by

Kata Alissa Wahid Tentang Keluarga Sebagai Penangkal Radikalisme dan Ekstrimisme

Kabar Damai I Jumat, 10 September 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Permasalahan di Indonesia sebagai negara yang besar dan juga majemuk sangatlah kompleks. Berbagai perbedaan dan juga keberagaman kentara di negara ini. Satu diantaranya berupa sifat dan atau sikap yang menganggap diri atau kelompoknya yang paling benar dan baik sehingga menganggap yang lain selalu dianggap salah.

Pola seperti tertulis diatas dapat menyebabkan terjadinya radikalisme dan juga ekstrimisme. Radikalisme adalah paham yang sudah ada sejak abad ke 18 di Eropa. Berkaitan dengan radikalisme biasanya berkaitan dengan mengharapkan suatu perubahan yang besar pada berbagai aspek kehidupan namun dilalui dengan cara-cara kekerasan. Hal semacam ini dapat menyebabkan aksi atau gerakan yang lebih besar atau ekstimisme.

Beberapa waktu kebelakang, permasalahan berkaitan dengan radikalisme dan ekstrimisme terjadi di Indonesia. Tidak hanya dilakukan oleh laki-laki dewasa namun juga perempuan dan juga anak-anak turut menjadi pelakunya.

Berkaitan dengan anak-anak sebagai pelaku yang sifatnya radikal dan ekstrem tidak menutup kemungkinan hanya mendapatkan faham dari luar namun juga bisa pula dari orang tuanya.

Allisa Wahid sebagai coordinator Gusdurian melalui webinar bersama pada kanal Cak Nur Sociaty menanggapi hal tersebut. Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa Gusdurian turut sadar dengan permasalahan tersebut sehingga memiliki program khusus untuk terlibat menjadi bagian pencegahan.

“Gusdurian punya program pendampingan orang tua untuk pencegahan ekstimisme dengan kekerasan, menjelang pandemi Gusdurian melatih orang tua untuk melatih dirinya karena potensi sangat tinggi untuk anak-anak muda direkrut,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, ada dua cara yang dapat dilakukan khususnya orang tua dalam proses pemahaman diri dan pendekatan kepada anak muda.

“Yang pertama, orang tua harus mengenal dirinya sendiri. Karakter diri dan pasangan seperti apa, punya hierarki nilai  yang jelas. Prinsip dalam hidup yang paling penting perlu diperjelas,”.

“Kedua, Gusdurian melatih bagaimana menjalin hubungan dengan anak remaja karena orang tua perlu faham bagaimana remaja itu, jangan semua dipertentangkan dan berkelahi,” jelasnya.

Menurut Allisa, anak remaja yang membuat orang tua kesal berarti ia tumbuh sesuai dengan dirinya. Jika remaja menurut seutuhnya tanpa adanya kritis, justru terdapat problem disana dalam tumbuh kembangnya.

Orang tua jangan sampai takut jika anak berbuat salah. Namun, ketika anak salah peranan orang tua dalam mengingatkan dan mendidik sangat penting. Melalui pendekatan yang baik justru anak akhirnya tidak takut untuk mengakui kesalahannya dan diwaktu yang lain melalui komunikasi tersebut, saat anak terpapar karena ajakan dari berbagai pihak ia tidak takut untuk mendiskusikannya kepada orang tua.

“Selain itu, orang tua juga perlu memperlihatkan diri sebagai sosok teladan. Jika ingin anaknya baik maka jadilah orang tua yang baik pula,” imbuhnya.

Baca Juga: Alissa Wahid: Agama Bukan Urusan Pemerintah Daerah, Agama adalah Perkara Absolut

Seorang peserta webinar bertanya dan menyatakan rasa pesimisnya berkaitan dengan orang tua yang dapat menjadi sarana pencegahan radikalisme dalam keluarga apabila terdapat suatu isu, hal ini karena sebagian besar orang tua konservatif dan sulit untuk diajak berdiskusi. Menanggapinya, Alissa mengungkapkan bahwa itu menjadi pekerjaan rumah namun tidak mungkin tidak  bisa dilakukan.

“Tafsir agama banyak orang tua yang awam sehingga tidak tahu, tetapi itu menjadi pekerjaan rumah bersama untuk kemaslahatan dapat dimasukkan oleh kelompok masyarakat sipil untuk membangun kerangka dasar kehidupan beragama,” tuturnya.

Peserta lain bertanya tentang tren eksistensi spiritualitas yang kemudian berpotensi diikuti banyak orang, seperti halnya remaja.

Alissa menanggap dan menyatakan dirinya sepakat bahwa ada kecenderungan spiritualistas dan bahwa ini ada kaitanya dengan mobilitas vertikal utamanya peningkatan kesejahteraan. Kalau orang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya makai akan masuk kekebutuhan yang paling tinggi yaitu kebutuhan eksistensinya.

Kebutuhan eksistensi berhubungan dengan transedental, kemudian karena kelompok-kelompok yang mempromosikan peningkatan spiritualitas juga bekerja dengan standar dominan dan masif. Sehingga kampanye pengukuran diri juga dilakukan dengan seberapa salehnya seseorang. Ini sifatnya ritual, sehingga anak-anak muda akan melihatnya dan menjadi sebuah tren.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed