by

Kasus Rasisme Harus Ditindak, Bijak dalam Berpendapat

Kembali muncul kasus rasisme di tanah air. Ambroncius Nababan, seorang politikus Hanura dilaporkan dengan dugaan melakukan tindakan rasisme melalui akun facebook pribadinya. Andy Yentriyani, Ketua Komnas Perempuan, mengecam tindakan yang melecehkan harkat kemanusiaan itu. Andy juga berpendapat bahwa rasisme masih mengakar di masyarakat, terbukti dari komentar yang muncul dari pernyataan Ambroncius.

“Kita perlu mengecam dan menghentikan sikap dan tindakan yang melecehkan harkat kemanusiaan, apalagi dengan sentimen rasisme. Perendahan dan sentimen rasisme ini kita temui di pernyataan awal AN dan sejumlah banyak komentar-komentar lainnya yang merespon pernyataan awal itu. Hal ini semakin membuktikan bahwa rasisme masih mengakar di tubuh masyarakat kita,” ungkap Andy.

Andy menambahkan bahwa perlu menemukan langkah yang tepat dalam menangani kasus ini. ia berharap agar tindakan rasisme tidak dibiarkan karena akan menghadirkan kerentanan pada perempuan.

“Kita perlu menemukan langkah yang tepat untuk mengatasi ini, selain aras penegakan hukum. Apalagi, kondisi ini bila dibiarkan akan menghadirkan kerentan tersendiri bagi perempuan pada diskriminasi & kekerasan yg berlapis: gender juga ras,” tambah Andy.

RA Gayatri W. Muthari, Aktivis ICRP, menanggapi kasus ini dengan mengajak setiap para pemimpin ataupun fifur masyarakat untuk bersikap bijak dalam menanggapi lawan bicara dan tidak menggunakan argumentasi yang tertuju pada karakter seseorang, baik di dunia maya ataupun dunia nyata.

“Dalam berdialog dan dalam kehidupan sosial, kita dan terutama sekali para pemimpin serta figur masyarakat seharusnya mengamalkan adab. Para pemimpin dan figur masyarakat seharusnya memberi contoh dalam bersikap arif bijaksana dalam menanggapi pendapat lawan bicara maupun orang lain, dengan tidak menggunakan argumentasi yang tertuju pada pribadi atau karakter seseorang. Terutama menyerang kepribadian seseorang itu secara suku bangsa, agama, ras, gender, difabilitas dan sebagainya,” papar mursyid tarekat Daudiyah ini.

Ia menambahkan, “Adab satu kemanusiaan yang mengandung paradigma kesetaraan gender, kesetaraan manusia, dan inklusi sosial harus menjadi dasar etika dalam berhubungan di antara kita. Baik itu di ranah publik di dunia nyata maupun dunia maya maupun di ruang domestik, di antara sesama anggota keluarga, kerabat dan sahabat kita,” tanas pendiri Generasi Hijrah Indonesia ini.

“Kita, termasuk Ambroncius Nababan, seharusnya mengkritik pendapat Natalius Pigai, dan bukan menyampaikan serangan yang secara semiotik, semantik maupun mimik dapat diartikan sebagai sikap yang mengabaikan kesetaraan manusia,” pungkasnya. [ ]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed