolah dengan ayahnya Heidy. Kami telepon ke

rumah di OSM untuk mengecek keadaan orang tua. Ternyata mama sedang berada di kawasan Soabali untuk mengucapkan selamat hari Lebaran bagi teman-teman di sana. Kami merasa tidak berdaya karena jauh di Malang dan tidak bisa buat apa-apa. Malam hari kami terima kabar bahwa mama bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Konsentrasi Reza untuk tetap melanjutkan studi rasanya agak mustahil. Berita-berita dari Ambon yang terus sampai ke kami membuat kami resah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang mengontrak rumah oma di Waihaong harus melarikan diri menyelamatkan diri.

Keluarga kami di Hunuth terpaksa mengungsi, dan salah satu saudara dikabarkan meninggal ketika dia mengemudikan truk untuk menjemput anak-anak yang saat itu melakukan retreat di lokasi tempat penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura (Unpatti) di dekat Desa Hila.

Setelah berada satu tahun di Malang, kami pindah rumah dan tinggal dekat kampus Universitas Merdeka (Unmer). Kepindahan ini terutama karena gereja tempat kami melakukan pelayanan meminta kami melayani mahasiswa. Di waktu bersamaan, saya juga diminta menjadi pembina mahasiswa Kristen di universitas tersebut. Ketika kami mulai berkenalan dengan mahasiswa di Unmer, ternyata cukup banyak dari mereka yang

berasal dari Indonesia Timur termasuk Maluku. Ada juga yang berdarah Maluku tetapi keluarganya berdomisili di Papua, atau daerah-daerah lain di Indonesia. Kami memutuskan untuk menjadikan rumah kami “open house” secara khusus bagi mereka para mahasiswa yang kami layani. Tidak itu saja, rumah itu juga terbuka bagi siapa saja yang mau singgah di situ.

Kami berusaha menciptakan suasana kekeluargaan supaya mereka yang merasa jauh dari orang tua bisa merasakan sedikit kehangatan saudara-saudara dari daerah yang sama. Lama-kelamaan bahasa yang dipakai di rumah kami adalah bahasa Ambon. Maka semua yang masuk pintu rumah kami mau tidak mau harus belajar bahasa Ambon, termasuk mahasiswa keturunan Jawa, Dayak maupun Batak, yang juga datang ke rumah. Pemikiran di balik kebiasaan ini adalah supaya kami semua yang tinggal jauh dari orang tua bisa mengungkapkan isi hatinya sendiri. Maka orang Sumba, orang Timor, orang Papua, orang

Toraja, Orang Manado dan orang Maluku, bisa berkomunikasi dengan lebih bebas.

Tujuan utama kami adalah pembinaan rohani. Harapannya, mahasiswa dapat menjadi lebih dewasa dan dapat menyelesaikan studi mereka, yang terganggu karena dampak dari kerusuhan. Mahasiswa ini sangat kuatir akan keluarga mereka, juga kiriman dana untuk studi dan kebutuhan sehari-hari mereka yang tidak lancar. Dengan bantuan dari saudara-saudara di Malang, maka karton-karton mie instan didrop di rumah. Ada juga dana yang kami salurkan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Selain kegiatan rohani, kami juga membina suatu vocal group yang sudah ada sampai kelompok ini bisa bermusik keliling Jawa Timur, bahkan pernah ke Denpasar, Palangka Raya, hingga sempat menghasilkan dua album rekaman, sekalipun untuk kalangan sendiri. Bagi mereka yang lebih suka olah raga, kami sempat membina suatu kelompok sepak bola yang pernah turut dalam kompetisi di Kostrad di Malang. Tujuan dari semua kegiatan ini adalah supaya semua tenaga disalurkan ke kegiatan yang positif.

Walaupun mahasiswa yang berasal dari Maluku cukup banyak, di Malang dapat dikatakan bahwa mereka bebas dari masalah yang berbau agama. Di rumah kami pun semua bebas datang dan berbaur. Masalah yang kami selesaikan biasanya adalah masalah pacaran dan masalah-masalah lain yang lazim terdapat di kalangan mahasiswa. Kalau ternyata berat, maka masalahnya diselesaikan suami saya merupakan seorang pendeta, bersama-sama dengan teman tentara yang berasal dari Ambon yang bertugas di Malang.

Hanya ada satu peristiwa yang terjadi di Unmer yang kami rasakan adalah rekayasa dari luar. Suatu hari mahasiwa Ambon lari ke rumah untuk memberitahukan kami bahwa ada seorang mahasiswa Kristen asal Ambon yang dipukul di gedung Fakultas Ekonomi oleh seorang mahasiswa Islam yang juga dari Ambon.

Situasi akhirnya dapat diatasi tanpa ada penggalangan massa. Ternyata pemukulan itu merupakan balasan setelah seorang mahasiswa Ambon yang beragama Islam dipukul terlebih dahulu oleh seorang mahasiswa Ambon beragama Kristen. Setelah diselediki ternyata orang itu sudah lama tidak kuliah, dan kami bingung kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu. Masalah ini kemudian mau dibesar-besarkan di Badan Eksekutif Mahasiswa karena laporan ormas dari luar kampus.

Kami tidak terlibat langsung dalam proses penyelesaian masalah tersebut di kampus, tapi kami sempat memberi masukan kepada anak binaan kami di Unit Kegiatan Mahasiswa Kristen, agar melihat secara jernih akar masalahnya dan agar menyelesaikannya secara baik-baik. Akhirnya masalah itu reda, karena diakui bahwa kedua belah pihak sudah dirugikan dan tidak perlu diperbesar untuk menjaga kerukunan di kampus.

Walaupun kami tinggal di luar Ambon, dampak dari kerusuhan tetap terasa. Karena itu kami berusaha untuk menolong mahasiswa-mahasiswa, bukan hanya untuk tetap kuliah tapi juga untuk peduli sesama. Kami pernah melakukan pembinaan bagi 44 calon polisi asal Ambon yang ditugaskan mengikuti pendidikan di SPN Mojokerto. Mereka juga merasa jauh dari keluarga dan setiap akhir pekan ada beberapa yang datang tinggal dengan kami. Sebelum masa pendidikan mereka berakhir, kami diizinkan membuat sebuah retreat bagi mereka

di Pacet dan mahasiswa dari Unmer terlibat untuk mengarahkan para calon polisi ini.

Selama di Malang, teman-teman mahasiswa yang kami bina menjadi mahir menyeleksi dan mengatur pengiriman pakaian layak pakai yang kami terima dari kenalan-kenalan yang mau membantu saudara-saudara di Ambon. Walapun kami tinggal di Malang, perhatian kami tetap tertuju ke keadaan di Ambon dan kami berusaha untuk pulang ke kota ini pada saat tertentu.

Baca juga: Menjalin Hidup Damai Antar Manusia

Kesedihan di Ambon

Pertama kami pulang lagi ke Ambon adalah saat libur semester Juni 1999. Kami naik salah satu kapal Pelni dan tiba di pelabuhan Yos Sudarso. Pengalaman kali ini sangat berbeda dibanding pertama kali saya tiba di Ambon. Ada rasa senang karena ada kesempatan pulang

serta membawa bantuan berupa obat-obatan, pakaian dalam dan

pembalut wanita, bagi saudara-saudara di Ambon. Namun ketika berdiri di tangga kapal, kami merasa cemas. Ada kegetiran dan rasa takut mengiringi langkah kami menuruni tangga kapal. Perasaan itu muncul karena kami tidak tahu bagaimana kami bisa sampai di rumah.

Tidak ada yang menjemput. Kami juga takut salah naik kendaraan umum. Saya merasa sedih mengingat suami saya pulang ke tempat asalnya tapi tidak merasa tenang.

Selama di Ambon kami coba mengerti situasi yang sebenarnya. Karena saya “kulit putih”, rasanya tidak bijaksana untuk langsung mengunjungi tempat tertentu karena warna kulit saya mungkin mengundang perhatian orang yang tidak mengenal kami. Ketika itu

jalan masih terbuka sampai di kawasan Waihaong dan kami rindu bertemu tetangga-tetangga yang masih tinggal di sana. Reza masuk di gang terlebih dahulu untuk melihat situasi. Jika dia merasa situasi di situ aman, maka kami berdua menuju “rumah tua” oma.

Keluarga-keluarga yang tinggal di dekat rumah itu sangat senang melihat kami. Mereka memeluk kami dan mengangis terharu setelah mengetahui bahwa kami mau mencari mereka. Sempat ada warga pendatang yang mempertanyakan kehadiran kami. Namun tetangga lama kami itu itu langsung memberitahu bahwa kami adalah keluarga

mereka. Kami masuk ke dalam rumah dan saling berbagi cerita. Mereka menjelaskan apa yang terjadi di sekitar “rumah tua” kami. Meski kami memeluk agama yang berbeda, tapi itu sama sekali tidak menjadi penghalang untuk menikmati kehangatan kehidupan orang

basudara di Maluku.

Waktu kedatangan itu kami sempatkan untuk mengumpulkan beberapa teman dari kalangan medis, guna mengatur pengobatan massal pada Sekolah Calon Tamtama (Secata) TNI AD di Suli. Bersamaan dengan itu, kami membawa bantuan dari teman-teman di

Malang untuk dibagikan ke pengungsi. Semua pengungsi di tempat itu dilayani tanpa memandang latar belakang agama maupun sukunya. Tujuan kami adalah membantu sesama orang Maluku, dengan tidak memperhitungkan kepercayaan maupun asal sukunya.

Kedatangan kami berikutnya ke Ambon menumpang pesawat Hercules yang diterbangkan dari Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang. Semua adminstrasi sudah diselesaikan beberapa hari sebelumnya, dengan seorang petugas datang ke rumah dan memeriksa KTP-KTP kami. Pembayaran juga sudah dilunasi sebelum pemberangkatan kami.

Ketika kami sampai di Lanud dan sedang mengantri agar barang kami ditimbang, seorang petugas intel mendekati kami dan mengatakan kami tidak boleh berangkat karena saya merupakan ancaman bagi kestabilan di Ambon. Alasannya karena saya “kulit putih”. Saya sedikit bingung sebab kartu keluarga, KTP dan SIM saya adalah dari Ambon. Yang menarik, beberapa detik setelah itu, seorang petugas yang lain datang dan menyuruh kami bersiap-siap. Jika kami diberi sinyal, maka kami harus cepat lari ke pesawat. Kami sudah bayar sehingga jika kami tidak berangkat mereka harus mengembalikan uang kami.

Kami akhirnya berangkat dan terbang lewat Yogyakarta, Makassar dan akhirnya mendarat di bandara Pattimura Laha, Ambon. Ketika itu ada pergantian Paskhas AU dan kami melihat beberapa aparat berdiri di gunung dengan senjatanya diarahkan ke bandara. Teman-teman

yang mau mejemput kami terlambat datang. Kami takut sebab tidak tahu bagaimana caranya keluar dari bandara jika tidak dijemput. Setelah lama menunggu akhirnya jemputan pun datang. Selanjutnya kami pun belajar bagaimana naik speed boat ke kawasan Gudang

Arang, baru naik oto penumpang ke rumah.

Setiap kali pulang ke Ambon, kami berusaha bertemu dengan keluarga dari mahasiswa yang ada di Malang. Tujuannya supaya keluarga mereka mengetahui bahwa ada orang dewasa yang memperhatikan anak-anak mereka di sana. Ketika situasi Ambon sudah mulai pulih, sekitar tahun 2003 kami pulang dengan vocal group yang kami bina untuk menghibur para pengungsi. Kami pun mengantar salah satu mahasiswa dari Waai untuk bertemu kembali dengan kakek dan neneknya yang ada di pengungsian Kompleks Barito di kawasan Passo Ambon. Di waktu yang lain kami mengunjungi keluarga ini setelah orang Waai pulang ke negeri mereka, sementara waktu itu sebagian besar orang masih takut melewati negeri Tulehu. Orang-orang heran ketika mendengar soal kunjungan kami ke negeri Waai. Kami pun menjelaskan bahwa mereka tidak perlu takut jika mau jalan melewati negeri Tulehu yang mayoritas warganya Muslim itu.

Setelah kami lihat Ambon makin kondusif dan hampir semua mahasiswa yang kami bina sudah wisuda, maka kami putuskan untuk kembali ke Ambon. Kami juga memutuskan untuk bekerja freelancemembangun Maluku daripada terikat dengan satu jemaat saja.

 

Tali Persaudaraan

Banyak hal yang bisa diceritakan, tapi saya mau fokus ke pemulihan kehidupan persaudaraan di Maluku. Yang saya perhatikan, setelah kami kembali tinggal di Ambon, ada usaha dari banyak pihak untuk merajut kembali tali persaudaraan yang hampir putus. Reza dulu sekolah di SMP 3 dan SMA 1. Ia dan teman-temannya mulai saling mencari satu dengan yang lain. Ada teman yang hilang dari peredaran dan tidak tahu rimbanya setelah terpisah karena kerusuhan di Maluku. Dia kemudian dicari semua temannya sampai akhirnya ditemukan kabar beritanya di kawasan Bekasi Jakarta. Semua bersukacita ketika diketahui bahwa teman itu ditemukan kembali. Reuni yang dilakukan oleh teman-teman SMP 3 sungguh mewujudkan kehidupan bersaudara di Maluku. Suasana hangat ketika reuni berlangsung sangat terasa dan usaha untuk bertemu, baik di Jakarta maupun di Ambon,

terus dilakukan.

Selain itu kami pernah terlibat di kalangan musisi dan di antara para wartawan. Kami diberi tanggungjawab untuk mengatur majalah anakanak Kacupeng. Walaupun majalah itu mengalami kesulitan untuk terbit secara berkala, tapi kehadirannya bertujuan mulia, yaitu agar anak-anak Maluku dapat mengerti budaya mereka, serta belajar untuk saling

menerima dan saling menghargai. Hal yang sama diwujudkan dalam komunitas fotografi yang dimulai dengan Perkumpulan Fotografer Maluku (Performa) dan belakangan menjadi Maluku Photo Club (MPC).

Kejadian tanggal 11 September 2011 membuat semua orang kaget dan rasa percaya satu dengan yang lain hampir hilang. Namun ada hal yang menarik bagi saya. Hari itu kami baru pulang dari Hotel Aston di Natsepa dan ketika kami melewati kawasan Batu Gantung, suasana terlihat sepi.

Setelah tiba di rumah beberapa menit kemudian, kami menerima pesan pendek (SMS) dari anak binaan kami yang berdomisili di Masohi. Dia menanyakan, apakah betul berita bahwa ada pertikaian di kawasan Waringin dan Batu Gantung? Segera sesudah itu kami menghubungi teman-teman dan baru tahu apa yang terjadi. Reza langsung balik ke arah kota untuk mencari tahu lebih jelas apa yang terjadi. Malam itu sampai pagi harinya, kami tetap kontak dengan teman-teman Muslim untuk memantau situasi, dan memberikan informasi yang jelas bagi mereka.

Bagi saya, gerakan akar rumput berusaha keras untuk memadamkan informasi yang tidak betul, dengan memberitakan informasi yang betul dan akurat. Gerakan seperti ini rasanya dulu tidak ada, tetapi sekarang hubungan orangbasudara lebih erat dan dapat menolong mengurangi rasa takut dan rasa curiga yang timbul ketika ada peristiwa yang tidak diinginkan.

Bagi saya, hubungan persaudaraan di Maluku terasa lebih baik dibanding beberapa tahun yang lalu, dan yang penting adalah rasa saling mempercayai yang dapat menghapus kecurigaan serta ketakutan yang timbul karena kejadian-kejadian yang muncul tiba-tiba. Sebagian orang Maluku sudah mulai mengerti nilai-nilai yang ditanam oleh leluhur mereka. Saya berharap dengan semakin mengerti nilai-nilai adat dan budayanya, kehidupan orang basudara di Maluku akan semakin indah. [ ]

Hilary Syaranamual, sarjana pendidikan dari Warwick Univer­sity United Kingdom (UK), dan M.A. Sejarah Gereja, Trinity College, Bristol UK, dan anggota Steering Committee Sister City Ambon – Vlissingen.

 

Sumber: buku Carita Orang Basaudara: Kisah-kisah Perdamaian dari Maluku (Editor: Jacky Manuputty,  Zairin Salampessy, Ihsan Ali-Fauzi,  Irsyad Rafsadi), Lembaga Antariman Maluku (LAIM) – PUSAD Paramadina, Jakarta, 2014.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed