by

Karakteristik Pemimpin yang Baik Menurut Islam

Kabar Damai I Sabtu, 19 Juni 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Miftha Thoha dalam bukunya Perilaku Organisasi (1983:255) mendefinisikan pemimpin sebagai seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya.

Sedangkan Kartini Kartono (1994:33) menuliskan bahwa pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan. Khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Terlepas dari beberapa definisi pemimpin dari beberapa ahli. Islam mendefinisikan pemimpin sebagai seluruh manusia yang diciptakan Allah SWT di muka bumi ini. Pemimpin ada yang bersifat formal dan juga nonformal. Pemimpin secara formal berarti pemimpin yang bertugas berdasarkan surat dan memiliki aturan yang jelas dalam suatu organisasi.

Baca Juga: Karakteristik Pemimpin Ideal dalam Beragam Agama

Sedangkan pemimpin nonformal berarti pemimpin yang tidak harus memiliki surat keterangan dari lembaga atau organisasi. Cukuplah diakui dalam masyarakat dan memiliki tanggung jawab yang tinggi atas amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Berbicara mengenai pemimpin, pasti tidak akan lepas dengan istilah kepemimpinan. Semuil Tjihardi (2007:30) menuliskan perbedaan pemimpin dan istilah kepemimpinan. Menurutnya istilah kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu, kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan pemimpin. Sementara itu, istilah memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.

Dari pernyataan tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa pemimpin lebih condong dalam konteks orang, sedangkan kepemimpinan lebih menjurus kepada bagaimana cara seseorang tersebut dalam memimpin.

Dimanapun tempatnya, setiap pemimpin tetaplah harus memiliki sifat dan karakteristik kepemimpinan guna mengemban tugas dan tanggung jawabnya tersebut layaknya dituliskan oleh Sarlito Wirawan Sarwono yang ditulis ulang oleh Supriyadi dalam bukunya Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi, setidaknya terdapat 9 sifat dan karakteristik yang harus dimiliki seorang pemimpin, sebagai berikut:

  1. Tanggung jawab yang seimbang, yang berarti pemimpin harus memiliki kemampuan untuk dapat bertahan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan.
  2. Ada sesuatu yang diperjuangkan, dalam suatu kepemimpinan memang harus ada yang diperjuangkan. Baik berupa ide maupun gagasan bersama yang dapat digunakan guna memajukan organisasi atau lembaganya dalam bernaung.
  3. Pemimpin harus punya pengikut, tidak dapat dikatakan pemimpin bila ia tidak memiliki pengikut, karena adanya seorang pemimpin karena adanya yang dipimpin.
  4. Energi, berarti pemimpin harus mempunyai semangat dan dorongan untuk memperjuangkan cita-cita dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
  5. Kecakapan, Pendek kata, pemimpin harus setingkat lebih maju daripada pengikutnya.
  6. Kecerdasan, taraf kecerdasan seorang pemimpin harus cukup tinggi untuk dapat memahami, menganalisa, dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
  7. Karakter, pemimpin harus berkarakter dan berkepribadian kuat. Ia tidak berubah-ubah pendiriannya dan kata-katanya dapat dipercaya.
  8. Bersih, pemimpin harus memiliki itikad baik dan jujur. Ia tidak punya itikad lain selain memperjuangkan kepentingan kelompoknya.
  9. Simpati, dengan sifat simpati yang dimiliki oleh seorang pemimpin, ia dapat memahami perasaan pengikutnya. Ia tampil dengan sosok penuh simpati, disegani sekaligus akan dicintai bawahannya.

Untuk seorang pemimpin, tentulah tidak cukup hanya memiliki sifat dan karakteristik kepemimpinan. Seorang pemimpin juga sudah seharusnya memiliki akhlak yang baik sehingga dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik pula.

Seperti diriwayatkan dari Abu Zar Al-Ghifari Ra. Dia pernah bertanya pada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak hendak mengangkatku (untuk memegang suatu jabatan) ?’’. Lalu beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya berkata, “Hai Abi Zar, engkau ini lemah, sedangkan pekerjaan itu adalah amanah yang kelak pada hari kiamat akan dipertanggungjawabkan dengan resiko penuh kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang-orang yang melaksanakan tugas dengan baik’’ (HR.Muslim)

Jadi, sudah sewajarnya selain memiliki sifat dan karakter yang baik, pemimpin juga harus memiliki akhlak yang baik pula. HR. Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Zar Al-Ghifari Ra tersebut dapat dijadikan sebuah pelajaran bahwa pemimpin tidaklah diperkenankan hanya untuk mengejar kekuasaannya sendiri, karena sejatinya kelak pada hari kiamat apa yang telah kita kerjakan akan kita pertanggungjawabkan dan akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang pantas kita dapatkan.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed