Karakteristik Pemimpin Ideal

Religipedia290 Views

Kabar Damai I Kamis, 30 Desember 2021

Jakarta I kabardamai.id I Tiongkok bisa sukses karena dikelola oleh pemimpin yang disaring menggunakan sistem politik meritokrasi yang berakar dari filsafat konfusianisme.

Tiongkok bisa sesukses sekarang, seperti dituliskan dengan detail oleh Daniel A. Bell dalam buku The China Model: Political Meritocracy and the Limits of Democracy (2016), karena dikelola oleh pemimpin yang disaring menggunakan sistem politik meritokrasi alih-alih demokrasi.

Meritokrasi, merujuk pengertian KBBI daring, adalah “sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan, senioritas, dan sebagainya.”

Pemimpin Ideal dalam Ajaran Konghucu

Adapun meritokrasi yang diterapkan Tiongkok, masih menukil Daniel A. Bell, banyak bersumber dari pemikiran-pemikiran moralistis filsafat konfusianisme (rujia) yang terserak dalam kitab-kitab kuno semacam Li Ji, Shi Jing, Shang Shu, Yi Jing, Chun Qiu, Da Xue, Zhong Yong, Lun Yu, dan Mengzi. Dahulu kala, sembilan kitab yang kelak dijadikan sebagai kitab sucinya penganut agama Konghucu di Indonesia tersebut, merupakan kitab yang mesti dikuasai dan dihafal betul-betul karena bahan ujian kedinastian (keju) untuk menjadi birokrat negara diambil dari sana.

Baca Juga: Ragam Puasa di Berbagai Agama

Kedua, “memerintah dengan kebajikan” (wei zheng yi de), bukan “memerintah dengan kekejaman” (wei zheng yong sha). Untuk mengetahui seseorang bakal menjadi pemimpin yang mana dari dua kategori itu, Konghucu dalam kitab Lun Yu memberikan petunjuk begini: “Amatilah kesalahan macam apa yang pernah diperbuatnya di masa lalu, niscaya kau akan tahu orang macam apa dia itu” (guan guo, si zhi ren yi).

Ketiga, tidak omong besar, pelan kala berbicara, tapi tangkas saat bekerja. Alasan Konghucu sederhana: “Sulit sekali untuk merealisasikan apa yang sudah diomongkan” (wei zhi nan). Konghucu dalam kitab Lun Yu berkata begitu.

Berangkat dari premis demikian, Konghucu menegaskan, “Barang siapa yang tidak malu mengomong besar, akan kesulitan merealisasikan omongannya” (qi yan zhi bu zuo, ze wei zhi ye nan). Padahal, tutur Konghucu lagi, sebagai pemimpin, mestinya “malu kalau perkataannya melampaui perbuatannya” (chi qi yan er guo qi xing).

Karena itu, ia biasanya akan “bekerja terlebih dahulu, baru kata-katanya disesuaikan dengan apa yang sudah dikerjakan” (xian xing qi yan er hou cong zhi). Bukan malah sebaliknya. Dan, tatkala menyampaikan pendapatnya pun, ia akan “berbicara pelan-pelan bahkan terbata-bata, tetapi kemudian cepat-cepat mengambil tindakan nyata” (ne yu yan, er min yu xing).

Soalnya, apabila tidak buru-buru dikerjakan, ia paham bahwa “kuda tercepat sekalipun tidak akan mampu mengejar kata-kata yang sudah diucapkan” (si bu ji she).

Keempat, tidak mudah percaya, apalagi menyebarkan, hoaks. Konghucu berkeyakinan, “Orang yang bermoral, tidak akan mudah percaya dan menyebarkan hoaks” (dao ting er tu shuo, de zhi qi ye). Makanya, tetap dalam kitab Lun Yu, Konghucu menyeru agar hoaks atau “pemelintiran-pemelintiran harus dilawan untuk menghentikan mara bahayanya” (gong hu yi duan si hai ye yi).

Bagaimana agar tidak grusa-grusu memercayai, dan/atau menjadi penyebar, hoaks? Konghucu menyarankan, “Jangan berspekulasi, jangan haqqul yaqin pada satu informasi belaka, jangan ngotot, jangan sok benar sendiri” (wu yi, wu bi, wu gu, wu wo).

Kelima, tidak gampang emosi. Sebab, kitab Zhong Yong bilang, “Pemimpin budiman itu, tanpa memberi hadiah sekalipun, rakyat akan tetap saling menyemangati; tanpa marah-marah sekalipun, akan tetap disegani bahkan ditakuti rakyatnya seperti takutnya mereka pada senjata mematikan” (junzi bu shang er min quan; bu nu er min wei yu yue).

Terakhir, memperjuangkan pemerataan ekonomi. Konghucu beranggapan bahwa kesenjangan ekonomi akan menjadi penyulut konflik sosial yang berakibat fatal pada stabilitas nasional dan persatuan bangsa. Karenanya, Konghucu sangat tidak berkenan kekayaan cuma menumpuk pada segelintir orang belaka. Konghucu yang hidup pada masa ketika Tiongkok masih merupakan negara agraris yang pendapatan rakyatnya bersandar sepenuhnya pada hasil bercocok tanam, sampai-sampai mengecap orang yang “mempunyai banyak kepemilikan tanah” (huai tu) sebagai “orang yang tidak berperikemanusiaan.”

Pemimpin Ideal dalam Ajaran Islam

Maka dalam Islam, untuk menjadi seorang pemimpin hakekatnya harus memberi keteladanan. Seorang pemimpin harus memiliki karakter dan perilaku yang mencontohkan kebaikan. Perbuatan seorang pemimpin harus sesuai dengan apa yang telah diucapkan. Seorang pemimpin akan sangat sadar bahwa kepemimpinannya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Keimanan dan ketakwaan tentunya harus tercermin dari kesholehan akhlak pada manusia terlebih kepada Allah, harus tampak pula pada setiap kebijakan-kebijakan yang diambilnya apalagi berkaitan dengan urusan rakyat.

Kesholehan pribadi tercermin dari ucapan dan perbuatan yang selaras serta kebijakan yang tentu saja tidak menyalahi syariat agama. Bukan sekedar kesholehah yang dipoles pencitraan semata.

Menjadi seorang pemimpin adalah tugas yang penuh tanggungjawab yang harus diemban oleh orang yang memiliki kemampuan.

Dalam Islam ada aturan atau syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi seorang pemimpin yaitu muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka, dan mampu.

Seorang pemimpin harus menjadikan Rosululloh SAW sebagai teladan dalam menjalankan tanggungjawabnya, karena begitu berat amanah yang dipikul seorang pemimpin.

Rasululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya disisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil, sedangkan yang paling dibenci Allah dan sangat jauh dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.”(HR.Tirmidzi)

Maka jelaslah, pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang bukan hanya dinilai mempunyai spirit kenabian tapi mempunyai visi misi yang bukan hanya untuk dunia tapi juga jauh ke negeri akhirat. Pemimpin ideal adalah pemimpin yang mau menerapkan sistem yang datang dari Zat Yang Maha Sempurna dengan menerapkan seluruh hukum-hukum dan aturan-aturan yang datang dari Alquran dan As sunnah.

Pemimpin Ideal Menurut Buddhis

Seorang pemimpin yang memiliki integritas dapat dipercaya dan akan dikagumi karena berpegang pada nilai-nilai yang kuat. Dalam Lokasutta (Ittivutaka 122) Buddha menyatakan bahwa pemimpin yang kredibel adalah ia yang melaksanakan apa yang ia ajarkan, “Mereka yang melakukan apa yang mereka katakan dan mereka mengatakan apa yang mereka lakukan.”

Lalu seperti apa calon pemimpin ideal yang sesuai Buddhadharma?

Menurut Aganna Sutta (DN 27) definisi etimologis yang diberikan istilah ‘raja’ yaitu “Dhammena janam ranjetiti raja” berarti Ia yang membuat senang orang lain dengan Dharma, (dengan melaksanakan prinsip kebenaran) adalah apa yang dimaksud dengan raja.

“Seorang penguasa dunia adalah raja yang adil dan luhur yang tergantung pada kebenaran (Dhamma/Dharma), yang menghargai, menjunjung tinggi dan menghormati (Dharma)-nya dengan hukum kebenaran sebagai panji, kebenaran, dan kekuasaannya.

Dalam hal ini seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur adalah yang bergantung pada hukum kebenaran sebagai panji. Dalam Cakkavati Sihanda Sutta (DN 5) Buddha menjelaskan etika kepemimpinan dalam pemerintahan yakni:

Seorang penguasa yang baik harus bersikap tidak memihak, dan tidak berat sebelah terhadap rakyatnya. Ia tidak pilih kasih, Seorang penguasa yang baik harus bebas dari segala bentuk kebencian terhadap rakyatnya, Seorang penguasa yang baik harus tidak memperlihatkan ketakutan apapun dalam penyelenggaraan hukum jika itu dapat dibenarkan,

Seorang penguasa yang baik harus memiliki pengertian yang jernih akan hukum yang diselenggarakan. Hukum harus diselenggarakan tidak hanya karena penguasa mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan hukum, tapi dijalankan dalam suatu sikap yang masuk akal dan pikiran sehat.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *